Home News Update Sekolah Penyandang Autisme Pertama di Semarang

Sekolah Penyandang Autisme Pertama di Semarang

5116

image

Semarang, 9/1 (beritajateng.net) – Pengalaman memang guru paling berharga. Dengan pengalaman, orang dapat menelaah, menilai, belajar dan melakukan sesuatu, bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain. Ya, pengalaman adalah inspirasi dari sebuah aktuakilisasi.

Adalah Mardiani Sulistyo Wati, pendiri sekaligus ketua Yayasan Bintang Nusantara Gemilang, sebuah sekolah khusus bagi penyandang Autisme pertama di Semarang.

Mardiani sapaan akrabnya, banyak memetik makna di balik pengalamanya bersama putra pertamanya yang mengalami kebutuhan khusus.

Pergulatan dengan dunia autisme diawali ketika putra pertamanya yang sekarang berusia 16 tahun didiagnosa gangguan khusus autisme saat usia enam bulan.

Perjuangan menjadi orang tua, mendidik, mencarikan sekolah hingga terapi adalah pengalaman luar biasa bagi Mardiani dan Hendra Nuryawan.

“Saya mengenal dunia autisma karena terpaksa, karena anak saya penyandang autisma. Jadi anak saya yang pertama sekarang usia 16 tahun itu penyandang autism yang terdiagnosa saat usia enam bulan. Sejak saat itu mau tidak mau saya harus mengerti betul apa itu autism dan bagaimana penanganannya,” tuturnya.

Menurutnya, dulu tahun 2008 pengetahuan tentang autism belum banyak di ketahui. Sehingga saya belajar sendiri bagaimana cara menerapi, sehubungan dengan gangguan-gangguan yang dimiliki sehingga saya tau bagaimana cara penanganannya dan kondisi anak saya sendiri.

Perempuan kelahiran Surakarta, 1 Maret 1972 ini akhirnya membentuk sebuah yayasan sebagai wadah belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus penyandang autisme.

Yayasan yang di bentuk tahun 2008 ini awalnya bermula dari memanggil terapis kerumah kemudian ada teman yang ikut dan rutin sharing, mengadakan pertemuan rutin orang tua penyandang autism disini, kemudian tahun 2008 kita dirikan sekolah khusus ini dan menerima murid.

Kendala sekolah autisme memang cukup banyak, selain belum tersosialisasi baik dimasyarakat maupun pemerintahan, belum banyak pula sekolah penyandang autism di Semarang.

“Seperti di awal kita mau melegalkan sekolah ini juga bingung, mau ke dinas pendidikan atau dinas sosial. Ketika di dinas pendidikan itu masuk sekolah khusus atau SLB. Jadi belum ada aturan resmi,” tambahnya.

Beralamat di Tembalang Semarang, sekolah ini memiliki sistem pembelajaran yang berbeda, tiap satu murid itu satu kurikulum dan itu kurikulumnya berbeda.

Jadi saya punya 13 murid dengan 13 kurikulum. Tentunya dengan satu murid diampu dua atau tiga guru. Sekolah autis ini akan dikembangkan lagi dengan bantuan dari CSR BNI KCU Undip Jalan Imam Barjo Semarang senilai Rp. 64 juta.

“Harapannya semoga pendidikan penyandang autisme ini mendapat perhatian yang khusus karena butuh penanganan yang khusus pula dalam pendidikannya. Terlebih sekolah autisme merupakan sekolah inklusif yang harus mendapatkan perhatian pula dari pemerintah,” tutur Mardiani. (BJ05)