Home Lintas Jateng Semarang Menuju Kota Tangguh, Banyak Tantangan yang Dihadapi Kota Semarang

Semarang Menuju Kota Tangguh, Banyak Tantangan yang Dihadapi Kota Semarang

1313

P_20150921_115811

Semarang, 22/9 (BeritaJateng.net) – Rob, kekeringan, dan pengangguran masih menjadi tantangan bagi Kota Semarang dalam upaya menjadi kota yang tangguh. Hal itu disampaikan Purnomo Dwi Sasongko, Sekretaris Bappeda Kota Semarang dalam lokakarya “Menuju Semarang sebagai Kota Tangguh; Aspek Prioritas untuk Strategis Ketahanan Kota RPJMD 2016-2020” di Ruang Lokakrida, Lantai VIII Gedung Moch Ikhsan.

Menurutnya, sebagai kota pesisir utara Jawa, Semarang mengalami berbagai tantangan terutama rob akibat kenaikan muka air laut, erosi, dan penurunan muka tanah. Di sisi lain setidaknya sekitar 600 ribu warga belum memiliki akses langsung terhadap jaringan air bersih. Saat ini PDAM baru bisa melayani 64 persen kebutuhan warga Semarang.

“Selain itu dari segi ekonomi warga, meski pada tahun 2014 mengalami penurunan angka kemiskinan namun angkanya tetap tinggi. Jumlah penduduk miskin sebanyak 26,41 persen pada tahun 2010, turun menjadi 21,14 pada tahun 2014. Untuk tingkat pengangguran angkanya mencapai 46,2 persen,” katanya.

Diharapkan, dengan lolosnya Kota Semarang dalam seleksi100 kota berketahanan atau 100 Resilent Cities (100RC) yang didukung oleh The Rockefeller Foundation, kota ini memiliki aspek-aspek prioritas dan rancangan strategi yang akan mengawali penyusunan strategi ketahanan kota.

“Aspek prioritas itu akan bersandar pada tiga pilar, perlindungan, mobilitas, dan kapasitas. Pendekatan yang digunakan adalah secara insklusif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan kota dan juga secara komprehensif dengan melihat keterkaitan antar-isu dan tantangan yang ada,” katanya.

Sebagai informasi, Kota Semarang baru saja lolos seleksi dalam 100 kota berketahanan atau 100 Resilent Cities (100RC). Untuk menindaklanjuti prestasi itu, pemkot dibantu banyak pihak menggelar Lokakarya “Menuju Semarang sebagai Kota Tangguh; Aspek Prioritas untuk Strategis Ketahanan Kota RPJMD 2016-2020”.

Acara dibuka oleh Pj Wali Kota Semarang Tavip Supriyanto, dan dihadiri para panelis Hayu Parasati (Bappenas), Vicky HU (Swissre), Prof Sudharto P Hadi (akademisi), M Ali Santoso (perbankan), serta perwakilan aktivis pejalan kaki Kota Semarang Theresia Tarigan.

Kepala Bappeda Bambang Haryono dalam kesempatan itu mengatakan, Kota Semarang merupakan satu-satunya kota yang terpilih menjadi perwakilan Indonesia dalam program 100 Resilent Cities. 100 kota yang terpilih akan menerima pendanaan dan sumber daya pembangunan dari Rockefeller Foundation.

“Selain Kota Semarang, kota lain di antaranya New York, London, San Fransisco, Rio de Janeiro, Barcelona, Medelin, Rotterdam, Roma dan Melbourne,” ungkap Bambang Haryono dalam laporan kegiatan yang dibacakannya.

Kesempatan emas ini membuka peluang bagi Kota Semarang untuk dapat membangun jaringan, berbagi informasi, kolaborasi serta mempraktikkan berbagai inovasi dalam penanganan persoalan yang diakibatkan perkembangan kota.

“Tak hanya itu, Kota Semarng juga berkesempatan bekerja sama dengan mitra-mitra 100RC seperti Microsoft, IDB, World Bank, Cities Alliance, RMS, dan Swiss Re, baik dalam bentuk pendanaan maupun kerangkas studi, perencanaan, serta evaluasi,” katanya.

Launching program Resilent Cities di Kota Semarang, lanjut Bambang sudah dilaksanakan pada 2014 lalu dengan dilaksanakannya workshop Membangun Ketahanan Kota Semarang. Program ini akan dibagi dalam dua fase, yakni identifikasi permasalahan yang dihadapi sekaligus perumusan program prioritas dan fase kedua yakni perumusan strategi ketahanan sesuai aspek prioritas yang ditetapkan.

“Dengan pelibatan berbagai pemangku kepentingan, penyusunan strategi akan difokuskan pada empat kerangka, yakni kesehatan dan kesejahteraan, ekonomi dan sosial, infrastruktur dan lingkungan, serta kepemimpinan dan strategi,” tegasnya.

Sementara, Pj Walikota Kota Semarang Tavip Supriyanto menegaskan, kota yang sedang giat-giatnya membangun tak lepas dari risiko munculnya masalah sosial, fisik, maupun ekonomi.

“Untuk itu, upaya keras dari berbagai pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk membangun ketahanan kota. Program 100 RC ini kami harapkan membantu dan mewujudkan komitmen membangun Kota Semarang menjadi lebih tangguh dan berkembang agar dapat menjadi kota modern yang berkelanjutan,” tegasnya. (Bj)

Advertisements