Home News Update Serangan Demam Berdarah Semakin Mengganas

Serangan Demam Berdarah Semakin Mengganas

506
Ilustrasi
Ilustrasi

Sampit, 26/1 (BeritaJateng.net) – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, terus meningkat dan mengganas sehingga membuat masyarakat makin cemas.

“Sejak awal Januari hingga pagi ini sudah ada 56 kasus. Terbanyak memang di Sampit, meliputi Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang. Penderitanya terbanyak adalah anak-anak,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kotim, dr Faisal Novendra Cahyanto di Sampit, Senin.

Dinas Kesehatan terus melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyakit mematikan ini terus meluas. Selain melakukan pengasapan atau fogging untuk membunuh nyamuk, upaya lain yaitu mengajak seluruh masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan cara membersihkan, menguras penampungan air, membakar dan mengubur tempat-tempat yang bisa menampung air bagi berkembang biaknya nyamuk penyebar demam berdarah.

Faisal bersyukur karena hingga saat ini belum sampai ada penderita yang meninggal dunia. Meski begitu, upaya penanganan masalah ini makin gencar dilakukan karena tingginya kasus DBD berisiko menimbulkan korban jiwa.

“Kami berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan kelurahan untuk gotong royong serentak memberantas sarang nyamuk. Tujuan pokok adalah mencegah kematian. Kalau kasus tidak diturunkan maka berisiko terjadi kematian. Kita mencegah DSS (dengue shock syndrome). Makanya, kalau ada anak panas maka langsung periksakan. Yang DSS itu rata-rata terlambat diperiksakan pada hari ke empat atau lima, saat sudah kritis,” tandas Faisal.

Hasil evaluasi, saat ini kasus demam berdarah banyak ditemukan di kawasan-kawasan endemis, yaitu kawasan yang pada tahun-tahun sebelumnya sering ditemukan demam berdarah. Di antaranya Komplek Pandawa, Sawit Raya, Tidar, Wengga, Jalan Sarigading, H Imbran dan lainnya.

Tingginya pertumbuhan nyamuk di Kotim menjadi salah satu pemicu munculnya demam berdarah. Dinas Kesehatan Kotim sudah meminta tambahan racun untuk fogging. Namun fogging terkadang kurang efektif lantaran saat ini musim hujan sehingga banyak warga enggan keluar rumah ketika lingkungannya sedang dilakukan fogging. Ada pula ketika warga menggelar hajatan dan melarang tempat tinggal mereka di-fogging.

“Nanti dilakukan penghitungan indeks pertumbuhan jentik. Kita akan distribusikan larvasida/abate dan kami harap masyarakat menggunakannya. Abate diberikan gratis, tapi ini saya instruksikan kita yang aktif. Fogging efektif itu harus diikuti abatesasi,” sambung Faisal.

Kemajuan kota dan perekonomian turut memicu munculnya demam berdarah karena makin banyak sampah yang bisa menampung air untuk berkembangbiaknya nyamuk. Solusi utamanya adalah memberantas sarang nyamuk sehingga nyamuk tidak bisa berkembang biak. (ant/BJ)