Home Kesehatan Salut!! Profesor Asal Demak ini Ciptakan Aplikasi Pendeteksi Penyakit Jantung

Salut!! Profesor Asal Demak ini Ciptakan Aplikasi Pendeteksi Penyakit Jantung

123
0
Eko Supriyanto, Profesor asal Desa Ngelo Wetan, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang berhasil membuat aplikasi pendeteksi penyakit jantung dan telah patenkan 42 karya inovasi di bidang kesehatan.

SEMARANG, 30/11 (BeritaJateng.net) – Meski namanya tidak begitu dikenal di Jawa Tengah, namun pria kelahiran Desa Ngelowetan, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah ini, mampu membuat suatu aplikasi yang berguna bagi masyarakat. Aplikasi yang berhasil diciptakan seorang pengusaha, akademisi, sekaligus organisator pemilik 42 paten Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Internasional, bernama Eko Supriyanto, ialah aplikasi pendeteksi penyakit jantung.

Aplikasi yang dapat dipergunakan masyarakat secara gratis tersebut, ia rancang pada tahun 2014 dan tepatnya pada April 2016 lalu diluncurkan di Rumah Sakit Jantung Malaysia. Melalui aplikasi tersebut, seseorang dapat mengetahui kondisi kesehatan jantungnya. Tak hanya itu, aplikasi tersebut juga dapat mendeteksi kapan seseorang berpotensi terkena serangan jantung.

Jika masyarakat ingin mencoba aplikasi tersebut, melalui alamat URL klik myhealth-screening.com yang nantinya diminta mendaftarkan diri menggunakan alamat email. Setelah mendaftar, akan memperoleh kata kunci untuk dapat masuk ke menu layanan utama. Di dalam layanan tersebut, nantinya pengguna akan diminta mengisi data diri dan akan diberi pertanyaan yang harus dijawab secara detail. Jawaban yang diberikan pengguna, mempengaruhi tingkat akurasi tentang kondisi kesehatan jantungnya.

“Nanti ada pertanyaan yang harus dijawab detail oleh penggunanya. Jika jawaban detail, maka akurasi hasilnya juga akan bagus. Namun sebaliknya, kalau jawaban tidak detail atau seadanya, maka hasil akurasinya juga akan sesuai atau menurun. Tingkat akurasinya 95%, jika diisi secara detail,” jelas Eko Supriyanto, saat ditemui wartawan di sela pertemuan riset dan teknologi di Hotel Dafam, Senin (28/11) kemarin.

Pada layanan aplikasi tersebut, pertanyaan yang akan diberikan bagi penggunanya berkaitan dengan tubuh, seperti berat badan, tekanan darah, kadar glukosa dan kolesterol. Pertanyaan lainnya berhubungan dengan faktor psikologis, seperti jenis kelamin, genetik dan kelainan genetik. Selain itu, pola gaya hidup sehari-hari juga dipertanyakan, seperti jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi, perokok dan minum minuman keras atau tidak.

Menurutnya, resiko terkena penyakit jantung lebih berpotensi pada perokok pasif dan kolesterol. Awal mula ide pembuatan aplikasi pendeteksi penyakit jantung tersebut, saat dirinya memikirkan pola hidup sehat yang dia lakukan, namun tidak tahu apa manfaat dan efek yang didapatkan.

“Penyakit jantung resikonya lebih cepat terjadi pada perokok pasif. Untuk perokok aktif, lebih berpotensi terkena penyakit lain, seperti paru-paru. Awal mula membuat aplikasi ini, saya berpikir pola hidup sehat yang saya lakukan, namun saya tidak tahu apa nanti efek dan manfaatnya. Terus saya mempunyai ide, saya buat saja alat pengukur dan pendeteksinya. Dari situlah awalnya. Kita berharap, nantinya aplikasi ini bisa jadi alat kementerian maupun nasional untuk menjadi alat pendeteksi resiko jantung di Indonesia. Jadi, ¬†kita tahu berapa banyak yang beresiko terkena penyakit jantung,” terang Eko.

Dalam pembuatan aplikasi tersebut, Eko melakukan perumusan selama tiga bulan yang kemudian bersama seorang mahasiswa S3 di Universitas Teknologi Malaysia (UTM), membuat software aplikasi tersebut, selama tiga bulan selanjutnya. Proses terlama, pada ujicoba yang dilakukan sekitar kurang lebih setahun. Anggaran untuk penelitian, diperolehnya dari  Universitas Teknologi Malaysiasebesar Rp 200 juta.

Aplikasi tersebut, telah diujicoba pada kurang lebih 12 ribu orang dari berbagai negara. Setelah diluncurkan, sekitar 2.400 orang telah memanfaatkannya. Eko Supriyanto, kini sedang ikut terlibat dalam meriset jantung buatan di Malaysia. (ED/EL)