Home Hukum dan Kriminal Sidang Kasus Kolam Retensi Hadirkan Empat Saksi Ahli

Sidang Kasus Kolam Retensi Hadirkan Empat Saksi Ahli

Semarang, 14/1 (BeritaJateng.net) – Lanjutan Sidang Kasus Korupsi pembangunan kolam Retensi Muktiharjo Timur yang menggunakan dana APBD Kota Semarang Rp. 33,77 M menghadirkan empat saksi ahli.

Empat saksi tersebut yakni Saiful dan Suprianto mantan pekerja proyek dan Ir. Titi Rahayu dan Ir. Santoso MT selaku saksi ahli dari Universitas Negeri Malang.

Pada persidangan Saiful yang berdomisili di daerah Muktiharjo mengaku bahwa dirinya bekerja sebagai honorer di Kolam Retensi Muktiharjo tersebut.

Ia menjelaskan bahwa sebelumnya dirinya sebagai pengelola tambak sebelum ada pembuatan kolam retensi, setelah itu ia menjadi pekerja honorer yang mengkoordinir keamanan pada pengerjaan proyek Muktiharjo tersebut.

“Saya dulu pengelola tambak, dan saat ada pengerjaan kolam ini saya menjadi pekerja honorer yang dibayar bulanan. Saat itu saya dikontrak hingga empat bulan, dan pada 5 Desember sudah tak bergabung lagi, namun saya tetep sering main ke proyek tersebut hingga sekarang,” jelasnya saat dipersidangan.

Menurutnya, sebelum pembuatan kolam sudah ada jalan setapak untuk para penduduk mengelola tambak disana, dan saat pengerjaan proyek itu, sekarang sudah ada jalan bagus dan besar.

“Dulu masih setapak, dan dulu hanya cukup untuk jalan dua orang saja. Sekarang sudah bagus dan lebar dan sudah dapat dilewati mobil dan angkutan besar,” tuturnya.

Terkait pengerjaan, Saiful mengakui bahwa mengikuti proyek tersebut mulai awal pengerjaan, dan saat ditanya mengenai pompa oleh penuntut umum, ia mengaku melihat dan pernah menguji coba pompa di kolam retensi Muktiharjo tersebut.

“Pompa itu pada tanggal 21 Desember 2014 sudah ada, dan pada tanggal 26-27 sudah mulai terpasang dan telah dicoba dan mesin hidup. Pada uji coba mesin tersebut turut hadir dari dinas PSDA dan juga penjual pompa tersebut,” terangnya.

Saksi lain yaitu Suprianto, warga yang tinggal di depan polder tawang, sejak tahun 1992, mengakui bahwa dengan adanya kolam retensi dan pompa tersebut didaerah rumahnya sudah tak mengalami banjir.

“Dulu sebelum dibuat kolam retensi, tidak ada jalan sama sekali. Dan dulu sering terjadi banjir jika hujan dan rob, sekarang sudah tak ada banjir lagi,” katannya.

Pada sidang tersebut Saiful mengakui bahwa setelah tanggal 28 Desember 2014 masih ada pengerjaan di bulan tersebut.

“Pada akhir bulan Desember 2014 masih ada pengerjaan, namun pada bulan Januari sudah tidak ada pengiriman mik untuk pembuatan jalan di Kolam Retensi Muktiharjo,” terangnya saat ditanya oleh Penuntut umum pada persidangan.

Dan menurut Suprianto, fungsi Kolam Retensi tersebut sekarang menguntungkan bagi warga setempat.

“Sekarang banyak warga setempat berjualan disana dan menguntungkan, karena kolam ini sekarang jadi tempat mancing banyak orang,” ucapnya.

Dan para Saksi Ahli lainya, Ir. Santoso MT, Dosen Universitas Negeri Malang menjelaskan pada bahwa pembangunan kolam retensi Muktiharjo, pengerjaan dari kontraktor sebenarnya sudah tepat.

Untuk pengerjaan memasang sitpel sangat memakan waktu yang lama karena ribuan.

“Mereka mengerjakan pemasangan sitpel harus menggunakan jalur darat, jika pengerjaanya menggunakan tronton di air akan tambah memakan waktu yang sangat lama. Dan kontraktor sudah tepat mengerjakannya melalui darat,” jelasnya.

Sementara saksi lain Ir. Titi Rahayu ningsih, Dosen teknik sipil Universitas Negeri Malang, menjelaskan bahwa dirinya ahli geogesi dalam pengukuran. Menurutnya, dalam pengukuran Kolam Retensi tersebut seharusnya saat ini dapat dilakukan cepat, dan dapat diukur dengan waktu sehari saja.

Untuk pengukuran sisi kolam penjelasanya, jika menggunakan waterpas itu akan lama, karena kolam itu tidak lurus sisi-sisinya. Seharusnya diukur hingga sudut-sudutnya, karena antar sisi pastinya tidak sama.

“Namun sekarang ia mengaku mengukur kolam Retensi dengan alat yang canggih yakni total scresing, yang hanya membutuhkan 6 detik untuk menghitungnya dan sangat akurasi. Alat canggih ini, menggunakan sinar InfraRed dan nantinya sudah terukur seluruhnya,” jelasnya.

Lanjutnya, dari data yang ada dialat itu, nantinya tinggal kita transfer ke komputer lalu akan terhitung seluruhnya, dan tentunya meminimilisasi kesalahan pada pengukuran.

“Pada saat saya mengukur luasnya 53822,38m2, dan saat kita hitung menggunakan citra stelit juga hasilnya sama dan sesuai dengan ukuran tersebut,” terangnya.

Pada saat pengecekan dilapangan Ia mengaku menemukan beberapa susunan sitpil yang agak renggang.

“Seharusnya mengukur kolam dulu baru menentukan banyaknya sitpil yang saya hitung sekitar 1407,” tambahnya.

Pada penjelasan 4 saksi tersebut pada persidangan lanjutan kasus Kolam Retensi Muktiharjo Semarang, Majelis Hakim akan mempertimbangkan kembali. Menurut Majelis Hakim, akan mengumpulkan semua bukti-bukti tersebut, dan berjanji akan mempertimbangkan seadil-adilnya sesuai bukti yang ada. Dan sidang lanjutan tersebut akan dilanjutkan kembali pada pekan depan.(BJ)