Home Headline Sektor Pencarian AirAsia Diperluas

Sektor Pencarian AirAsia Diperluas

  • Tragedi AirAsia
KRI Usman dan Harus saat bersandar di Pelabuhan Tanjungemas Semarang, sebelum melakukan pencarian AirAsia

Jakarta, 6/1 (Beritajateng.net) – Badan SAR Nasional (Basarnas) menambah sektor prioritas operasi untuk pencarian bagian besar pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di sekitar perairan Teluk Kumai, Kalimantan Tengah, pada Minggu (28/12).

“Untuk operasi hari ini, karena perkembangan evaluasi teknis dan taktis hasil dari kemarin, maka hari ini akan dilakukan tambahan area pencarian prioritas. Saya sebut di situ area pencarian prioritas yang kedua,” kata Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya TNI FHB Soelistyo di Jakarta, Selasa.

Letak sektor prioritas kedua tersebut, ia menjelaskan ada di dalam sektor tambahan, di luar sektor prioritas yang pertama.

Yang dikerjakan di daerah operasi pada hari kesepuluh, lanjutnya, untuk di empat sektor yang telah ditetapkan sejak awal tetap dilakukan pencarian korban dan serpihan pesawat yang kemungkinan terbawa arus.

Sedangkan di dalam sektor prioritas kedua, ia mengatakan tim SAR gabungan berupaya mencari yang diduga bagian pesawat dan juga kotak hitam. Operasi di sektor ini dilakukan kapal-kapal yang mempunyai alat dan sistem pencarian untuk objek di bawah permukaan air.

Dalam sektor prioritas kedua tersebut, menurut dia, sudah ada KRI Hasanuddin, KRI Usman Harun, kapal Geosurvey, kapal Baruna Jaya I. “Mereka bahu-membahu untuk mencari dengan bantuan alat baik itu sistem sonar dan ‘pinger locater'”.

Pada sektor prioritas satu masih ada yang melakukan pencarian dengan sasaran korban yang mengapung dan terbawa arus. Unsur udara dan unsur lainnya semua mencari korban hingga serpihan di empat sektor yang sejak awal sudah dibagi.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto, Minggu (4/1), mengatakan kapal riset Baruna Jaya I (BJ1) lakukan pencarian Air Asia QZ8501 menuju lokasi operasi baru atas persetujuan Basarnas.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT Ridwan Djamaluddin mengatakan Minggu (4/1), Kapal Baruna Jaya I bergerak ke arah barat laut di sektor I area pencarian.

“Dalam proses pencarian ini kita menggunakan teknologi sonar multibeam echo sounder, pendeteksi logam, serta ROV (remotely operated vehincle–red). Hari ini kita menambah ‘pingger locator’ untuk mendeteksi kotak hitan juga,” ujar dia.

Terkait lokasi yang dituju, ia mengarahkan didasarkan pada hitungan ilmiah diyakininya sektor I ini potensial, karena arus bergerak ke arah barat laut. “Kita membuat model arah kapal, berdasar koordinat temuan jenazah, dan reruntuhan pesawat untuk menentukan lokasi objek.” Kapal Baruna Jaya I pada Minggu (4/1) bergerak menuju lokasi yang disebutkan oleh Kepala Balai Teksurla (Balai Teknologi Survei Kelautan–red). Perjalanan menuju lokasi tersebut memakan waktu sekitar sembilan jam, dengan mengikuti petunjuk kepala balai dan arahan Basarnas.

Menurut dia, telah dibuat rencana jalur pemetaan yang akan menghabiskan waktu kurang lebih 60 jam, belum termasuk manuver kapal. Secara hitungan matematis pemetaan di daerah tersebut akan memakan waktu tiga harian.(Ant/Bj02)