Home News Update Slamet Isworo Temukan Bakteri Pengurai Pestisida di Rawa Pening

Slamet Isworo Temukan Bakteri Pengurai Pestisida di Rawa Pening

Doktor ilmu lingkungan Universitas Diponegoro Semarang Dr Slamet Isworo menemukan bakteri pengurai pestisida yang ada di danau Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Doktor ilmu lingkungan Universitas Diponegoro Semarang Dr Slamet Isworo menemukan bakteri pengurai pestisida yang ada di danau Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Doktor ilmu lingkungan Universitas Diponegoro Semarang Dr Slamet Isworo menemukan bakteri pengurai pestisida yang ada di danau Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Semarang, 25/8 (BeritaJateng.net) – Doktor ilmu lingkungan Universitas Diponegoro Semarang Dr Slamet Isworo menemukan bakteri pengurai pestisida yang ada di danau Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

“Saya menemukan setidaknya ada tiga bakteri pendegradasi atau pemecah kandungan pestisida di Rawa Pening. (bakteri, red.) banyak terdeteksi di sana,” katanya, usai promosi doktoralnya di Semarang.

Direktur Utama Prisna Medica dan Komisaris Utama PT Mitra Adhi Pranata itu menyebutkan tiga bakteri yang dimaksud, yakni Oceanpbacillus iheyis, Exiquobacterium profundus, dan Bacillus formis.

Menurut dia, hasil identifikasi secara morfologi, biokomia, dan biologi molekuler menyatakan ketiga spesies bakteri baru itu memiliki kemampuan degradasi terbaik terhadap “Malathion” dan “Profenofos”.

“Kenapa saya meneliti Rawa Pening karena danau itu merupakan muara dari sembilan sungai. Bakteri ini merupakan kekayaan keanekaragaman hayati yang bisa dimanfaatkan secara lebih baik,” katanya.

Ia menjelaskan bakteri-bakteri pendegradasi atau pengurai pestisida memang membutuhkan makanan dari zat pembasmi hama yang biasa digunakan dalam pertanian atau bercocok tanam itu.

“Makanya, di mana ada bakteri itu (pendegradasi pestisida, red.) bisa dipastikan di tempat itu mengalami pencemaran pestisida, termasuk di Rawa Pening,” kata Slamet yang mendapatkan indeks prestasi komulatif 3,79 itu.

Penggunaan pestisida, kata dia, sangat membahayakan manusia karena dapat menyebabkan bioakumulasi dan biomagnifikasi hingga menimbulkan kanker, sampai kematian dalam paparan yang berlebihan.

“Bioakumulasi itu, misalnya, jika terpapar pada ikan akan terakumulasi pada jaringan ikan. Sementara, biomagnifikasi itu masuk rantai makanan, misalnya, ikan kemudian dikonsumsi manusia,” katanya.

Selain itu, kata dia, bakteri pendegradasi pestisida itu sangat bermanfaat untuk menetralisir kandungan pestisida yang ada di suatu tempat, terutama air sebagaimana yang ditelitinya.

“Kebetulan, saya konsentrasinya di kandungan pestisida pada air, bukan tanah. Dari hasil penelitian saya, ketiga bakteri ini sanggup mendegradasi pestisida dalam waktu 192 jam,” katanya.

Namun, ia mengatakan secara aplikasi terbatas yang dilakukan di laboratorium menunjukkan kemampuan degradasi pestisida dari ketiga bakteri yang lebih cepat, yakni hanya 72 jam.

“Saya gunakan konsentrasi pestisida 75 ppm (part per million) dengan bakteri sekitar tiga persen dari volume air,” pungkas Slamet yang judul disertasinya “Bioremidiasi Pestisida Golongan Organophospat (Malathion dan Prefonofos) oleh Bakteri Indigenous Terseleksi Dari Perairan Rawa Pening”. (Bj)