Home Lintas Jateng SMP Percontohan Kurikulum 2013 di Grobogan Terancam Batal

SMP Percontohan Kurikulum 2013 di Grobogan Terancam Batal

image

Grobogan, 7/12 (Beritajateng.net)– Sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) baik negeri maupun swasta di Kabupaten Grobogan yang rencananya menjadi percontohan penerapan kurikulum 2013 (K-13) terancam batal. Hal itu dikarenakan adanya perubahan keputusan dan aturan dari Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan.

Penerapan kurikulum K-13 hanya akan dilakukan pada 6.221 sekolah. Dari jumlah itu, SMP hanya mendapatkan jatah 1.437 sekolah. Sedangkan untuk Kabupaten Grobogan yang menjadi percontohan kurikulum 2013 terdapat enam sekolah yakni SMPN 1 Gabus, SMP N 1 Tawangharjo, SMP N 1 Purwodadi, SMP N Wirosari, MTsYatma Karangrayung, dan SMP Walisongo Penawangan.

Keputusan Menteri Pendidikan tersebut belum dilakukan di Kabupaten Grobogan. “Sebenarnya, SMPN 1 Purwodadi sudah siap melaksanakanya. Namun jika tidak masuk dalam daftar sekolah yang menerapkan K-13, ya kita harus patuhi itu,” ujar KepalaSMP N 1 Purwodadi Budiyono, Minggu (7/12).

Ia mengatakan kesiapan dalam menjalankan kurikulum 2013 sudah diterapkan selama tiga semester sejak tahun lalu. Selain itu, perlengkapan serta Sumber Daya Manusia (SDM) guru juga sudah mumpuni. Terlebih lagi dalam kurikulum baru tersebut ada tiga penilaian kepada siswa. Yakni Afektif (sikap), ketrampilan dan pengetahuan.

“Jika dilihat dari tugas penerapan kurikulum 2013 memang lebih berat. Sebab, guru harus mengajar dan menilai sikap siswa. Sedangkan untuk kurikulum KTSP sekarang hanya menilai pengetahuan saja,” ujarnya.

Sementara itu, pencabutan kurikulum 2013 juga membingungkan beberapa kepala sekolah lainya. Sebab, semua guru sudah diberikan pelatihan dan pemberian buku materi tentang kurikulum baru tersebut di semua sekolah. Namun, dalam penerapan pendidikan anak belum bisa maksimal.

Kepala sekolah SMP N 7 Purwodadi Eddy Widodo mengaku, mendukung keputusan dari Kemendikbud untuk menghentikan sementara penerapan kurikulum 2013. Menurutnya, dalam penerapan kurikulum baru itu guru dan fasilitas sekolah belum siap.

“Memang dari konsep kurikulumnya bagus. Tapi karena waktu pelaksanaan dan pelatihan bersamaan, jadi kami merasa keberatan,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Kepala SMP N 2 Purwodadi, Lucas Suprijanto yang menilai penerapan kurikulum 2013 ke semua sekolah terlalu terburu-buru. Selain itu juga tanpa diberikan contoh penerapan dulu. Seharusnya penerapan kurikulum diterapkan kepada sekolah yang menjadi percontohan terlebih dahulu.

“Jika sudah berhasil dan siap, maka sekolah bisa mengikuti. Lah, kalau dari sekolah negeri sudah ada persiapan semua peralatan gak ada masalah. Bagaimana dengan sekolah swasta,”ujarnya. (DP/pj)