Home Ekbis Solar Turun Tak Pengaruhi Hasil Nelayan Tambak Lorok

Solar Turun Tak Pengaruhi Hasil Nelayan Tambak Lorok

1407

Semarang, 6/1 (BeritaJateng.net) – Turunnya harga bahan bakar motor (BBM) jenis solar dari Rp6.700 menjadi Rp 5.650 tak berpengaruh besar pada penghasilan tangkapan ikan nelayan Tambak lorok Semarang.

Ketika harga solar turun nelayan tentunya akan lebih leluasa dalam memanfaatkan BBM saat melaut dengan jam terbang yang lebih lama.

Turunnya harga BBM jenis solar kurang tepat dengan masa panen nelayan dalam melaut. Di sandaran kapal TPI Tambaklorok banyak kapal-kapal ukuran kecil bersandar tak melaut, sang pemilik lebih banyak memperbaiki jaring tangkapan dan memperbaiki kapal.

“Solar turun harga kita senang, sedikit bisa bernapas karena beban kita adalah solar selama melaut. Namun kita sudah sepuluh hari tak melaut karena memang sepi tangkapan, bukan karena gelombang tinggi,” ujar Puryani nelayan Tambaklorok.

Puryani, nelayan jenis kapal kecil menerangkan bahwa tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menangkap ikan-ikan kecil dan udang saja, karena memang jenis ikan di pantai Semarang tak sebesar di pantai lainnya di Pantura.

“Belum bisa menikmati turunnya solar, kita ingin melaut tapi tangkapan hanya udang saja saat ini, karena kemarin habis hujan lebat sehingga banyak udang yang menepi,” terangnya.

Puryani setiap harinya jika melaut membutuhkan 20 liter solar dengan waktu melaut sekitar 6 jam mulai pukul 5 pagi sampai 11 siang. Adanya penurunan harga solar ia bisa menambah jam melaut bisa sampai jam 12 siang atau 1 jam lebih lama untuk menagkap ikan.

Sementara itu berbeda dengan nelayan lainnya Bajuri, sama-sama dengan jenis perahu kecil, ia tetap melaut meski hanya mendapat sedikit tangkapan udang. “Masih mengandalkan udang, tapi cuma dapat 2-3 kg perhari. Lumayan dari pada tak melaut,” katanya.

Bajuri berharap, harga solar bisa didukung dengan kebijakan lainnya yakni tetap melegalkan menangkap dengan jaring pukat. “Setahu saya hanya kapal besar yang tak boleh dengan pukat. Kami nelayan kecil menangkap dengan pukat secara tradisonal dan dilakukan perorangan. Semoga kami tetap dilegalkan karena tak banyak menangkap ikan-ikan kecil dengan pukat,” tuturnya.

Dan salah satu nelayan pemilik jenis kapal besar, Ahmad Syueb, juga belum bisa menikmati turunnya harga solar. Ia lebih parah lagi lantaran masih mendaratkan kapalnya selama 3 bulan kedepan. “Kapal besar tak berani melaut mas, pasti tiang patah dan bisa oleng dan karam. Lagian ini belum musim ikan, kami istirahat sampai bulan Maret kedepan,” jelasnya.

Syueb yang juga Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Tiga Berlian Tambaklorok juga berharap kepada pemerintah, jika turunnya harga solar yang belum bisa dinikmatinya hendaknya dapat bertahan atau kalau bisa harga turun lagi.

“Musim panen ikan antara Maret sampai Desember, semoga harga solar bisa bertahan atau kalau bisa diturunkan lagi. Kebutuhan kami setiap melaut butuh 1 ton solar dengan menghasilkan 3 ton teri, cumi, udang dan ikan lainnya,” harapnya. (BJ)

Advertisements