Home News Update Rohis FIB Undip Berbagi Pengalaman Menulis

Rohis FIB Undip Berbagi Pengalaman Menulis

Semarang, 15/11 (BeritaJateng.net) – Kharisma Fair yang merupakan grup rohis dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro mengadakan ‘Bedah Buku dan Pelatihan Menulis’ di Ruang Teater Gedung A FIB, Undip Tembalang. Diikuti sedikitnya 36 peserta, terdiri dari mahasiswa dari berbagai kampus di Semarang dan yang tergabung dalam komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) kota Semarang.

Dalam kegiatan bedah buku dan pelatihan menulis tersebut hadir sebagai pembicara, Norma Keisya Avicenna. Dia menjelaskan dalam proses menulis perlu dilakukan beberapa langkah, diantaranya ‘rewriting, think and plan’. Berikutnya, proses ‘drafting, write and draw’. Penting juga proses ‘revising, make your writing better’. Dan tidak ketinggalan proses ‘editing and fix your mistakes’. Yang terakhir, melakukan ‘publishing and share your writing’.

Norma mengungkapkan jika dari kegiatan menulis mampu menghasilkan kesempatan hidup dan kebahagiaan hidup bisa diperoleh dengan menulis.

“Menulis mampu membuat seseorang menjadi kaya dan makmur, sehat dan bahagia, cerdas dan terampil, saleh dan tenang, gaul dengan mengikuti trend serta gaya hidup,” ungkap Norma, di Ruang Teater FIB Undip, Minggu (15/11).

Menulis juga bisa membuat seseorang terhibur dan senang. Semua karya berawal dari sebuah proses kreatif penulisan berawal berupa ide.

“Ide yang baik di tangan penulis yang buruk, tetap akan terlihat bagus. Sedangkan ide yang buruk di tangan penulis yang baik, tetap akan terlihat tidak bagus,” terangnya.

Tak heran jika banyak yang mengatakan, lanjut Norma dalam dunia kreativitas, ide adalah panglima.

“Ide dapat datang dari mana saja dan ide tertangkap sinyalnya oleh penerima di dalam diri kita dalam bentuk panca indera,” imbuhnya.

Norma menyarankan pada penulis pemula agar berpikir terbalik, yaitu dengan memberikan pandangan yang kuat bahwa dia sedang menulis naskah yang dibutuhkan penerbit atau lebih tepatnya dibutuhkan pembaca. Ide bukanlah sebuah pencarian melainkan sebuah penemuan.

Dia juga memberikan tiga pegangan pada penulis, yaitu berlatih menulis, mengeksekusi ide dan mengintip penghasilan para penulis tenar. Menulis tidak memerlukan mood, tapi motivasi. Penulis sebaiknya berhati-hati menggunakan peliuk-liukan bahasa.

“Penggunaan bahasa yang rumit supaya kelihatan intelek malah justru membuat pembaca sakit kepala. Padahal tujuan daripada menulis adalah memahamkan,” tutur Norma.

Membaca kisah inspiratif, memahami karakter tokohnya, jalan ceritanya, kemudian menulis ulang dengan versi yang berbeda termasuk bagian dari berlatih menulis. Bisa juga dengan menulis pengalaman seru di blog atau facebook. Atau dengan cara mendengarkan tausiyah dari seorang ustadz, kemudian menulis ulang dalam bentuk poin-poin dan mengkritisinya baik dari cara penyampaiannya, atau bahkan pengoreksian dalilnya. Model seperti ini akan membantu penulis pemula terbiasa memetakan ide.

“Ide dapat datang kapan saja dan pergi atau terlupakan tanpa kita mampu mencegahnya. Ide juga dapat datang di mana saja dalam situasi apa pun. Karena itu, para penulis sejati harus menyediakan alat penangkap atau pengikat ide,” jelas Norma.

Banyak penulis yang memiliki ide menarik, tetapi justru lupa pada pembaca sasarannya. Hal ini membuat eksekusi ide menjadi tidak fokus dan sulit didefenisikan kepentingannya. Karena itu, seorang penulis perlu mempertimbangkan pembaca sasaran ketika ide sudah didapatkan.

Norma memberikan contoh penghasilan dari para penulis yang sudah tenar seperti M. Fauzil Adhim, Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Norma mengatakan jika M. Fauzil Adhim penulis buku ‘Kupinang Engkau dengan Hamdalah’ mampu mendapatkan royalti Rp 15-25 juta per bulan dari satu buku karyanya.

“Begitupun Asma Nadia yang sudah menulis lebih dari 30 buku dan semuanya laris manis di pasaran. Asma Nadia mengaku sesial-sialnya menulis, mendapat royalti Rp 10 juta per tiga bulan,” ujar Norma.

Norma juga memiliki cita-cita ingin mendirikan sekolah menulis yang nantinya mampu melahirkan penulis. Menurutnya, orang yang sudah meninggal dunia tidak ada yang dibawa kecuali amalan. Oleh karenanya Dia ingin meninggalkan namanya lewat tulisan. (BJT01)