Home Headline Sha Ine Febriyanti Pentas Monolog Cut Nyak Dhien Di Sepuluh Kota

Sha Ine Febriyanti Pentas Monolog Cut Nyak Dhien Di Sepuluh Kota

234
0
Sha Ine Febriyanti Pentas Monolog Cut Nyak Dhien Di Sepuluh Kota
      Kudus, 29/6 (BeritaJateng.net) – Pertunjukan seni merupakan media paling efektif untuk menyuarakan, mempresentasikan, dan/atau menyampaikan sebuah opini. Semakin baik apresiasi masyarakat terhadap seni, maka semakin maju peradaban sebuah bangsa.
       Berangkat dari hal tersebut, Sha Ine Febriyanti tergerak untuk berbagi talenta di bidang seni pertunjukan untuk mengadakan roadshow yang menghadirkan Pentas Monolog Cut Nyak Dhien dan mengadakan workshop atau diskusi di sepuluh kota di Indonesia.
        Didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, kegiatan ini diselenggarakan mulai dari tanggal 27 April 2018 di Gianyar, Bali kemudian berlanjut pada bulan Mei ke Makassar, Solo, dan Surabaya.
       Di bulan Juni, Cut Nyak Dhien akan bertandang ke Kudus sebelum ke Tasikmalaya dan Bandung pada awal Juli dan Medan di akhir Agustus serta Padang dan berakhir di Padang Panjang pada September 2018.
Pentas Monolog Cut Nyak Dhien diselenggarakan di Universitas Muria Kudus, Jawa Tengah juga didukung oleh Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) dan bekerja sama dengan Kajian Kreativitas Seni Obeng Fakultas Teknik Universtas Muria Kudus juga turut mendukung pementasan ini.
      Sha Ine Febriyanti tampil dalam panggung Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus. Selain pertunjukan, adapula workshop yang diperuntukan untuk para generasi muda teater Kudus dan sekitarnya. Dalam workshop, pengunjung akan diberikan materi tentang pemeranan dan pengkreasian dalam teater monolog.
       Sha Ine Febriyanti yang telah berpengalaman dalam dunia seni peran, akan berbagi semangat, ilmu dan segala hal kaitannya dengang teater untuk memunculkan para bibit-bibit baru di generasi berikutnya.
       Monolog Cut Nyak Dhien mengangkat sisi perempuan Cut Nyak Dhien sebagai seorang istri dan ibu yang juga goyah ketika kehilangan menghampiri kehidupannya. Dikenal sebagai seorang perempuan pejuang perkasa, Cut Nyak Dhien tak pernah menunjukkan kepedihan hati maupun dukanya saat ditinggal pergi orang yang dikasihinya, sang suami, Teuku Ibrahim ataupun Teuku Umar. Sebagai seorang ibu, Cut Nyak Dhien harus tetap terlihat tegar di depan anaknya, juga di depan mereka yang membutuhkan tuntunan dan kepemimpinannya. (El)