Home Hukum dan Kriminal Sepanjang 2015, Kasus Curanmor di Semarang Turun 0,8 %

Sepanjang 2015, Kasus Curanmor di Semarang Turun 0,8 %

Semarang, 31/12 (BeritaJateng.net) – Angka pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang ditangani kepolisian dari Polrestabes Semarang merupakan kasus yang paling menonjol diantara sekian kasus kejahatan yang ada.

Sepanjang tahun 2015 ini tercatat ada 542 kasus curanmor, disusul curat (pencurian dengan pemberatan) sebanyak 455 kasus, kemudian kasus penggelapan dengan 350 kasus.

Data tersebut berdasarkan analisa dan evaluasi (anev) yang dilakukan oleh jajaran kepolisian Polrestabes Semarang, Kamis (31/12) Sore, di ruang Rupatama lantai II, Mapolrestabes Semarang.

Dalam evaluasi itu dipimpin langsung Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Burhanudin, dan AKBP Sapari selaku Wakapolrestabes Semarang.

Selain itu, turut hadir dalam kesempatan ini Kasat Reskrim AKBP Sugiharto, Kasubag Humas Kompol Suwarna, sejumlah Kepala Satuan (Kasat) dari masing-masing unit baik dari Lantas, Binmas, Resnarkoba serta satuan lainnya.

Untuk kasus curanmor terjadi penurunan dibanding tahun sebelumnya, meski tak terlalu signifikan. Dari 633 kasus di tahun 2014, turun menjadi 542 kasus di tahun 2015, atau turun 0,8 persen.

Namun demikian, kinerja kepolisian patut diapresiasi. Pasalnya, masih dengan kasus yang sama yakni curanmor, terjadi peningkatan dalam hal penyelesaian.

Data di tahun 2014 misalnya, dari 633 laporan, 110 diantaranya telah selesai. Sedangkan untuk tahun 2015 ini, sebanyak 97 kasus terselesaikan dari jumlah yang ada, yakni 542. Artinya, berdasarkan angka itu, telah terjadi peningkatan dalam hal penyelesaian kasus atau naik 0,5 jika dalam angka prosentase.

Uniknya, jika dilihat, ada margin (selisih) yang amat lebar antara jumlah kasus yang ada, dengan angka yang terseleseaikan.

Dijelaskan Kapolrestabes, Kombes Pol Burhanudin, hal itu dikarenakan curanmor dalam hal ini merupakan jenis kejahatan ‘konventional’. Menurutnya, ada perbedaan dibanding jenis tindak pidana lain seperti narkoba yang masuk dalam ketegori ‘transnational crime’.

“Kalo curanmor itu hampir kebanyakan mereka (pelaku) menggunakan hasil kejahatannya dengan cara menjual secara terpisah. Misal velg-nya atau gir-nya dijual sendiri,” paparnya.

Sementara, untuk kecelakaan lalu lintas, sepanjang tahun 2015 terjadi peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Hal itu didasarkan pada data yang ada.

Diketahui, sebanyak 756 kasus di tahun 2014 meningkat menjadi 804 kasus dalam kurun waktu satu tahun. Dari 804 kasus di tahun 2015, tercatat 83 diantaranya korban meninggal, 21 korban luka berat, lalu untuk korban ringan ada 907.

Burhanudin menilai, peningkatan maupun penurunan untuk laka lantas ini, disebabkan oleh beberapa faktor.

“Banyak faktor, bisa kelalain dari korban itu sendiri. Bisa juga karena faktor alam, serta kondisi medan,” pungkasnya. (Bjt02)