Home News Update Sartono Anwar Berharap PSIS Bertahan Divisi Utama

Sartono Anwar Berharap PSIS Bertahan Divisi Utama

Sartono Anwar

Semarang, 22/11 (BeritaJateng.Net) – Mantan pelatih PSIS Semarang Sartono Anwar berharap klub yang pernah diasuhnya itu tetap bertahap di Divisi Utama pascasanksi yang diberikan Komisi Disiplin PSSI.

“Ya, saya merasakan sanksi yang diberikan kepada PSIS Semarang ini memang berat. Berat sekali, kasihan para pemain,” katanya, di sela diskusi bertajuk “PSIS (Belum) Mati” di Semarang, Sabtu (22/11).

Pria yang pernah mengantarkan PSIS menjuarai Liga Indonesia 1987 itu mengatakan semestinya manajemen PSIS melindungi para pemain agar tidak ikut dikenai sanksi akibat kasus “sepakbola gajah”.

Sartono yang pernah pula melatih PSS Sleman mengatakan para pemain benar-benar menggantungkan hidupnya dari sepak bola sehingga sanksi larangan bermain yang diberikan tentu sangat memberatkan.

“Apalagi, ada sanksi (larangan bermain, red.) yang sampai seumur hidup. Lalu bagaimana nasib mereka (para pemain, red.). Ya, saya berharap PSIS tidak dikenai hukuman lebih berat lagi,” katanya.

Ia mendengar hukuman yang diberikan kepada PSIS bisa lebih berat, yakni didegradasi ke Liga Nusantara atau bermain amatir, tetapi sebaiknya tidak sampai karena hukuman sekarang ini sudah berat.

“Saya berharap kepada manajemen Mahesa Jenar (PSIS, red.) agar terus berusaha mempertahankan klub ini di Divisi Utama. Jangan sampai PSIS dihukum lebih berat, diturunkan ke Liga Nusantara,” katanya.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) PT Mahesa Jenar Semarang, selaku pengelola PSIS Semarang, mengakui, hukuman yang diberikan Komdis PSSI kepada para pemain PSIS memang sangat berat.

“Ketika didiskualifikasi oleh Komdis PSSI, kami menerima, kami legawa. Ternyata, hukumannya belum cukup, yakni ditambah larangan bermain kepada sejumlah pemain, pelatih, dan sebagainya,” tukasnya.

Bahkan, kata dia, masih ada ancaman hukuman yang bisa memperberat langkah PSIS, yakni degradasi dari Divisi Utama jika sampai ditemukan keterlibatan pihak luar dalam dugaan “match fixing” (pengaturan skor).

Ia menyatakan keberaniannya disumpah dengan cara apapun bahwa tidak pernah memerintahkan untuk melakukan gol bunuh diri, apalagi sampai melakukan “match fixing” dalam pertandingan PSIS dan PSS Sleman.

“Itu spontanitas melihat kondisi yang tidak kondusif di lapangan. Namun, yang jelas, saya siap bertanggung jawab. Saya siap dihukum oleh Komdis PSSI. Jangan hukum para pemain PSIS,” pungkasnya.

Seperti diwartakan, Komdis PSSI memberikan hukuman bervariatif kepada pelatih, manajer, “official”, pemain di lapangan, hingga pemain cadangan PSIS dan PSS berupa larangan beraktivitas sepak bola dan denda. (ant/pri)