Home News Update SMP Multazam Semarang Adakan Pelatihan Guru

SMP Multazam Semarang Adakan Pelatihan Guru

Semarang, 24/12 (BeritaJateng.net) – SMP Multazam, Yayasan Al Ikhsan Pesantren Multazam Semarang mengadakan Pelatihan Guru di Green Valley, Bandungan, Kamis (24/12). SMP Multazam sendiri merupakan SMP yang berbasis Pesantren atau biasa disebut dengan ‘Islamic Boarding School’.

Sehingga menggunakan kurikulum nasional juga kurikulum pesantren yang meliputi pendidikan karakter, spiritual dan ilmu-ilmu agama seperti al qur’an, tafsir, hadits, nahwu, sharaf yang di dalamnya ada pelajaran bahasa arab, serta membaca kitab kuning dengan bagus dalam kurikulum yang terintegrasi tetapi tetap mengikuti kurikulum nasional sesuai dengan dinas pendidikan. Hal inilah yang disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Multazam, KH. Khamammi., S.Ag., MM saat diwawancarai usai acara.

“SMP Multazam juga sedang berjuang membuka tingkatan yang lebih tinggi karena ada permintaan dari masyarakat, terutama orang tua wali. Khususnya mereka yang memondokkan anaknya di pesantren ini,” ujarnya, Kamis (24/12) malam.

KH. Khamammi menginginkan santrinya minimal 6 tahun syukur bisa sampai kuliah masih di pesantren. Di SMP Multazam ada dua klasifikasi guru, yakni guru mata pelajaran dinas dan guru mata pelajaran kepesantrenan, totalnya ada 23 guru.

Acara Pelatihan Guru sendiri merupakan bagian dari Program Indonesia Mengajar, pelatihannya dengan metode outbond dan terapan.

“Dari kegiatan ini ada kreativitas guru-guru untuk bisa menjadi teladan dan memberi motivasi pada anak-anak di kelas nantinya,” imbuh KH. Khamammi.

Lebih lanjut KH. Khamammi menjelaskan tujuan pelatihan ini agar ada kekompakan. SMP Multazam mimiliki paradigma mendidik tidak harus terpacu pada yang kognitif saja, tetapi juga harus punya kreativitas untuk melahirkan karakter anak dari budi pekerti, serta melahirkan kreativitas dari bakat dan minat.

Sebagai pembicara sekaligus motivator dalam acara tersebut, Teguh Wibowo melihat ada banyak harapan pada diri guru-guru muda, ada hasrat untuk maju. Memajukan anak-anak bangsa melalui pembelajaran. Kegelisahan mereka tentang belum efektifnya dan ketidakpuasan terhadap sistem pembelajaran.

“Pelajaran sesungguhnya ada pada hasil pembelajaran itu bagi kehidupan siswa bukan hanya dari nilai raport. Sejauh mana pembelajaran itu berguna bagi anak-anak di masa depan. Itu lebih penting,” jelas Teguh usai menjadi pembicara dalam pelatihan ini.

Teguh menilai perbedaan besar pembelajaran formal dan pesantren ada pada penghormatan siswa kepada gurunya. Penghormatan siswa pesantren kepada kyainya sangat luar biasa, mencium tangan bisa sampai dua hingga tiga kali. Nasihat-nasihat kyai mampu menjadi energi positif.

“Dalam pendidikan formal ada beberapa kasus siswa tidak menghormati gurunya, dari sisi materi dan tujuan pembelajaran juga ada perbedaan. Sebaiknya memang saling melengkapi antara sistem pembelajaran di pesantren dan pendidikan formal,” tuturnya.

Menariknya dalam pendidikan pesantren, lanjutnya, tidak sekedar mengajarkan kognitif atau akademik saja tetapi juga mengajarkan tentang kehidupan. Teguh mengungkapkan hambatan terbesar ada pada lunturnya keteladanan dari keluarga dan lingkungan pada anak. Sulitnya mengajarkan kejujuran ketika ada banyak ketidakjujuran dan kasus korupsi. Apalagi jika ada orang tua yang terlibat kasus korupsi dan diketahui anak-anaknya.

“Jadilah guru-guru yang sebenar-benarnya, guru yang hanya menginginkan kemajuan anak didiknya. Apabila dari mengajar guru dapat rezeki itu merupakan konsekuensi tetapi bukan menjadi hal utama,” pesannya.

Sementara itu KH. Khamammi menilai bahwa penjelasan dari Pak Teguh banyak menyinggung keberhasilan anak bukan hanya pintar memilih jawaban pada lembar soal.

Ia berharap guru-guru semakin kompak, semakin loyal terhadap cita-cita dalam mendidik anak bangsa. Sehingga mereka semangat, termotivasi, lebih kreatif dan bisa mengintegrasikan kebutuhan anak dengan kurikulum yang ada.

Sementara itu, dari pihak Kepala Sekolah SMP Multazam, Dr. Ust. M. Nur Muiz Zakaria., S.Pd.I., M.Pd.I sangat mengapresiasi dengan adanya pelatihan ini, karena dapat memotivasi guru. Selain itu juga dalam rangka membahas dan mengevaluasi satu tahun kemarin apa yang menjadi kekurangan sehingga bisa diperbaiki.

“Biar guru lebih semangat dalam mengajar. Harapannya guru bisa berperan aktif dalam mengajar, serta dalam meningkatkan kreativitas anak terutama keimanannya dan kreativitas dalam kesehariannya,” ujar Kepala Sekokah ini usai acara.

Andi Irham Latif, selaku Ketua Yayasan, dan Operator Sekolah SMP Multazam juga sangat terkesan karena banyak terobosan-terobosan baru tentang bagaimana cara mengajar anak didik supaya tidak hanya menghafal materi tetapi juga bisa mengaplikasikan apa yang didapat. Sehingga nantinya timbul suatu kreativitas siswa berupa produk yang bisa bermanfaat di masyarakat. Andi berharap dengan adanya kegiatan ini guru-guru memiliki kreativitas dalam mengajar. (BJT01)