Home Lintas Jateng Serukan Taubat Nasional Untuk Perbaikan Negeri  

Serukan Taubat Nasional Untuk Perbaikan Negeri  

Lawu

KARANGANYAR, 29/10 (BeritaJateng.net) – Kondisi negeri yang sedang terpuruk berimbas pada kondisi ekonomi masyarakat yang serba sulit. Ditambah lagi dengan bencana kebakaran lahan dan hutan yang merata di berbagai wilayah bumi nusantara ini.       

Pengasuh Pondok Pesantren Singo Ludiro Bekonang Sukoharjo, Ustad Agung Syuhada menyarankan agar seluruh masyarakat Indonesia bertaubat. Kondisi yang terjadi saat ini karena kesalahan manusia sendiri.  Indonesia sudah terkena balak (adzab), akibat dari tindakannya sendiri. 

Contohnya banyaknya bencana yang terjadi di negeri ini. Kebakaran, kabut asap dan masih banyak lagi. Belum lagi tindakan manusia yang sudah hilang akal sehatnya.

“Lihat saja, anak yang masih kecil di bawah umur bisa-bisanya membakar teman sepermainannya. Itu sudah sangat tidak masuk akal,” jelasnya ketika ditemui Beritajateng.net  di kediamannya Bekonang Sukoharjo, Kamis (29/10/2015). 

Ustad Agung mengajak agar masyarakat melakukan taubat secara bersama-sama. Istilahnya taubat nasional yang sebenarnya sudah pernah di gagas Amin Rais sejak lima tahun silam. Harusnya kembali di galakkan agar kondisi negeri semakin membaik. 

Indonesia kondisinya  sudah sangat memprihatinkan, pendidikan akhlak dan moralnya sudah banyak yang diabaikan. Penipuan dari mulai hulu sampai hilir marak terjadi dan berimbas pada tindakan korupsi yang dianggap hal biasa (karena banyak yang melakukakan).  

“Mulai dari kere (miskin)sampai penggede melakukan aksi tipu. Contohnya gampang. Kamu lihat pengemis pinggir jalan. Kakine di buat puthul (buntung) ben wong mesake. Ning yen ana garukan mlayune banter dewe. Malah petugase kalah,” ungkap ustad Agung memberi contoh.  

Ustads yang nyantri di Ponpes Tebu Ireng ini mengajak agar masyarakat semakin waspada dan eling sama yang Maha Kuasa. Manut tembunge wong Jowo, jaman iki jaman edan. Yen ra edan ra kumanan. (Ini jaman sudah gila. Kalau tidak ikut gila tidak akan kebagian). 

Senada dengan Ustad Agung Syuhada yang meminta agar bangsa Indonesia segera melakukan taubat nasional, motifator spiritual Ki Buyut Lawu juga meyarankan semua pihak untuk melakukan Istiqfar Pangruwating Nagari. 

Istiqfar untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedang  Pangruwating Nagari, adalah laku ritual supranatural tingkat tinggi untuk menyirnakan (menghilangkan) sengkala dan sukerta atau aura spiritual negatif yang menyelimuti bangsa dan negara kita, baik secara lahiriyah demikian juga batiniyah.

“Pasalnya  setiap gejolak yang terjadi di Gunung Lawu, dianggapnya bukan kejadian alam biasa,” ungkapnya. 

Gunung Lawu akan memberi tanda karena Lawu dipercaya sebagai  pusering tanah Jawa, dan juga diyakini sebagai pusat laku spiritual religius. Juga menjadi tempat laku spiritual nggayuh wahyu keprabon para tokoh besar Nusantara.  

Kebakaran hutan  Gunung Lawu yang menelan tujuh nyawa, dirasakan sebagai isyarat atau pertanda  makin besarnya sengkala dan sukerta yang disandang bangsa dan negara Indonesia. Yang berimbas makin  terpuruknya segala aspek kehidupan. 

“Musibah kali ini, lebih merupakan isyarat tiwikromo Gunung Lawu yang harus ditangkap dengan weninging pikir maupun beninging dzikir dan dimaknai dengan kawaskitaning spiritual religious,” jelasnya. 

Ki Buyut Lawu yang juga Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh (Spirit Religious, Cultural & Educatian) menjelaskan dalam dimensi spiritual kejawen api yang berkobar di Gunung Lawu, dimaknai sebagai sengkala dan sukerta. Dan angka tujuh (tujuh korban) bisa berarti pitulungan atau pertolongan.

“Bisa juga diartikan nusantara telah dipenuhi aura spiritual negatif  kobaran nafsu amarah dan meminta segera mendapatkan pitulungan. Untuk itulah perlu dilakukan Istiqfar Pangruwating Nagari,” ungkap Ki Buyut Lawu. 

Sementara itu pengamat Gunung Lawu dan budayawan Jawa Joko Sunarto, Lawu menilai Lawu saat ini sedang memperbaiki dirinya. Manusia tidak bisa memperbaiki alam.   

“Alam memiliki cara sendiri dalam memperbaiki diri. Itulah kearifan lokal.  Pasti ada hikmah dari semua ini. Karena satu hal yang harus  diingat alam kui nguripi (memberi hidup),” pungkasnya. (BJ24)