Home News Update Saling Sindir Kinerja dan Kebijakan Warnai Talkshow Bedah Visi Misi Paslon

Saling Sindir Kinerja dan Kebijakan Warnai Talkshow Bedah Visi Misi Paslon

Ketiga paslon menyampaikan visi misi dihadapan panelis dan audiense di Gedung Pasca Sarjana Undip, Selasa (15/9).
Ketiga paslon menyampaikan visi misi dihadapan panelis dan audiense di Gedung Pasca Sarjana Undip, Selasa (15/9).
Ketiga paslon menyampaikan visi misi dihadapan panelis dan audiense di Gedung Pasca Sarjana Undip, Selasa (15/9).

Semarang, 16/9 (BeritaJateng.net) – Saling sindir kinerja dan kebijakan yang dilakukan pada periode kepemimpinan kedua “incumbent” mewarnai dialog Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang 2015.

“Sektor investasi masih jauh. Untuk menarik investor masuk ke Semarang, bagaimana memenuhi infrastruktur untuk kemudahan berinvestasi,” kata calon wali kota Semarang Soemarmo HS di Gedung Lantai 6 Pasca Sarjana Undip Semarang, Selasa (16/9) malam.

Hal itu diungkapkannya saat “talkshow” bertajuk “Membedah Visi dan Misi Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang 2016-2021” yang diprakarsai Dewan Pertimbangan dan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang.

Ketiga pasangan calon hadir pada kesempatan itu, yakni Soemarmo HS-Zuber Safawi (MaZu), Hendrar Prihadi-Hevearita Gunaryanti Rahayu (Hebat), dan Sigit Ibnugroho Sarasprono-Agus Sutyoso (SiBagus).

Mantan Wali Kota Semarang itu mengklaim selama dirinya memimpin Kota Semarang sudah merancang berbagai program pembangunan, termasuk infrastruktur meski hanya sempat memimpin sekitar 1,5 tahun.

“Dulu, ketika saya masih wali kota, ‘Underpass’ Jatingaleh sudah mau dimulai. Kenapa sekarang masih dirintis?,” kata kandidat bernomor urut 1 yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Keadilan Sejahtera itu.

Bahkan, Soemarmo juga menyinggung rencana pembangunan Polder Banger untuk menanggulangi banjir yang tak kunjung direalisasikan penggantinya, bahkan pendanaan dari Belanda sampai batal dikucurkan.

Dialog berlanjut, calon wali kota bernomor urut 2 Hendi — sapaan akrab Hendrar Prihadi mendapat giliran. Ia mulai memperkenalkan diri, diawali sebagai wakil wali kota mendampingi Soemarmo, sampai “kecelakaan” politik yang membuatnya diangkat sebagai Plt wali kota, hingga menjadi wali kota.

Menanggapi sindiran Soemarmo soal investasi, ia membantah karena laju pertumbuhan ekonomi di Kota Semarang selama tiga tahun terakhir menunjukkan kenaikan signifikan setiap tahunnya sekitar enam persen.

“Ada yang bilang investasi kurang, ada yang bilang ‘mung ngono tok’ (hanya begitu saja). Kenyataannya, investasi terus naik. Pada 2011, investasi masih di bawah Rp1 triliun, pada 2012 naik Rp3 triliun,” katanya.

Bahkan, kata mantan wali Kota Semarang yang diusung PDI Perjuangan, Nasdem, dan Demokrat itu, investasi terus menunjukkan sentimen positif karena pada 2014 tercatat angka investasi Rp7,9 triliun.

Sementara itu, calon wali kota lainnya Sigit Ibnugroho Sarasprono menanggapi saling sindir kebijakan antarkedua kandidat “incumbent” itu menunjukkan sejauh mana tingkat kedewasaan dalam menyikapi pilkada.

“Sebagai calon alternatif, saya merasa tidak ada permasalahan dengan pihak mana pun. Kami berpikir ke depan tanpa harus saling menjatuhkan atau menjelekkan. Semua ada kekurangan dan kelebihan,” katanya.

Kekurangan dan apa yang belum pernah dilakukan kedua kandidat “incumbent” itu selama memimpin, kata Sigit yang diusung Gerindra, Partai Amanat Nasional, dan Golkar, yang akan dibenahi oleh SibAgus. (BJ)