Home Hukum dan Kriminal Rohaniwan Siapkan Baju Putih untuk Terpidana Mati

Rohaniwan Siapkan Baju Putih untuk Terpidana Mati

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

Cilacap, 16/1 (BeritaJateng.net) – Rohaniwan pendamping terpidana mati menyiapkan baju putih untuk dipakai Rani Andiani alias Melissa Aprilia dan Namaona Denis saat menjalani eksekusi di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Minggu (18/1).

“Seperti saat eksekusi pada 2013, saya siapkan baju putih-putih untuk dipakai terpidana yang beragama Islam namun tentunya atas izin Kejaksaan,” kata rohaniwan pendamping K.H. Hasan Makarim di Cilacap, Jumat.

Selain itu, kata dia, sebelum terpidana mati tersebut dijemput petugas menuju lokasi eksekusi, mereka akan diajak untuk melaksanakan salat tobat serta menggunakan wangi-wangian.

Menurut dia, hal itu dilakukan agar para terpidana mati dalam keadaan bersih dan suci saat menjalani eksekusi.

“Mereka siap mengenakan baju putih-putih itu saat menjalani eksekusi,” kata dia yang hendak menuju ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Besi, Pulau Nusakambangan, yang dijadikan sebagai tempat isolasi bagi terpidana mati sebelum dieksekusi.

Terkait kiat dalam memberikan bimbingan rohani bagi kedua terpidana mati yang beragama Islam, Hasan mengatakan bahwa pihaknya mengajak mereka untuk berpikir positif hingga terjadi tanya jawab.

Saat itulah, kata dia, pihaknya baru memasukkan materi-materi keagamaan.

Kendati demikian, dia mengaku belum bisa memberikan pendampingan secara efektif terhadap Namaona Denis karena yang bersangkutan berada satu kamar dengan tiga terpidana mati lainnya yang juga akan dieksekusi.

“Sampai saat ini, saya masih fokus terhadap Rani karena Denis berada bersama tiga terpidana yang non-Muslim. Jadi, saya tidak enak kalau harus berceramah tanpa ada pendamping yang lain. Mungkin malam ini saya akan lakukan pendampingan,” kata Koordinator Pesantren Warga Binaan Pemasyarakatan se-Nusakambangan itu.

Lebih lanjut, dia mengaku sempat menemui Rani Andriani kembali pada Kamis (15/1) malam setelah bertemu terpidana mati itu pada siang harinya.

Menurut dia, hal itu dilakukan karena ayah kandung Rani dan saudaranya datang ke Lapas Besi.

“Kami di sana berbuka puasa bersama karena Rani sedang berpuasa 40 hari, sekarang hampir selesai. Rani tampak tenang dan tabah,” katanya.

Bahkan, kata dia, ayah Rani mengaku ikhlas atas eksekusi mati yang akan dijalani anaknya.

Terkait keinginan Rani untuk dimakamkan berdampingan dengan makam ibunya di Cianjur, dia mengatakan bahwa keluarga terpidana mati itu siap untuk melaksanakannya.

“Sebenarnya ada satu lagi permintaan terakhirnya, namun Rani belum bersedia menyebutkan. Mungkin menjelang pelaksanaan eksekusi akan disampaikan,” katanya.

Seperti diwartakan, sebanyak enam terpidana mati kasus narkoba yang akan dieksekusi di Pulau Nusakambangan dan Boyolali, Jawa Tengah, pada hari Minggu (18/1).

Ang Kim Soei merupakan salah satu dari lima terpidana mati yang akan dieksekusi di Pulau Nusakambangan pada Minggu (18/1) dini hari.

Lima terpidana mati lainnya, yakni Ang Kim Soei (62) warga Negara Belanda, Namaona Denis (48) Warga negara Malawi, Marco Archer Cardoso Mareira (53) warga negara Brasil, Daniel Enemua (38) warga negara Nigeria, dan Rani Andriani atau Melisa Aprilia (38) warga negara Indonesia.

Selain itu, Kejaksaan Agung juga akan mengeksekusi mati terpidana mati kasus narkoba lainnya, Tran Thi Bich Hanh (37) warga negara Vietnam di Boyolali, Jawa Tengah. (ant/BJ)