Home Kesehatan Seminar Nasional Mencetak Generasi Sehat

Seminar Nasional Mencetak Generasi Sehat

621

Semarang, 19/12 (BeritaJateng.net) – Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Semarang Jurusan Gizi menggelar Seminar Nasional bertema ‘Mencetak Generasi Sehat dan Cerdas dengan Gizi Seimbang Sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan’ di Hotel Grasia lantai 1, Sabtu (19/12).

Nuradan, selaku ketua panitia mengungkapkan ada sedikitnya 550 peserta yang hadir, terdiri dari mahasiswa dan umum. Hadir pula beberapa narasumber diantaranya Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, dr. Anung Sugihantono., M.Kes yang membahas mengenai Strategi dan Kebijakan Kementerian Kesehatan Dalam Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi.

Ada pula Praktisi Bidang Gizi Klinik dan Olahraga, Rita Ramayulis., DCN., M.Kes yang membahas mengenaik Gizi Ibu dan Anak Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Kemudian, dari divisi Fetomaternal-Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Sardjito/FK UGM Yogyakarta, dr. Irwan Taufiqur Rachman., Sp OG (K) dengan materinya Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Janin Selama Masa Kehamilan.

Berdasarkan penuturan dari dr. Anung Sugihantono., M.Kes, ada 17 negara diantara 117 negara dengan tiga masalah gizi balita, yaitu stunting, wasting dan overweight.

“Indonesia juga termasuk di dalam 47 negara dari 122 negara yang mempunyai masalah stunting pada balita dan anemia pada WUS,” terangnya.

dr. Anung menambahkan dampak dari masalah gizi ditandai dengan imunitas rendah, risiko penyakit infeksi dan penyakit kronik meningkat, pertumbuhan dan perkembangan tidak optimal, serta daya saing rendah dan produktivitas rendah.

Berdasarkan analisa kausalitas, lanjut dr. Anung dampak akibat gangguan gizi pada masa janin dan usia dini, yaitu gangguan perkembangan otak, gangguan pertumbuhan (IUGR), gangguan perkembangan organ tubuh.

“270 hari selama kehamilan ditambah 730 hari kehidupan pertama bayi setelah dilahirkan merupakan periode sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi,” imbuh dr. Anung.

Dampak tersebut tidak hanya pada pertumbuhan fisik, lanjutnya, tetapi juga pada perkembangan mental dan kecerdasannya, pada usia dewasa terlihat dari ukuran fisik yang tidak optimal serta kualitas kerja yang tidak kompetitif sehingga berakibat pada rendahnya produktivitas ekonominya.

Sementara, kebijakan gizi tahun 2015-2019, prioritas dalam pembangunan kesehatan dapat berupa penurunan AKI dan AKB (Kesehatan Ibu dan Anak termasuk Imunisasi), perbaikan gizi khususnya stunting, pengendalian penyakit menular seperti HIV/AIDS, Tuberkulosis dan Malaria, serta pengendalian penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, obesitas dan kanker.

“Peran dari media massa mempublikasikan informasi yang mendukung pembangunan kesehatan secara terus menerus,” tandas dr. Anung.

Disisi lain, Rita Ramayulis., DCN., M.Kes membuka bahan renungan, bahwa banyak orang tua yang mengeluh anaknya tidak suka sayur dan buah, banyak orang yang sudah tahu dengan makanan yang benar tetapi masih mengonsumsi makanan yang tidak tepat.

Rita mengatakan lebih dari 90 persen makanan jajanan ‘one dish meal’ dan menu katering belum sesuai dengan gizi seimbang.

Praktisi bidang gizi klinik dan olahraga ini menyarankan supaya para orang tua memberikan kesempatan pada si kecil untuk bereksplorasi dengan cita rasa aneka ragam makanan terutama sayuran dan buah.

Sementara itu, dr. Irwan Taufiqur Rachman., Sp OG (K) memaparkan pertumbuhan janin dibagi menjadi 4 periode pertumbuhan, yaitu slow growth atau hyperplasia, accelerating growth atau (antara hyperplasia dan hypertrophy), maximum growth dan decelerating growth.

Menurutnya, masa selama 270 hari atau 9 bulan dalam kandungan ditambah 730 hari atau 2 tahun pertama pasca lahir sangat penting karena dampak yang ditimbulkan malnutrition pada periode tersebut bersifat permanen dan berjangka panjang.

“Pentingnya 1000 hari pertama kehidupan dimulai dari usia kehamilan 0-8 minggu (organogenesis) dan usia kehamilan 9 minggu sampai lahir (maturation),” papar dr. Irwan.

dr. Irwan menambahkan otak setelah masa kelahiran masih mengalami perkembangan fungsi dan akan menurun rata-rata setelah usia 2-3 tahun.

“Pada usia 0-2 tahun merupakan puncak perkembangan fungsi melihat, mendengar, berbahasa dan fungsi kognitif yang lebih tinggi,” pungkasnya. (BJT01)