Home Lintas Jateng Spesies di Gunung Lawu Terus Berkurang

Spesies di Gunung Lawu Terus Berkurang

Burung Gunung Lawu

Solo, 24/1 (BeritaJateng.net) – Kawasan hutan Gunung Lawu yang terus mengalami degradasi, yaitu hilangnya atau berkurangnya kegunaan atau potensi kegunaan lahan untuk mendukung kehidupan berdampak bagi kehidupan manusia juga mahluk hidup lainnya.

Menurut Puguh Karyadi, salah satu Dosen Ekologi/Lingkungan Hidup FKIP UNS degradasi lahan bisa mengakibatkan penurunan produktivitas lahan, berkurangnya bahan pangan dan bisa mengancam sumberdaya dan ekosistem dasar.

Banyak sekali faktor penyebab degradasi lahan hutan, bisa bencana alam seperti tanah longsor ataupun disebabkan ulah manusia manusia dalam mengekploitasi alam dan perusakan habitat flora dan faunanya.

Gunung Lawu yang memiliki ketinggian 3.265 mdpl ini, mengalami kerusakan mulai dari bagian tengah kawasan hutan banyak pepohonannya yang rusak bahkan kerusakannya sampai ke puncaknya.

“Kerusakan Lawu disebabkan banyak hal, karena penebangan liar (illegal logging), tanah longsor (landslide), kebakaran hutan (bush fire) dan perambahan hutan untuk pertanian (agricultural encroachment),” jelasnya di Solo Jawa Tengah, Sabtu (24/1/2015).

Bahkan Puguh menegaskan berdasarkan penenelitian indeks vegetasi Lawu yang dipetakan dari foto udara hasilnya kawasan Lawu dari sisi tumpuan vegetasinya sudah tidak memenuhi syarat yang baik sebagai daerah tangkapan air.

“Kerusakan hutan Lawu selain berakibat penurunan debit air tanah juga menyebabkan turunnya populasi tumbuhan dan juga populasi burung,” jelas Puguh.

Puguh yang juga banyak melakukan penelitian jenis-jenis burung yang ada di Gunung Lawu pada khususnya mengakui sebenarnya Indonesia memiliki keberagaman jenis burung yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia.

“Gunung Lawu sendiri pada tahun 2003 teridentifikasi ada 52 jenis burung. Saat ini tinggal di pantau saja dari 52 jenis itu akan bertambah atau berkurang,” jelas Puguh.

Dan yang paling dominan di gunung Lawu jelas Teguh adalah jenis burung Kutilang. Bahkan tahun 2006 lalu Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui Pusat Studi Biodiversitas mengusulkan Jalak Lawu yang memiliki nama latin Turdus Poliochephalus Stresemanni sebagai maskot untuk gunung Lawu. Karena pernah dianggap sebagai hewan endemik (khas atau asli) Lawu.

“Namun upaya tersebut gagal. Ternyata Jalak yang ada di gunung Lawu itu juga ditemukan di gunung Salak,” ujarnya.

Gunung Lawu sendiri ada satu jenis burung yang khas Jawa salah satunya adalah burung Cekakak Biru yang sudah jarang terlihat lagi. Jenis burung ini mampu mendeteksi kualitas air.

“Jika layak air untuk dikonsumsi maka burung jenis itu akan datang mendekat,” terangnya.

Selain itu terang Puguh, saat ini ada satu jenis burung yang sudah mulai sulit ditemukan. Namanya Betet. Populasinya dulu banyak sekali, di wilayah hutan Ngargoyoso. Namun sekarang sudah menghilang. Bahkan elang Jawa (hitam besar) seperti yang ada di Gunung Merapi juga susah ditemukan.

Banyaknya perburuan dan perdagangan, bisa menjadi sebab salah satu sebab kepunahan berbagai jenis burung di Indonesia. Selain itu rusaknya habitat asli hidup burung juga berpengaruh terhadap perkambangannya. Karena alih fungsi hutan oleh manusia merubah lingkungan alami (hutan) habitat burung.

Bahkan saat ini untuk melindungi habitat burung di kawasan konservasi hutan Balai Taman Hutan Rakyat (Tahura) KGPAA Mangkunagoro I telah melarang keras warga masyarakat berburu tumbuhan dan satwa di kawasan Tahura Ngargoyoso. (BJ24)