Home News Update Sebanyak 170 Ipal di Semarang Belum Optimal

Sebanyak 170 Ipal di Semarang Belum Optimal

Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH), Jefry Budiman.
Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH), Jefry Budiman.
Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH), Jefry Budiman.

Semarang, 26/1 (BeritaJateng.net) – Buruknya sanitasi, membuat Indonesia menjadi peringkat pertama predikat negara terburuk dalam sanitasi di wilayah Asean. Selain itu, 100.000 anak Indonesia mengalami diare yang disebabkan kuman.

Hal itu disampaikan oleh Regional koordinator Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH), Jefry Budiman dalam acara Training of Traniner dalam hal penggunaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal) di Hotel Grasia Semarang.

Dalam acara tersebut, hadir pula stake holder dari Pemkot Semarang meliputi Bappeda, PKK dan lain-lain.

Dengan tidak adanya Ipal, pencemaran sungai juga akan semakin buruk.

“90 persen limbah yang ada di sungai justru dihasilkan oleh limbah domestik (sampah rumah tangga). Sisanya adalah limbah industri,” tambahnya.

Hal serupa juga diutarakan Direktur Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan HAM (SPEK-HAM) Endang Listiani. Dia berharap, dengan mendukung program pemerintah ini, akan tercipta kehidupan yang lebih sehat.

Jefry menambahkan, sekitar 170 Ipal komunal di Kota Semarang belum maksimal. Di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) pun pengolahan lumpurnya masih kurang optimal lantaran biaya yang lumayan tinggi.

“Biaya tinggi ini membuat sebagian orang lebih memilih membuang limbahnya ke sungai dan akhirnya menimbulkan pencemaran,” paparnya.

Diharapkan, dalam pelatihan ini nanti 32 trainer yang hadir bisa mengajak mayarakat di lingkungannya untuk memperhatikan sanitasi dengan cara penggunaan Ipal. (BJ05)