Home Lintas Jateng Satu Keluarga Mengungsi Akibat Tanah Retak

Satu Keluarga Mengungsi Akibat Tanah Retak

image
Ilustrasi

Temanggung, 24/11 (Beritajateng.net) – Munculnya tanah retak di Dusun Seneng Desa Pateken Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengakibatkan keluarga Julaeni Nurrosikhin (63) mengungsi, karena rumahnya terancam longsor.

Kepala Desa Pateken Kecamatan Wonoboyo Didik Wahyu di Temanggung, Senin, mengatakan tanah retak sepanjang kurang lebih 75 meter tersebut pertama muncul di sebuah selokan, kemudian menjalar ke jalan yang menghubungkan Dusun Seneng Desa Pateken dengan Dusun Bendan Desa Kebonsari.

“Selain itu, retakan juga melintas di rumah Nurrosikhin. Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak dinginkan maka keluarga Nurrosikhin mengungsi dan rumahnya saat ini dibongkar warga kemudian akan dibangun lagi di daerah yang lebih aman,” ucapnya.

Ia mengatakan retakan di saluran irigasi tersebut diketahui pada Kamis (20/11). Akibat retakan itu air selokan masuk ke dalam retakan dan tembus ke sebuah sungai di bagian bawah yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi retakan dengan ketinggian sekitar 50 meter.

“Guna mengantisipasi air tidak masuk ke retakan warga menutup retakan dengan terpal agar air tetap bisa mengalir di selokan tersebut. Apalagi saat turun hujan jika retakan tidak ditutup maka semua air masuk ke retakan akan sangat berbahaya,” tuturnya.

Akibat retakan dengan kedalaman mencapai 12 meter tersebut, katanya ruas jalan yang menghubungkan Dusun Seneng Desa Pateken dengan Dusun Bendan Desa Kebonsari ditutup.

Ia menuturkan jika sewaktu-waktu terjadi longsor maka terdapat tiga rumah milik Untung Rohmat, Usup, dan Muhtadin serta sebuah masjid yang berada di bagian atas juga terancam.

Ia mengatakan kejadian tersebut sudah dilaporkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan disarankan untuk melaporkan ke Pemkab Temanggung guna mendapatkan bantuan.

Untung Rahmat yang juga Kadus Seneng menuturkan retakan tersebut muncul setelah terjadi hujan deras, tetapi air yang mengalir di selokan tersebut habis di lokasi retakan tersebut.

“Setiap terjadi hujan retakan bertambah lebar dan tanah bergeser. Guna mencegah retakan bertambah lebar warga menutup retakan dengan tanah,” ujarnya.

Ia mengatakan pada 1965 di lokasi tersebut pernah terjadi tanah ambles.(ant/pj)

Advertisements