Home Kesehatan Seminar Sehat Bersama RSJ Amino Gondohutomo

Seminar Sehat Bersama RSJ Amino Gondohutomo

1261

Seminar Sehat

Semarang, 17/10 (BeritaJateng.net) – Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah, bekerja sama dengan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Semarang dan Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) Jawa Tengah mengadakan Seminar Kesehatan Jiwa dengan mengangkat tema besar ‘Sehat Jiwa Yang Bermartabat’ di Grand Saraswati Hotel, Jalan Singosari Raya, Sabtu (17/10).

Hadir dalam seminar tersebut Dr. Retno Dewi Susilo., MM, Dr. Woroasih Sp. KJ, Dr. Rihadini Sp. KJ, Dr. Ismed Yusuf Sp. KJ (K), dan Bu Cynthia (dari Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI)).

Dr. Retno Dewi Susilo., MM (Wakil Direktur RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah), dalam sambutannya berharap dalam rangka memajukan negara Indonesia, manusia harus sehat luar dan dalam, baik secara fisik maupun psikis.

“Tidak hanya sehat raga tetapi juga sehat jiwanya,” ujar Dr. Retno Dewi Susilo., MM, di Grand Saraswati Hotel, Sabtu (17/10).

Sementara itu, sebagai pembicara pertama, Dr. Woroasih Sp. KJ yang sering disapa dokter Asih, membahas mengenai stres dan penanggulangannya. Dia menjelaskan peristiwa besar yang menjadikan sumber stres dicontohkannya peristiwa Putus Hubungan Kerja (PHK) bagi pekerja. Sumber stres ada yang berasal dari diri sendiri, kepribadian yang tanpa disadari menjadi sumber stres bagi orang lain.

“Kepribadian yang menjadikan stres merupakan suatu sifat khas dari individu. Orang yang terlalu berhati-hati juga kurang baik, seperti takut gagal, takut salah, dan takut dihina. Hidup adalah untuk kerja, itu juga bisa menjadikan stres karena kurang ada keseimbangan. Kebutuhan akan keberhasilan yang tinggi, yang mengharuskannya sempurna pada akhirnya sering menjadikan konflik,” papar dokter Asih.

Ketika tuntutan lebih besar daripada kemampuan, lanjut dokter Asih, itu yang dinamakan stres. Jika stres berkelanjutan dan tidak ada solusi maka akan terjadi gangguan atau sakit.

Sebagai penutup dalam materinyaa, Dokter Asih juga memaparkan cara menanggulangi stres, yaitu dengan cara psikoterapi, upaya melawan stres itu sendiri.

“Salah satunya dengan relaksasi dan memperkuat fungsi jiwa. Perlu waktu untuk konsultasi dengan orang-orang yang terlatih dalam menangani serta berkompeten di bidangnya tujuannya untuk menghambat dan mengurangi mengatasi penyakit kejiwaan,” jelasnya.

Dia juga menambahkan sering tertawa, tersenyum, serta berdoa menumpahkan pada Yang Maha Kuasa bisa mengurangi stres.

Di sisi lain, Dr. Rihadini Sp. KJ pada kesempatan seminar kesehatan jiwa tersebut lebih menitikberatkan materi mengenai ‘Sehat Jiwa Yang Bermartabat’. Sehat jiwa diartikannya, manusia mampu mengatasi tantangan hidup serta sanggup menghadapi kesulitan.

“Orang yang sehat bisa menerima masyarakat dengan apa adanya,” tuturnya.

Di dalam World Health Organization (WHO), dokter Rihadini menjelaskan jika orang yang sehat itu selalu merasa bahagia, merasa sehat, menerima orang lain dengan apa adanya, bersikap positif serta mampu menghadapi tantangan. Lebih lanjut, dokter Rihadini menjelaskan orang-orang dengan gangguan jiwa harus didukung dan diangkat martabatnya.

Lain halnya dengan Bu Cynthia (dari Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) yang mencoba menggabungkan benang-benang merah dari pembicara-pembicara yang telah presentasi. Wanita yang duduk di atas kursi roda karena mengalami sakit lumpuh selama 43 tahun ini bercerita dan memberikan testimoni. Testimoninya karena suaminya seorang skizofrenia.

Skizofrenia adalah gangguan jiwa dengan gejala utama berupa keyakinan yang salah, tak dapat dikoreksi dan berhalusinasi pada seseorang.

Selama 31 tahun Bu Cynthia merawat suaminya yang mengalami skizofrenia. Melatih sabar suaminya, kuat dengan kondisi satu RT ada 5 orang terkena skizofrenia. Bu Cynthia juga telah menulis buku dengan judul, ‘Aku Bukan Tubuhku’.

Selain testimoni dalam bentuk cerita, adapula testimoni orang dengan gangguan jiwa yang ditampilkan dalam sebuah video berdurasi kurang lebih 15 menit.

“Ketika kita tidak mampu merubah dunia. Maka menciptakan martabat bagi orang dengan gangguan jiwa menjadi lebih baik bisa dilakukan,” pesan Bu Cynthia kepada para peserta yang hadir dalam seminar. (BJT01)

Advertisements