Home News Update Sebelum Tolak Full Day School, Pahami Dulu Regulasinya  

Sebelum Tolak Full Day School, Pahami Dulu Regulasinya  

37
0
MUI Semarang Tak Setujui Sekolah Lima Hari
             KENDAL, 1/8 (BeritaJateng.net) – Kebijiakan full day school (FDS) Mendikbud untuk semua jenjang tingkat pendidikan menuai penolakan dari berbagai kalangan. Seperti dari NU dan para pendidik dari lembaga pendidikan Madrasah Diniyah (Madin). Pasalnya, sekolah lima hari jika diberlakukan dikawatirkan dapat menyebabkan sekolahan madrasah diniyah (Madin) akan gulung tikar.
              Kepala LPMP Jawa Tengah, Harmanto, mengatakan kekhawatiran itu sangatlah berlebihan. Menurutnya Permendikbud itu haruslah disikapi dengan bijaksana. Sebab sebelum Permendikbud sekolah lima hari sekolah, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sudah memberlakukan peraturan lima hari kerja lebih dulu.
             Dengan merujuk  surat itu, sudah ada sekolahan-sekolahan yang memulainya, yakni  menerapkan sekolah lima hari. Terkait lima hari sekolah itu Permendikbudnya sudah ada, dan hanya menunggu dinaikkan menjadi peraturan presiden (Perpres).
               “Ya, kita tunggu saja peraturan presidennya. Soal FDS ini sudah ada sekolah yang memulainya. Sekolah di Jawa Tengah itu sudah lima hari, jadi sudah tidak kaget mas,” kata dia, saat berada di SMKN 4 Kendal, kemarin.
               Menurut Harmanto, adanya resisten  FDS itu bukan kontra, karena kemungkinan mereka belum  membaca aturanya. Sehingga apabila misalnya sudah baca aturanya seperti apa seluk beluknya, dan memahami dengan betul  serta tidak emosional, maka barulah dapat dikatakan bahwa kebijakan FDS ini kotra apa tidak.
               Siswa juga tidak hanya mendapatkan pelajaran di kelas, kurikuler saja,Tapi juga non kurikuler. Contoh, di Jawa Tengah kental dengan apa, misal budayanya, diajarkan melalu apa, apakah melalui tambahan jam itu.
               Ataukah dengan bilup di materinya, bisa melalui materi langsung di bilup dan juga bisa dipisahkan. “Ya, kita juga ndak mau kok, kalau kebijakan FDS itu merugikan, maka baca dulu aturanya seperti apa, harapanya apa, baru kita komentari,” terang dia.
                Harmanto berharap, seandainya memungkinkan, maka sekolah-sekolah yang umum, yang berdasarkan data tamatanya (lulusan) SMA tidak melanjutkan. Karena anak-anak itu mempunyai kondisi orangtua yang tidak mampu segi pembiayaan untuk melajutkan.
                  Sehingga dengan kondisi yang tidak bisa melanjutkan itu maka siswa SMA harus  diberikan ketrampilan, supaya sudah lulus dari SMA mempunyai ketrampilan dan bisa laku kerja,  lebih-lebih lagi mempunyai sertifikatnya. “Keterampilan yang tersertifikasi, di SMK itu ada ketrampilan yang tersertifikasi. Dimana digarapnya pemberian ketrampilan itu, di SMA, jika di SMA ndak bisa, ya di SMK,” tukas dia.
                 Harmanto, menyatakan  banyak yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan sekoah lima hari itu dan justru bahkan menguntungkan. Dengan sekolah lima hari itu, sehingga pada hari minggu dan sabtu bisa digunakan untuk keluarga. Dengan demikian, madharatnya lebih kecil dan banyak manfaatnya dengan menerapkannya.
                 Sebaiknya, Madin bisa dibawa ke sekolahan,dan krikulum yang ada di Madin dapat diset untuk diajakkan di sekolahan. Ia meminta bagi yang belum memahami FDS dengan betul jangan berfikir kotak-kotak, seolah-olah kehilangan, justru dengan dibawa ke sekolahan, guru Madin akan bisa lebih bagus, akan lebih bagus lagi apabila diorganisir ke sekolah.
                 “Pendidikan yang diasuhkan kesiswaanya,  maka kepala sekolah bertanggung jawab. Tapi bagaimana kalau kepala sekolah tidak melihat proses pendidikan di luar sekolah, ya, lebih baik ditarik ke dalam, bisa jadi nantinya BOS nya membantu membiayai guru ngajinya, kan selama ini saweran,” tambahnya.
                 Harmanto menambahkan dengan menggunakan kaca mata yang jenih maka Madin lebih baik dikelola satu sekolah. Pembeajaran (ngajianya) itu di bawa ke sekolah, dengan penjadwalan, anak-anak mendapatkan pembelajaran sholat secara bersama-sama. Bisa juga sesekali di bawa ke madrasahnya.
                 Menurutnya, budaya bersih dan disiplin itu mudah diucapkan, akan tetapi prakteknya harus dengan di tempat yang bersih. Contoh, di Jawa Tengah kental dengan apa ini, misal budayanya, diajarkan melalu apa, apakah melalui tambahan jam itu. ataukah bilup di materinya, bisa melalui materi langsung di bilup dan juga bisa dipisah.
                   “Anda mengajarkan kebersihan di tempat yang kotor mungkin tidak. Anda mengajarkan disiplin di tempat yang tidak disiplin, ya nggak bisa lah. Anak-anak itu lebih belajar dengan matanya bukan dengan telinganya, jadi menurut saya sekolah lima hari lebih baik,” pungkas dia. (sty/el)