Home Lintas Jateng Satpol PP Semarang Bongkar Hunian Liar Di Bantaran Sungai

Satpol PP Semarang Bongkar Hunian Liar Di Bantaran Sungai

57
0
Satpol PP Tertibkan Puluhan PKL Eks-Pedagang Johar Di Jalan Beteng

Semarang, 12/9 (BeritaJateng.net) – Satuan Polisi Pamong Praja (PP) Kota Semarang membongkar deretan hunian liar yang selama ini ditinggali pemulung di bantaran Sungai Semarang di kawasan Petudungan, Senin.

Kedatangan petugas Satpol PP untuk melakukan pembongkaran dari penghuni bangunan liar itu, namun mereka tidak dapat berbuat banyak ketika bangunan semi permanen dari potongan kayu, papan, dan seng itu dibongkar.

Kepala Satpol PP Kota Semarang Endro P. Martanto mengatakan para pemulung yang menempati bangunan-bangunan liar itu bukan warga Kota Semarang, melainkan pendatang dari berbagai daerah, seperti Demak dan Grobogan.

Keberadaan hunian yang ditempati pemulung itu, kata dia, melanggar peraturan daerah (perda) karena mereka mendirikan di wilayah larangan, yakni bantaran sungai, serta membuat kawasan menjadi kumuh dan semrawut.

Jadi, kata dia, selain bangunan yang mereka dirikan liar alias tidak berizin, keberadaan mereka juga salah karena menempati bantaran sungai dan secara estetika juga kurang karena justru membuat lingkungan kumuh.

“Kami juga lakukan pendataan, ada sembilan orang. kemudian kami kirimkan ke Resosialisasi Among Jiwo, Ngaliyan karena mereka pendatang. Namun, bila mereka memilih pulang ke kampung halaman, ya, silakan saja,” katanya.

Sebenarnya, kata Endro, para pemulung yang berada di kawasan Petudungan, Semarang, sudah ditertibkan beberapa kali sejak tiga tahun terakhir, tetapi mereka kembali mendirikan hunian-hunian liar di bantaran sungai itu.

“Makanya, kami minta peran serta masyarakat dan pemangku wilayah setempat untuk proaktif bersama-sama mencegah adanya hunian liar maupun pedagang kaki lima (PKL) liar. Kalau tidak, ya, mereka kembali lagi,” katanya.

Menurut dia, hunian maupun PKL liar akan tumbuh dan menjamur apabila tidak ada pengawasan masyarakat sehingga semestinya harus dicegah ketika mau muncul, apalagi para pemulung itu juga bukan warga Semarang.

Dari satpol PP Kota Semarang, kata dia, tetap akan melakukan pengawasan untuk mencegah para pemulung itu kembali lagi dan mendirikan hunian-hunian liar di bantaran sungai, tetapi perlu juga partisipasi masyarakat.

“Jadi, jangan sampai hunian atau PKL liar dibiarkan seperti itu. Kalau dibiarkan akan berkembang pesat dan lebih susah ditertibkan. Sebelum muncul, harus dicegah dengan peran serta masyarakat,” kata Endro.

Sementara itu, R (45), pemulung yang berasal dari Purwodadi, Grobogan, mengaku selama ini merantau ke Semarang untuk memulung dan memunguti dari sampah demi mencukupi kebutuhan keluarga di kampung halaman.

“Yang penting saya tidak mencuri. Saya diajak teman sekampung ke sini, ya, lumayan juga dari memunguti sampah, kemudian saya jual. Saya bikin tempat seadanya di sini (bantaran sungai, red.),” pungkasnya. (El)