Home Life Style Segudang Prestasi Freestyle LXS Usai Peroleh Sarana dari Kepolisian

Segudang Prestasi Freestyle LXS Usai Peroleh Sarana dari Kepolisian

833
Komunitas Freestyle Loenpia Extreme Semarang (LXS)

Semarang, 9/4 (BeritaJateng.net) – komunitas Otomotif freestyle Semarang yang tergabung dalam Komunitas Freestyle Loenpia Extreme Semarang (LXS) setelah mendapat tempat sarana oleh pihak kepolisian, kini bertambah sukses bahkan mendapatkan segudang prestasi.

Sekelompok anak muda yang mencintai olahraga otomotif freestyle sebelumnya harus kucing-kucingan dengan Kepolisian. Atraksi akrobatik seperti mengangkat roda depan sepeda motor atau yang sering disebut stoppie, burnout, one hand circkle wheelle, dan masih banyak lagi dilakukan di jalan raya, sehingga dianggap menganggu lalu lintas oleh pihak kepolisian. Namun setelah digandeng pihak kepolisian dan diberikan tempat, komunitas freestyle ini ternyata bisa menyabet segudang prestasi.

Komunitas yang dibentuk sejak 9 Juni 2006 ini, sengaja dibuat lantaran adanya keprihatinan atas banyaknya komunitas motor liar yang melalukan balap liar di Jalan Pahlawan Semarang. Selain itu, pebentukan komunitas ini sebagai bentuk keprihatinan dan kegelisahan tidak adanya wadah bagi pecinta freesytle motor ekstrim.

“Dulu banyak yang balapan di Jalan Pahlawan, kami sebaliknya. Kami melakukan aksi akrobat untuk menunjukkan eksistensi, kalau kami datang balapan pun selesai dan mereka malah menonton kami beraksi,” tutur ketua LXS Choirul Syaifudin.

Aroel, nama sapaannya mengaku jika dunia freestyle di Indonesia, ataupun Semarang memang kurang mendapatkan dukungan. Bahkan minimnya sarana dan event membuat mereka harus bermain dijalan raya, walaupun bisa dibilang banyak memberikan hiburan bagi pengguna jalan. Aksi mereka sempat dianggap ilegal oleh beberapa pihak sehingga ditertibkan. Hingga akhirnya tangan dingin dari AKP Agus Suryo yang dahulu sebagai berdinas di Semarang memberikan ruang dan menggandeng mereka untuk bisa berprestasi.

“Dulu kami kaget waktu latihan disambangi polisi, kami sempat takut lantaran kami sering bermain di Jalan Pahlawan. Beliau malah menggandeng kami dan dimasukkan ke Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM). Kami pun mendapatkan dukungan untuk berprestasi,” terangnya.

Tak ingin disebut komunitas liar yang kerap mengganggu kenyamanan warga,  pria berumur 33 tahun ini selalu menekankan anggotanya tertib aturan, berlatih di tempat yang disediakan dan terus berkreatif sampai akhirnya memenangkan berbagai kejuaraan freestyle yang diselenggarakan didalam dan diluar Semarang.

LXS ini mempunyai segudang prestasi. Di antaranya Juara I Matic (Surya12, Kediri 2011), Juara 1 Matic (Surya12, Surabaya 2011), Juara I Matic Freestyle Competition Djarum Black 2011 Seri 1 (22 Okotber 2011 Magelang), Juara 1 Matic Profesional; U Mild Feestrack Stunride Competition 2011 (Surabaya), Juara 1 Matic Freestyle Competition Djarum Black 2011 Seri2 (9 Desember 2011, Yogyakarta), Juara 1 Matic U Mild Feestrack Stunt Competition 2012 (Sukabumi), Juara 1 Matic Open: All You Can Ride Freestyle Competition 2012 (Yogyakarta). Terbaru, para ridersnya menyabet Juara 1 kelas sport, Juara 2 kelas Pro Matic, Juara 2 Kelas Regional Matic dan Juara 2 Tim Exibishi di Sidrap Sulawesi Selatan penghujung 2014 lalu. Anggotanya bukan hanya dari Semarang, tercatat ada dari Pati, Purwodadi, Kendal hingga Solo.

Menurutnya, jika mendapatkan ruang generasi muda yang ada di Semarang bisa menyabet segudang prestasi, freestyle sendiri tidak dilakukan asal-asalan lantaran harus memiliki keberanian dan nyali untuk melakukannya. Selain itu skill mumpuni harus dimiliki setiap orang yang ingin menjadi freestyler.

“Ada 4 kemampuan l dasar yang harus dimiliki seorang freestyler yakni wheely (berputar), stoopie (mengangkat roda belakang), burn out (membakar ban) hingga akrobatik, 4 syarat tadi adalah basic yang digunakan sebagai resgulasi dalam lomba freestyle,” jelasnya yang merupakan seorang freestyler motor ekstrim ini.

Setelah berdiri 10 tahun, kini LXS memiliki 25 anggota dengan 6 rider freestyle yang berprestasi. Riders dari LXS sendiri berasal dari pembinaan yang dilakukan dengan merangkul club freestyle yang ada di beberapa daerah seperti Pati, Kendal, Grobogan, Semarang dan Solo.

“Namanya anak muda, pasti mereka ingin mencari jatidiri. Untuk itu kami merangkul beberapa anggota dari daerah, banyak dari mereka yang bisa berbicara ditingkat nasional. Salah satunya adalah Tino Cemani asal Pati dan Bagus Ucil yang masih berumur 15 tahun,” katanya.

Untuk Jawa Tengah dan Semarang sendiri, menurutnya masih kurang pembinaan dari pemerintah. Hal ini lah yang membuat freestyle di Jawa Tengah bisa dibilang ketinggalan dengan kota besar lain seperti Makasar. Selain itu minimnya sponsor atau donatur membuat para atlit yang memiliki talenta tidak bisa unjuk gigi ditingkat nasional.

“Jangankan ngomomg JawaTengah, di Semarang sendiri freestyle masih dianggap sebelah mata. Even pun sangat minim, kalaupun ada pasti terbentur dana dan beberapa club lokal dari daerah tentu tidak bisa ikut. Hal ini pula yang membuat kami merangkul mereka, untuk bergabung dan kami menyalurkannya ketika ada event,” keluhnya.

Minimnya even yang digelar, membuatnya selalu memberikan motivasi kepada beberapa altit yang tergabung dari LXS. Jika motivasi tidak diberikan, dirinya khawatir mental dari atlit akan down dan malah mencari uang dengan balapan liar.

“Saya tanamkan Semangat kepada mereka semua, seperti sejarah akan tercipta dan freestyle bisa besar karena kalian sendiri. Selain itu saya juga bilang kalau freestyle itu hobi, jangan cari uang di olahragha ini. jika ada lomba itu prestasi kalau ditawari eksibishi itu rejeki,” terangnya.

Dalam setiap latihan yang dilakukan pada hari Minggu, di area GOR Jatidiri Aroel selalu menyempatkan diri untuk mendampingi dan memberikan intruksi teknik freestyle yang benar. Dalam latihan pun ia mewajibkan anggotanya untuk tetap memakai alat keselamatan tubuh sepeti helm fullface, kneeprotector, pelindung dada, dan pelindung leher.

“Dalam latihan keamanan juga harus diperhatikan, kita biasakan itu tidak hanya dalam lomba,” ucapnya.

Keamanan sendiri menurut dirinya sangat wajib bagi freestyler, sebab, risiko jatuh membuat lecet – lecet hingga luka cukup parah bisa saja terjadi.

“Resiko lain ya motor rusak. Tak kalah penting itu harus punya nyali. Percuma kalau sarana prasarana ada, tapi enggak punya nyali,” tambahnya.

Dirinya berharap agar dunia freestyle di Semarang bisa berkembang, dirinya pun meminta kepada Pemerintah untuk memberikan ruang dan dukungan kepada freestyler sama halnya seperti olahraga motor lainnya seperti road race hingga drag race.

“Kami harap pemerintah bisa mendukung kami. Bagi penggila freestyle yang ingin bergabung dan membersarkan dunia freestyle di Semarang bisa datang ke sekretariat kami, Jalan Taman Karonsih 2 nomor 1129 RT5RW4 Perumahan Sulanji Ngaliyan. Atau bisa menghubungi saya di 085225416969,” tambahnya.(BJ06)