Home Lintas Jateng Semarang ‘Tangguh’ Genjot Ketahanan Pangan dengan Program Akuaponik

Semarang ‘Tangguh’ Genjot Ketahanan Pangan dengan Program Akuaponik

222
0
Semarang 'Tangguh' Genjot Ketahanan Pangan dengan Program Akuaponik
           SEMARANG, 18/11 (BeritaJateng.net) – Saat ini Kota Semarang masuk dalam kategori 100 Resilient Cities atau 100 kota tangguh, dari berbagai kota di dunia, yakni sebuah kota yang dikategorikan memiliki daya tahan kuat dan tangguh menghadapi tantangan. Perwujudan kota tangguh itu di antaranya melalui penyediaan pangan berkelanjutan, baik berupa budidaya darat maupun air di lahan yang terbatas.
            Salah satunya dengan melibatkan kelompok masyarakat untuk pemenuhan pangan secara berkelanjutan, yakni komunitas petani akuaponik. Penerapan akuaponik ini, warga menggunakan konsep kolam budidaya ikan berukuran kurang lebih 2 x 4 meter dengan kedalaman air kurang lebih setengah meter, kemudian digabungkan dengan jalur instalasi akuaponik dari pipa paralon maupun netpot dan polibag.
             Berbagai jenis tanaman kebutuhan pangan seperti lombok, terong, sawi, kangkung, seledri, tomat, cabai rawit, cabai merah, bayam dan beraneka ragam sayur mayur lain, tumbuh menghijau di lahan terbatas di pekarangan rumah warga.
            Pengembangan akuaponik berbasis masyarakat ini menjadi salah satu bagian dari program urban farming menggunakan teknologi tepat guna dengan memerhatikan aspek estetika, fungsi, dan sistem sirkulasi budidaya pertanian serta perikanan secara optimal berkelanjutan. Salah satu pilot project program ini dilakukan di Kelurahan Kandri Kecamatan Gunungpati Semarang.
           Di kelurahan tersebut disiapkan lokasi utama sebagai landmark sebagai ‘Desa Wisata Akuaponik’. Sejak dimulai Februari 2016 hingga September 2017, ada sebanyak 83 Kepala Keluarga (KK) mengembangkan budidaya tanaman sayuran menggunakan sistem akuaponik berbasis rumah tangga di Kampung Kandri.
            “Semarang adalah perkotaan (metropolitan), pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan sarana prasarana infrastruktur berkembang pesat. Sehingga mengakibatkan lahan pertanian berkurang. Bagaimana fungsi-fungsi perkotaan ini agar bisa diinisiasikan untuk kontribusi terhadap ketahanan pangan di Kota Semarang,” kata Kepala Bidang Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappeda Kota Semarang, Budi Prakosa, dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Ketahanan pangan sebagai perwujudan tata ruang yang tangguh, produktif, dan berkelanjutan’ di Gadung Moch Ikhsan Lantai 8 Balai Kota Semarang, Jumat (17/11/2017).
           Dikatakannya, sebetulnya ini bukan konsep baru. Dalam konsep teoritik ada istilah ‘urban farming’, yakni praktik budidaya, pemrosesan, dan distribusi bahan pangan di perkotaan. “Urban farming ini nanti akan dikembangkan di Kota Semarang. Dengan adanya kondisi lahan sempit akan kami kembangkan dan meningkatkan produktivitas pertanian di Kota Semarang. Sehingga ketahanan pangan bisa ditingkatkan,” katanya.
           Bentuknya bisa memanfaatkan lahan publik, vertikal garden, roof garden maupun top garden, nantinya akan ditingkatkan. Saat ini salah satu pilot project penerapan urban farming dikembangkan di Kelurahan Kandri dengan menggunakan metode akuaponik. “Itu pilot project. Lebih jauhnya nanti tahun depan (2018) Bappeda akan melakukan kajian penelitian untuk pengembangan urban farming di Kota Semarang. Kami sebagai lembaga perencanaan dan koordinasi semua komponen, baik dinas-dinas maupun masyarakat,” katanya.
            Lebih lanjut, menurutnya perlu adanya pemahaman hubungan tata ruang dengan ketahanan pangan secara komprehensif. Sebab tata ruang sebetulnya memiliki jangkauan multisektor, sehingga semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terlibat dalam tata ruang. “Tata ruang bukan hanya infrastruktur, tetapi juga pengembangan pertanian. Semua sektor memiliki tanggung jawab tata ruang. Sebetulnya ini bukan kesadaran yang baru dipikirkan sekarang, tetapi telah masuk dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah). Ada perjalanan sejarah kota untuk menjadi 100 Resilient Cities, dalam dokumen kota tangguh,” katanya.
           Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Sapto Adi Sugihartono mengatakan, ketahanan pangan setidaknya bisa diukur dari tiga aspek, yakni ketersediaan, akses distribusi, dan olahan makanan serta keamanan pangan. “Kami akan mendorong dari sisi dua hal. Pertama ketersediaan pangan, kedua pemenuhan kebutuhan gizi keluarga. Antara lain dengan membangun program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Sebagaimana telah dilakukan penanaman cabai dan sayur-sayuran di rumah dengan menggunakan media polibag dan sebagainya. KRPL ini menggabungkan antara pertanian pertanaman, perikanan dan ternak. Jadi kebutuhan protein hewaninya juga ada,” katanya.
           Dikatakan, sejauh ini memang masih ditemui sejumlah kendala tantangan. Karena memang dibutuhkan energi lebih besar bagi keluarga. Meskipun ini terlihat sederhana, kata dia, tetapi penerapannya membutuhkan daya tahan. “Misalnya menanam cabai setiap hari hanya disiram dan dirawat saja, ternyata tidak hanya itu. Sebab diperlukan pengetahuan tentang kondisi PH (tingkat keasaman atau kebasa-an) tanah. Jangan sampai airnya menggenang dan seterusnya, sehingga tanaman itu bisa menghasilkan,” katanya.
            Sapto mendorong agar ada kelompok-kelompok masyarakat, artinya tidak berjalan sendiri. Sehingga bisa lebih mudah dilakukan pendampingan. “Pemerintah akan memasilitasi agar konsep KRPL ini bisa lestari. Selama ini masih cenderung menanam 3 bulan kemudian panen, setelah itu mandek,” katanya.
           Sejauh ini sedikitnya ada sebanyak 8 titik lokasi percontohan Kawasan Rumah Pangan Lestari ini. Di antaranya di Kelurahan Karangmalang, Gunungpati, dan lain-lain. “Ada dua konsep, yakni kawasan perkotaan dan perumahan itu menggunakan metode berbeda. 2018, kami rencanakan untuk pengembangan penanaman secara lebih meluas,” katanya. (El)