Home Lintas Jateng Situs Candi di Giriroto Peninggalan Masa Hindu Siwa

Situs Candi di Giriroto Peninggalan Masa Hindu Siwa

797
0
Salah satu lokasi penemuan situs candi Giriroto, Ngemplak Boyolali.

Boyolali, 8/4 (BeritaJateng.net) – Upaya penggalian lokasi temuan arca dan situs candi di Dukuh Gunung Wijil, Desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali kembali membuahkan hasil. Sebuah arca Mahakala kembali ditemukan di lokasi yang sama dengan dua arca sebelumnya.

Ketua Tim Penggalian BPCB Jateng,  M. Juwana, menjelaskan arca  Mahakala ditemukan di kedalaman 30 cm. Lokasi temuan kemungkinan dulunya ada komplek candi. Arca Mahakala berfungsi sebagai penjaga pintu candi pada masa kebudayaan Hindu Siwa.

“Ada tiga arca yang ditemukan sebelumnya. Kemungkinan masih ada arca lain yang masih terpendam. Biasanya candi memiliki delapan dewa penjaga pintu,” papar Juwana, Jumat (8/4/2016).

Juwana juga menyampaikan, berdasar kondisi candi, dan temuan arca juga lingga-yoni yang dalam  kepercayaan Hindu merupakan perwujudan dari Dewi Parwati dan Dewa Siwa merupakan masa kebudayaan Hindu Siwa.

Penggalian sendiri sudah mencapai kaki candi. Diperkirakan ukuran candi sepanjang 5 x 5 meter dengan tinggi kaki candi 1,5 meter. Kemungkinan ada dua candi yang saling berhadapan.  Salah satunya merupakan candi induk, sedang satunya lagi adalah candi perwara atau candi pendamping

Kepala Desa Giriroto, Purwanto yang di dampingi ketua DPC Ormas Projo yang sedari awal mengawal dan melaporkan penemuan situs candi tersebut berharap agar penemuan situs candi bisa mengangkat perekonomian bagi warganya.

Keduanya berharap temuan benda purbakala dan situs candi di desa leluhur Presiden Jokowi bisa dikembalikan pada pihak desa dan akan dikelola oleh desa.

“Rencananya lokasi tersebut akan di kembangkan sebagai desa wisata. Kita berharap desa Giriroto bisa lebih berkembang,” harap Purwanto.

Sementara itu Ketua Projo Solo, Tego Widarti menyebutkan pihaknya akan bekerja sama dengan desa mengembangkan potensi desa menjadi desa wisata. Sehingga bisa tingkatkan taraf hidup masyarakat yang selama ini tergantung hidupnya dengan sawah tadah hujan yang panen padi setahun sekali.

“Rencananya di lokasi tersebut nantinya akan dibuat tempat wisata, dibangun fasilitas publik, taman dan juga lokasi untuk pentas pertunjukan seni bagi masyarakat,” pungkasnya. (Bj24).