Home News Update Sigit Kritisi Kepemilikan PSIS Semarang

Sigit Kritisi Kepemilikan PSIS Semarang

Sigit Ibnu

Semarang, 21/9 (BeritaJateng.net) – Sigit Ibnugroho mengkritisi mengenai kepemilikan tim PSIS Semarang yang menurutnya sebuah klub sepakbola itu milik suporter kota tersebut.

Hal tersebut disampaikan Sigit Ibnu dalam acara dialog calon Walikota (Cawali) Bicara Bola yang di selenggarakan oleh SNEX di Hotel Serata Semarang.

Pada acara tersebut tak hanya Cawalikota saja, namun juga menghadirkan pendiri Snex, suporter PSIS, KPU, dan perwakilan 25 klub Liga Divisi Utama, meski Paslon Cawalikota 1 dan 2 tak hadir acara tetap dilangsungkan.

Dan Pada kesempatan itu, Sigit yang berlatar belakang seorang pengusaha mengkritisi mengenai kepemilikan saham PSIS. Menurutya, sebuah klub sepakbola itu milik suporter kota tersebut dan tidak didominasi oleh kalangan tertentu. Pihaknya juga kurang menyetujui jika pendanaan klub diambil dari APBD.

“Kalau kita melihat klub sepakbola profesional di lainnya maupun di luar negeri, itu seperti mengelola sebuah perusahaan. Yang mana mempunyai badan hukum, dan sahamnya dijual bebas di bursa efek. Dan kebanyakan yang beli adalah para supporter. Dengan begitu, jika klub tersebut terkena skandal, yang pertama marah adalah suporter yang punya saham. Mereka bisa mencopot para direksi di klub tersebut,” kata Sigit yang menggemari klub Barcelona dan Juventus. 

Meski begitu, pihaknya mengimbau agar membagi saham agar tidak dikuasai kaum mayoritas. Jika hanya dikuasai salah satu kelompok, ditakutkan, dalam pemilihan suatu keputusan, dipertimbangkan atas kepentingan sepihak. 

Selain itu, lanjutnya, pendanaan klub bisa didapat dari merangkul sebuah perusahaan. Menurutnya, tidak sedikit investor besar yang mau menggelontorkan dana promosi di Kota Semarang.

“Bisa juga dengan mengajak kerjasama membuat merchandise Hasil labanya kan bisa untuk pendanaan klub,” tambahnya. 

Agar bisa menggaet perusahaan agar menanam dana di klub, Sigit mendorong PSIS bisa tampil prima. Baginya, sepakbola gajah yang terjadi 2014 lalu merupakan hal yang sangat memalukan dan pengecut. 

“Sebagai warga Kota Semarang, saya malu atas kejadian itu. Soalnya, tolok ukur perkembangan kota dapat dilihat dari prestasi olahraga kota tersebut. Dari PSIS lah nama harum Semarang dibawa sampai ke pelosok negeri,” tuturnya.

Sementara itu, Bang Jun Ketua Umum Snex mengatakan, dialog dengan tema ‘Membangun Sepakbola Semarang yang Bermartabat dan Berprestasi’ ini sebenarnya mengundang tiga cawali yang akan bertarung pada pilwalkot, 9 Desember mendatang. 

“Perlakuan kami terhadap ketiga cawali itu sama. Undangan dikirim jauh-jauh hari, selalu dikonfirmasi setiap hari, dan kebetulan hanya cawali nomor 3 yang datang,” pungkasnya.

Bang Jun berusaha memberikan ruang yang luas ketiga cawali untuk berdiskusi mengenai klub PSIS dengan para pengurus dan suporter untuk menciptakan PSIS yang sehat.

“Sayang, cawali nomor 1 dan 2 yang sebenarnya mereka lebih mengetahui perkembangan di dalam struktur PSIS karena pernah menjabat sebagai Walikota, tidak bisa hadir untuk berdialog, padahal saya sudah menyiapkan pertanyaan untuk mereka,” tambahnya. (BJ06)