Home Alkisah Sehidup Semati, Pasutri Asal Sukoharjo Meninggal Di Tanah Suci

Sehidup Semati, Pasutri Asal Sukoharjo Meninggal Di Tanah Suci

182
0
Sehidup Semati, Pasutri Asal Sukoharjo Meninggal Di Tanah Suci
             SUKOHARJO, 7/9 (BeritaJateng.net) – Kabar duka datang dari Tanah Suci, pasangan suami-istri (pasutri) asal Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, Sudarso (82), dan Sumiyati (72) meninggal dunia dalam waktu yang bersamaan seusai menjalankan  rukun haji yang menjadi kewajibannya.
            Sumiyati meninggal terlebih dahulu pada hari Sabtu (2/9/2017) waktu Arab dan Mbah Darso menyusul kepergian istrinya pada hari Senin (4/9/2017). Saat ini keduanya telah dimakamkan di pemakaman umum di Tanah Suci Mekah Al Mukaromah.
             Mereka berdua tergabung dalam kelompok terbang (kloter 36) yang berangkat pada 8 Agustus lalu melalui Embarkasi Haji Donohudan Boyolali. Sejak keberangkatan pasangan yang sudah berusia senja ini sudah menjadi perhatian. Sumiyati yang duduk pasrah di atas kursi roda didorong perlahan oleh suaminya Mbah Darso.
              Mereka salah satu dari ribuan jamaah haji Indonesia yang masuk dalam kategori haji yang berisiko tinggi (Risti). Salah satu sebabnya karena jadwal tunggu haji yang panjang dan kebanyakan sudah berusia lanjut.
              Kisah keduanya sangat menyentuh hati dan menginspirasi pasangan lainnya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Keduanya saling membantu, terutama saat melaksanakan ibadah haji. Ditengah fisiknya yang sudah tidak sekuat dulu lagi Mbah Darso melayani istrinya dengan sabar, menyuapi hingga mengganti pakaian Sumiyati.
               “Selama ini bapak sudah biasa merawat ibu. Saat dirumah ketika ibu sakit bapak juga yang merawat,” jelas Putut salah satu menantu dari Mbah Darso yang ditemui di rumah duka di Gonilan, Sukoharjo.
              Putut juga sampaikan tiga hari sebelum keberangkatan, simbah putri sempat masuk rumah sakit. Saat itu bapak meminta untuk diantar membesuk ke rumah sakit.
               Saat itulah menurut Putut Mbah Darso terus memberikan semangat pada wanita yang sudah mendampinginya hingga usia senja. Saat itu harapan Mbah Darso agar istrinya segera sehat.
               “Bojoku sing ayu dewe, ayo gek diwaraske. Sesuk mangkat dimakakni mangkat bareng mulih yo bareng. Aku ora arep ninggal tak enteni,” ucap Putut menirukan Mbah Darso.
              Sementara itu, Joko Sudaryanto, putra ke tiga Mbah Darso mengaku pihak keluarga sudah mengikhlaskan kepergian kedua orang tuanya. Bahwa keluarga ikhlas dan bersyukur, kedua orang tuanya sudah melaksanakan semua prosesi rukun dan wajib haji termasuk wukuf di Padang Arafah, mabid di Musdhalifah dan di Mina dengan bantuan pendamping haji dari tanah air.
              “Sedari awal kita sudah ikhlas lahir batin. Terlebih lagi dengan kondisi orang tua yang sudah sepuh, kita sudah pasrah. Kita berharap orang tua bisa pulang ke tanah air. Namun Allah berkehendak lain, jadi harus ikhlas lahir batin,” ungkap Joko.
               Kebersamaan mereka papar Joko tidak bisa dipungkiri. Saat itu pada 2016 lalu, Mbah Darso bersama istri berkesempatan berangkat haji namun dengan kloter yang berbeda.
                “Namun bapak menolak, alasannya harus bersama ibu. Akhirnya kesempatan itu dilepas dan diberikan pada pihak lain yang diprioritaskan berangkat. Dan 2017 ini keduanya bisa berangkat dalam satu kloter,” ungkap Joko.
                  Terkait pemakaman jenasah keduanya di tanah suci, keluarga sudah merelakannya. Keluarga sudah paham konsekuensinya jika ada yang meninggal di sana akan langsung di makamkan di sana, dan tidak boleh dibawa pulang.
               “Lahir batin sudah ikhlas, disana dimakamkan di tanah Allah, disini juga tanah Allah jadi sama saja,” pungkasnya. (DB/EL)