Satpol PP Tertibkan Puluhan Bangunan Liar Di Arteri Soekarno-Hatta Semarang

SEMARANG, 5/1 (BeritaJateng.net) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang menertibkan puluhan bangunan semi permanen dan permanen yang berdiri disepanjang Jalan Arteri Sukarno-Hatta tepatnya di depan SPBU Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Kamis (5/1).

Setidaknya 50 personel Satpol PP dibantu TNI dan Polri sebanyak 30 orang serta alat berat menertibkan bangunan liar yang melanggar Perda 11 tahun 2000 Kota Semarang tentang pengaturan dan pembinaan pedagang kaki lima.

Pembongkaran dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, Satu persatu bangunan dirobohkan dengan menggunakan alat berat. Bangunan yang permanen pun tak luput dihancurkan.

Selama pembongkaran tidak ada perlawanan dari PKL. Mereka yang belum mengosongkan bangunan, langsung mengeluarkan barang-barang mereka sendiri saat petugas datang.
fb_img_1483616187221Kasi Trantib Satpol PP Kota Semarang Marthen Stevanus Dacosta mengatakan, penertiban dilakukan karena bangunan yang dilakukan berdiri diatas saluran air sehingga menyulitkan petugas untuk melakukan pembersihan. Bangunan-bangunan yang ditertibkan terdiri dari warung makan, tambal ban, penjual bambu, sampai tempat karaoke.

“Total bangunan sekitar 30 unit. Dari jumlah itu sebagian ada yang permanen, sehingga untuk meroohkan kita menggunakan alat berat,” katanya.

Ia menjelaskan, sebelum dilakukan penertiban sudah dilakukan sosialisasi kepada para PKL, namun sampai hari yang ditetapkan masih ada bangunan yang tidak dibersihkan. “Lahan yang digunakan juga bukan lahan milik mereka dan sudah mendapatkan ganti rugi,tapi sampai hari ini masih ada yang tetap menggunakan akhirnya kita bongkar,” jelasnya.

Salah satu peagang, Muchtar (56) mengaku, hanya bisa mengiklaskan bangunan permanen yang ia gunakan berjualan es degan sejak 14 tahun dihancurkan dengan alat berat.

Ia mengaku, sudah mendapatkan ganti rugi dari pemilik lahan, sebesar Rp. 15 juta untuk meninggalkan lokasi. Dia juga mengakui, sudah mendapatkan surat peringatan dari petugas untuk segera mengosongkan bangunan.

“Sejak seminggu ini sudah tidak jualan karena tahu mau dibongkar. Sebenarnya tidak masalah kami digusur, tapi yang kami sayangkan perobohannya asal-asalan sehingga sisa bangunan tidak dapat digunakan lagi karena hancur,” ucapnya. (El)

Tulis Komentar Pertama