Home Hukum dan Kriminal Saksi Jelaskan Kronologi Pembunuhan Mahasiswa Unisri

Saksi Jelaskan Kronologi Pembunuhan Mahasiswa Unisri

image
Ilustrasi

Solo, 24/11 (Beritajateng.net) – Kalendra Patra selaku saksi korban menjelaskan kronologi kasus pembunuhan terhadap mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo, Danang Rusbianto (23) warga Gumantar Karanglamang Sragen, dalam sidang di Pengadilan Negeri Surakarta, Senin.

Sidang dengan terdakwa Lutfi Tedjo Putranto (33) warga Jalan Kalingga Utara, Kelurahan Kadipiro RT 08/RW 04, Banjarsari, Solo, dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Supriyono, anggota Hari Tri H dan Joni Iswantoro itu, agenda mendengarkan keterangan saksi.

Saksi Kalenda Patra dalam kesaksiannya kejadian perkelahian antara korban Danang dengan terdakwa Lutfi dan Asep Buchori (terdakwa lainnya) di Jalan Kalingga Utara Kampung Kadipiro RT 08 RW 04 Banajrsari Solo itu, pada Minggu (24/8) yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Saksi menceritakan awal mula sebelum kejadian bahwa dirinya datang ke kos korban Danang di Kamung Kadipiro Solo, Sabtu (23/8) sekitar pukul 20.00 WIB. Saksi yang kuliah di Yogyakarta setiap pulang mampir ke kos korban mengajak bareng pulang ke Sragen.

“Ketika datang ke rumah kos korban, dia sedang pergi keluar dan saya langsung masuk ke kamarnya. Setelah datang menceritakan habis dikeroyok sejumah orang kampung setempat. Korban kemudian minta diantar ke lapor ke polisi,” kata Patra.

Menurut dia, dirinya bersama korban kemudian dengan mengendarai sepeda motor korban berangkat ke polisi, tetapi korban kemudian berhenti setelah melihat tersangka Asep Buchori di pos ronda berjarak sekitar 100 meter dari kos korban.

Korban Danang kemudian turun dari motornya terjadi cek cok dan perkelahian. Setelah itu, terdakwa Lutfi ikut berkelaihi membantu Asep dan dirinya juga turun dari motor hendak membantu Danang.

Namun, terdakwa Lutfi kemudian megeluarkan sebilah senjata tajam clurit dan membacok korban Danang yang mengenai dibagian dada kanan, leher, dan perut. Korban kemudian tersungkur jatuh di jalan, dan dirinya berusaha lari, tetapi terkena sabetan clurit ditangan dan punggungnya.

“Saya lari ke kos korban menemui anak kos lainnya, Bayu untuk minta pertolongan, karena Danang tergelatak di jalan atau lokasi kejadian. Namun, tersangka Lutfi dan Asep sudah todak ada di lokasi,” kata Patra.

Menurut dia, dirinya langsung kembali ke kos dengan luka di pergelangan tangan kiri dan punggung masuk ke kamar. Setelah polisi datang ke lokasi, dirinya baru berani keluar dari kost dan ke rumah sakit untuk berobat.

“Urat nadi tangan saya putus dan tidak bisa digerakan karena kena tebasan clurit,” kata Patra menjawab pertanyaan majelis hakim.

Saksi Eko Hartono selaku pengelola kos, mengatakan, dirinya mengenal Danang sehari-harinya berlaku baik, tetapi tidak mengetahui penyebab meninggalnya korban. Dirinya tahu setelah diberitau oleh tetangga dan polisi saat meminta keterangan.

Saksi Hanung warga setempat dalam kesaksiannya mengatakan, dirinya tidak mengetaui kejadian perkelahian antara korban dengan Lutfi dan Asep.. Dirinya mengetaui pagi harinya setelah mendengar setelah dibangunkan tidur oeh orang tuanya. Hal ini, juga disampaikan dua saksi lainnya yakni Dediyono dan Kus Arif yang masih tetangga terdakwa. .

Terdakwa Lutfi Tedjo Saputranto dalam persidangan yang didamipingi oleh penasehat hukumnya, Badrus Zaman, membenarkan keterangan para saksi.

Sidang kasus pembunuhan mahasiswa yang dijaga ketat aparat kepolisian tersebut akhinya dilanjutkan pada Senin (1/12), dengan agenda mendengar ketarangan saksi. Jaksa Penuntut Umum Sutarno dalam sidang selanjutnya akan menghadirkan lima saksi.

Sementara sidang terpisah kasus pembunuhan mahasiswa Danang Rusbianto juga anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) sebelumnya dengan terdakwa Asep Buchori dengan majelis hakim dan kuasa hukum yang sama, sedangkan jaksa penuntut umum oleh Wan Susilo, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

Terdakwa Asep Buchori dalam kesmepatan tersbeut sempat meminta maaf kepada saksi Kalendra Patra. Saksi kemudian memberikan maaf dan keduanya saling bersalaman.

Jaksa penuntut umum sebelumnya mendakwa terdakwa Asep Buchori dengan pasal alternatif primer Pasal 170 ayat 2 (ke-3) Subsider pasal 170 ayat 1 atau kedua primer 351 ayat 3 jo 55 ayat 1 (ke-1) KUHP, tentang penganiayaan bersama-sama, sedangkan Lutfi Tedjo Putranto, diancam pasal 338 ke-1 atau kedua pasal 170 ayat 2 ke-2 dan ke-3 yakni barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain atau melakukan pembunuhan.(ant/pj)