Home News Update Sebanyak 208 Pejabat di Semarang Dilantik

Sebanyak 208 Pejabat di Semarang Dilantik

image
Suasana pelantikkan 208 pejabat Kota Semarang

Semarang, 9/1 (beritajateng.net) – Sebanyak 208 Aparatur Sipil Negara (ASN) kota Semarang mengikuti pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan pejabat eselon III, IV dan V yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah Kota Semarang Adi Trihananto di Ruang Loka krida Lantai 8 Gedung Moch Ihsan kompleks Balai Kota Semarang, Jumat Sore.

Pada mutasi kali ini, jabatan tertinggi pada dua kepala bagian yang saling bertukar tempat, yakni Achyani, semula Kabag Umum dan Protokoler menjadi Kabag Hubungan Masyarakat Setda Kota Semarang. Posisi Kabag Umum dan Protokoler kini dipegang Pamudjiono yang sebelumnya menjabat Kabag Humas Setda Kota Semarang.

Sekda Kota Semarang Adi Trihananto mengatakan, pada mutasi PNS kali ini untuk mengisi kekosongan atau pergeseran jabatan, dan merupakan hal yang biasa dalam organisasi sebagai bentuk “penyegaran”.

“Untuk kepala sekolah, ada 76 jabatan. Dari 76 kepala sekolah yang dimutasi, kebanyakan memang sekolah dasar (SD). Selama ini kan ada 26 SD yang dipimpin pelaksana tugas (Plt) kepala sekolah,” katanya.

Ia mengatakan para kepala sekolah yang masih Plt itu kemudian menjalani diklat dan diangkat sebagai pejabat definitif atau istilah tepatnya guru yang diberikan tugas tambahan sebagai kepala sekolah.

Namun, kata dia, ada sebagian dari para Plt kepala sekolah yang harus menjalani diklat setelah mereka menduduki jabatan nantinya.

Pada kesempatan itu, Adi menegaskan bagi pejabat yang sudah disumpah dan janji sebagai eselon III harus melaksanakan tugas yang sudah diberikan sesuai dengan konsekuensi atas jabatannya.

“Pejabat tadi kan sudah disumpah dan janji sanggup sebagai pejabat eselon III. Risiko sebagai pejabat eselon III sesuai SK wali kota, mereka bertindak sebagai kuasa pemegang anggaran (KPA),” katanya.

Terkadang, kata dia, ada yang merasa karena boleh menyampaikan ketidaksanggupannya, kemudian menyampaikan ketidaksanggupan sebagai KPA, tetapi masih menginginkan jabatan eselon III.

“Ya, tidak bisa. Kalau tidak mau jadi KPA, ya, berarti tidak mau jadi eselon III. ‘Mosok gelem jabatane tapi ra gelem gaweane’ (‘masa’ mau jabatannya, tetapi tidak mau tugasnya),” tukas Adi. (BJ05)