Home Headline Sebilah Australia Lukai Korban Tsunami Aceh

Sebilah Australia Lukai Korban Tsunami Aceh

dok. radioaustralia.net.au
dok. radioaustralia.net.au
dok. radioaustralia.net.au

LIPUTAN KHUSUS

“Bila pedang melukai tubuh masih ada harapan sembuh, bila lidah melukai hati kemana obat hendak dicari”.

Sepengal kata mutiara ini adalah perasaan hati yang dirasakan saat ini oleh masyarakat korban tsunami di Provinsi Aceh.

Setelah 10 tahun lebih melewati masa sulit gempa disusul gelombang tsunami, 26 Desember 2004 meluluhlantakan sebagian besar pesisir Aceh, saat ini luka itu seperti kembali dibuka oleh pernyataan Perdana Menteri Australia Tonny Abbott yang mengungkit bantuan pernah diberikan untuk Aceh.

Pernyataan PM Australia Tonny Abbott sebenarnya agar Indonesia “membalas” apa yang pernah diberikan untuk korban tsunami Aceh dengan membatalkan hukuman mati terhadap duo Bali Nine yang menjadi terpidana penyelundupan narkoba.

Alangkah sakitnya perasaan dan hati orang Aceh yang mungkin pernah mencicipi bantuan Negeri Kanguru tersebut. Ibaratnya, bila masih mungkin apa yang dimasukan dalam perut dimuntahkan keluar agar puas hati yang mengungkit apa yang sudah diberikan.

Edi Candra salah seorang korban tsunami di Kabupaten Aceh Barat yang saat ini kembali bangkit dengan masyarakat, bereaksi dengan membuat berbagai aksi, mulai dari melelang batu giok Aceh dan menggalang koin untuk mengembalikan bantuan Asutralia.

“Kita masyarakat Aceh merasa cukup dilecehkan dan dihina, sepanjang sejarah kita tidak pernah meminta untuk dibantu, pemerintahpun kami yakin tidak mengemis pada negara luar membantu Aceh saat bencana tsunami 2004,” katanya di Meulaboh.

Kenapa bantuan yang pernah diberikan harus diungkit lagi? Bila negara mereka tidak ikhlas dengan apa yang diberikan, maka korban tsunami Aceh dengan berbagai daya akan mengumpulkan koin untuk mengembalikan bantuan mereka senilai Rp13 triliun.

Hati masyarakat Aceh saat ini sudah teriris dengan pernyataan PM Australia Tonny Abbott. Meskipun ada WNA mereka yang berupaya menyejukan hati, tetapi hal itu tetap saja masih membekas atas kata-kata yang sudah dikeluarkan Abbott.

Rakyat Aceh secara nyata mendukung kebijakan pemerintah dalam eksekusi terpidana mati, dan itu tidak mesti warga Australia, akan tetapi warga manapun yang mencoba merusak bangsa Indonesia dengan memberi racun narkoba.

Edi Candra yang juga Koordinator Gerakan Pejuang Rumah Tsunami (GPRS) Aceh Barat ini menyatakan tidak dapat mengukur kapan aksi dihentikan sebagai reaksi dari rasa sakit hati dan kecewa masyarakat korban tsunami di wilayah itu.

Dirinya juga memintakan pemerintah harus berkomitmen atas penegakan hukum eksekusi terpidana mati dua Bali Nine Myuran Sukumaran dan Andrew Chan. Persoalan mengantikan bantuan mereka akan terus diupayakan, harapan besar pemerintah juga membantu mengembalikan bantuan Australia.

“Pemerintah jangan cegeng seperti Australia, kalau sudah bilang A untuk eksekusi segera dilakukan, jangan ada lagi karena pertimbangan B, apalagi atas dalih bantuan kemanusiaan, terpidana mati dibebaskan,” katanya.

Kuburan yang sudah digali oleh belasan warga di Desa Ujong Kalak, Kecamatan Johan Pahlawan, sengaja untuk mengobati rasa sakit hati masyarakat yang pernah kehilangan keluarga dihantam gelombang tsunami 2004.

Korban tsunami meminta dua mayat terpidana mati WNA Australia dikirimkan ke Aceh untuk dikuburkan sebagai bentuk sindiran ungkapan balas jasa masyarakat Aceh atas apa yang sudah diberikan untuk provinsi ujung barat Indonesia itu.

Harus Minta Maaf Mengetahui Wakil Presiden RI Jusuf Kalla juga menyatakan siap menganti bantuan negara Kanguru untuk Aceh, sedikit menyejukan hati untuk warga Aceh.

Masyarakat Aceh mendesak Perdana Menteri Australia Tonny Abbott meminta maaf kepada rakyat Indonesia, terutama korban tsunami Aceh 2004, karena pernyataannya telah menyinggung perasaan mereka.

Korban tsunami di Aceh Barat mengungkapkan rasa penyesalan telah menerima bantuan saat itu, kata Rahmad. Bantuan negeri Kanguru tersebut sebagian besar adalah pakaian bekas, sarana pendidikan anak sekolah, seperti buku dan alat tulis dan tenda.

Tidak ada bantuan berupa sarana infrastruktur ataupun bangunan yang kawasan itu pemberian negara Australia, sehingga masyarakat Aceh sangat menyesal telah menerima bantuan yang tidak berbekas itu.

“Kalau ada bangunan bantuan mereka hari ini kami bongkar dan kami pulangkan. Persoalannya, bantuan mereka sudah tidak ada yang terlihat, seperti tangki air, pompa air di tempat pengungsian. Mana ada lagi semua itu sekarang,” kata Rahmad Ojer, salah seorang warga yang kehilangan orang tua saat tsunami 2004 di sela-sela menggalang koin.

Masyarakat Aceh Barat masih terus melakukan penggalanan koin serta mencari peluang pemasukan uang seperti lelang batu giok Aceh yang saat ini harganya bernilai jutaan rupiah, berharap dari donasi itu dapat terkumpulkan.

Komitmen mengembalikan bantuan Australia untuk Aceh didukung penuh oleh anggota DPR RI dari daerah pemilihan Aceh 11, Nasir Djamil, bersama rakyat Aceh langsung pada kedutaan besar Australia lewat Koin Garuda Indonesia untuk Australia.

Mahasiswa Aceh yang mendapatkan beasiswa belajar ke negeri Kanguru juga sudah menyatakan kepada dirinya, siap untuk mengembalikan bantuan mereka sebagai bentuk kekecewaan.

Menurut anggota Komisi III DPR-RI ini, wajar apabila masyarakat Aceh tersinggung dengan pernyataan PM Australia Tonny Abbott, karena apa yang diberikan diungkit kembali setelah 10 tahun lamanya.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah juga ikut mengomentari pernyataan PM Australia ini. Menurut dia tidak etis bila mengaitkan bantuan diberikan untuk Aceh untuk membatalkan eksekusi terpidana mati warganya yang menyelundupkan heroin ke Indonesia.

Zaini Abdullah juga meminta PM Australia segera meralat apa yang sudah disampaikan karena hal itu menyakiti hati serta perasaan korban tsunami bahkan bangsa Indonesia yang telah menerima bantuan mereka itu.

Dirinya juga menyatakan, bantuan kemanusiaan negeri Kanguru untuk Aceh saat itu hanya senilai 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp13 triliun pada saat tanggap darurat dan rehab-rekons Aceh pascatsunami 26 Desember 2004.

Harapan masyarakat Aceh, Pemerintah Australia harus minta maaf, bila perlu PM Tonny Abbott datang langsung ke daerah “Serambi Mekkah”, sehingga bisa mengobati luka hati rakyat. (ant/BJ)

Advertisements