Home Kesehatan Semarang Kota Ramah Lansia

Semarang Kota Ramah Lansia

459
Ibu-ibu lansia di panti werdha menerima coklat dari karyawan Noormans Hotel Semarang.

Semarang, 21/5 (BeritaJateng.net) –  Kota Semarang masih layak untuk kehidupan para lansia. Hasil kajian dari Bappeda Kota Seamrang menunjukkan jika angka harapan hidup untuk usia 60 tahun ke atas prosentasenya masih 77,21 persen.

Kepala Bappeda Kota Semarang, Bunyamin mengatakan jika setidaknya di atas usia 60 tahun lansia masih ada 19 tahun lagi bisa merasakan hidup layak di Kota Semarang. “Semarang sekarang menjadi kota yang layak untuk ditinggali lansia,” ujar Bunyamin, Selasa.

Dikatakan Bunyamin, maksimal usia lansia yang bisa merasakan hidup layak di Kota Semarang yaitu 77 tahun. Tentunya, kelayakan tersebut juga ditunjang beberapa faktor. Diantaranya yaitu keberadaan infrastruktur pendukung memang sudah berpihak juga kepada para lansia itu sendiri.

“Buktinya, angka harapan hidup 77,21 persen itu menandakan orangtua kalau bekerja usia 60 tahun masih punya 19 tahun lagi akan bisa tinggal secara baik di Kota Semarang,” tuturnya. Berbeda dengan kota-kota besar lainnya yang kelayakan untuk lansia melangsungkan hidup sangat rendah.

Dikarenakan belum adanya keberpihakan infrastruktur kepada lansia itu sendiri. Selain itu peran dari pemerintah daerah setempat yang ternyata kurang. Data Bappeda Kota Semarang per 2018 menunjukkan jika jumlah lansia di atas usia 60 tahun saat ini sebanyak 165 ribu orang.

Dikatakan Bunyamin, mereka sebagian besar bisa merasakan hidup yang layak saat tinggal di Kota Semarang. Selain keberpihakan infrastruktur, tipologi masyarakat juga sangat mendukung kelayakan lansia untuk tetap bisa hidup di Kota Semarang.

Artinya keberadaan lansia di tengah masyarakat maupun Pemkot Semarang tidak menjadi menjadi bebannya. Bahkan, lanjutnya, keberadaan lansia juga menjadi aset Pemkot Semarang. “Mereka juga ikut berkontribusi di pembangunan Kota Semarang,” tuturnya.

Dibuktikan dengan peran lansia di kampung-kampung yang sekarang masih dominan. Keaktifan lansia saat masih di usia muda membuat mereka tetap ingin ikut aktif dalam rangka proses pembangunan Kota Semarang.

Tentunya keaktifan mereka dimulai dari lingkungan tempat tinggalnya. ”Di kampung-kampung saat ini juga lansia juga masih menjadi penggerak warga. Bahkan seringkali di depan dan diikuti,” katanya.

Hal tersebut membuktikan jika lansia di Kota Semarang sampai sekarang tidak berdiam diri, namun juga ikut ambil bagian dalam pembangunan wilayah. “Itu saya buktikan pada saat musrenbang mereka justru jadi motor penggerak di kampung-kampung,” tuturnya.

Sehingga, Pemkot Semarang berkomitmen akan terus berpihak kepada para lansia itu sendiri. Mulai dari memberikan infrastruktur pendukung maupun pelayanan lain yang lebih baik. Seperti halnya pelayanan kesehatan khusus bagi lansia.

“Karenannya Pemkot Semarang akan terus menjaga kesehatannya, komunikasi, kita juga sedang siapkan fasilitas taman ramah lansia. Juga sudah kita fikirkan transportasi masal yang ramah lansia,” ujarnya.

Dari hasil kajian Bappeda Kota Semarang di ketahui jika lansia memiliki perkumpulan hingga tingkat kelurahan. “Pengurus perkumpulan lansia ini juga mendata anggota mereka. Kalau ada yang sakit akan cepat dilayani. Kelompoknnya itu sampai kelurahan,” ujarnya.

Salahsatu contoh infrastruktur yang sudah ramah yaitu keberadaan kamarmandi umum khusus untuk lansia. “Ada kamar mandi tentu ada khusus untuk orang tua. Seperti kalau jongkok kan lansia tidak kuat lama maka dibuatkan yang ada pegangannya,” ujarnya.

Selain itu upaya Pemkot Semarang dalam memberikan perhatian kepada lansia yaitu memberikan anggaran untuk pemberdayaan sebesar Rp 40 juta setiap tahunnya per kecamatan. “Untuk senam lansia, pemeriksaan kesehatan, sosialisasi terkait penyakit, motivasi, pembinaan keagamaan. Disesuaikan dengan potensi, dan itu DPA nya di kecamatan dan usulannya dari musrenbang,” ujarnya. (El)