Home Lintas Jateng Rumah Dieksekusi, Pemilik Berteriak-teriak

Rumah Dieksekusi, Pemilik Berteriak-teriak

image
Proses eksekusi rumah di Kudus. (BJ/PJH)

Kudus, 16/12 (Beritajateng.net)-Keluarga Katemi (58) yang tinggal di sebuah rumah dan tanah seluas 336 meter persegi di Desa Jepang RT 02/ RW 02, Kecamatan Mejobo, harus meninggalkan tempat huniannya secara paksa menyusul dilakukannya eksekusi pengosongan oleh petugas Pengadilan Negeri (PN) Kudus. Dikawal puluhan petugas Polres Kudus, sanak saudara Katemi tidak bisa berbuat banyak.

“Ini tidak adil. Pengadilan telah merampas hak-hak kami diluar batas kemanusiaan,” teriak salah seorang anggota keluarga ketika beberapa barang mulai dikeluarkan.  

Walau pemilik rumah dan beberapa anggota keluarga meneriakkan protes sindiran kepada petugas PN Kudus, namun proses pengosongan paksa terus berjalan. Satu per satu barang rumah tangga yang ada di dalam rumah sederhana yang berdiri di pinggir jalan raya Mejobo, akhirnya berhasil dikeluarkan.  

Sementara menurut keterangan Selikan yang ditunjuk menjadi juru bicara keluarga mengatakan, kakaknya memang berhutang di salah satu bank swasta pada tahun 2013 sebesar Rp 150 juta. Beberapa bulan setelah hutang cair, kakaknya membayar cicilan secara lancar. Hanya saja, karena usaha mengalami gangguan, cicilan bulan berikutnya mulai tersendat. Akibatnya, angsuran hutang tidak lancar dan kakaknya nunggak hingga beberapa bulan.  

“Kalau menurut perhitungan kami, jatuh temponya pertengahan tahun 2015 mendatang. Tetapi tanpa sepengetahuan kami, pihak bank melelang jaminan berupa tanah dan bangunan. Kami akan menggugat atas ketidak adilan ini sampai kemanapun,” terangnya.  

Sementara itu menurut Panitera Muda Perdata PN Kudus, M Achlis menegaskan, selaku petugas eksekutor pihaknya tidak mengetahui soal proses hutang piutangnya. Pengosongan paksa yang dilakukannya, semata menjalankan penetapan Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Tengah tertanggal 25 Nopember 2014.

Terpisah menurut Nico Pamulang selaku kuasa hukum pemenang lelang Musa Dharma Setiawan kepada Beritajateng.net mengatakan, tanah dan bangunan yang menjadi agunan tersebut sudah menjadi milik kliennya. Kepemilikan itu didapat dari proses lelang oleh balai lelang Negara yang sebelumnya sudah diumumkan di media massa.  

Sebelum dilakukan pengosongan yang seharusnya dilakukan pada 25 November 2014 sesuai surat penetapan dari PT, lanjutnya, sudah melakukan pendekatan. Saat itu pihaknya datang bersama tiga saksi didampingi petugas dari Kepolisian dan TNI.   “Pengosongan ini sudah sesuai prosedur,” tegasnya. (pjh/pj)