Home Lintas Jateng RKPD Jateng 2017, Perlu Langkah Strategis Dalam Pelaksanaanya

RKPD Jateng 2017, Perlu Langkah Strategis Dalam Pelaksanaanya

SEMARANG, 15/2 (Berita Jateng.net) – Guna mewujudkan kesejahteraan serta kemandirian wilayah, berdasarkan evaluasi kinerja pembanguan di tahun 2015 terhadap target akhir RPJMD Provinsi Jawa Tengah tahun 2018, diperlukan langkah strategis melalui percepatan pelaksanaan program prioritas dan peningkatan standar kualitas mutu produksi.

Hal tersebut terurai, dalam acara sosialisasi dan konsultasi publik rancangan awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Tengah tahun 2017, Dengan Tema  “Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Energi Berkelanjutan Serta Percepatan Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran Guna Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat dan  Kemandirian Wilayah”, yang berlangsung di Gedung Badan Perencanaan Pembanguan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah, Senin (15/02/2016).

Acara yang dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Dr Ir Sri Puryono KS MP mengatakan guna mewujudkan visi Jawa Tengah “Sejahtera dan Berdikari” diperlukan langkah strategis dalam pelaksanaan program prioritas yang telah disusun.

“PR kita masih banyak, disini adalah mengenai kemiskinan 13,38 persen (%), pengangguran kita masih cukup besar sekitar 5 persen (%) yaitu sekitar kurang lebih 870. Kemudian listrik kalau secara keseluruhan, elektrifikasi kita sudah 91 persen (%) dari target 90. Tapi kalau per individu, kita masih ada kurang sekitar 700-an ribu lebih yang belum teraliri listrik. Itu juga jadi PR kita,” jelas Sri Puryono.

Untuk pengembangan di sektor pangan, di Jawa Tengah sendiri sudah melebihi target yang ditentukan. Kebutuhan pangan yang mengalami surplus ada pada beras maupun padi. Namun untuk kebutuhan kedelai, masih mengalami kekurangan akibat kurangnya petani yang menanam kedelai.

“Pangan, kita kalau khususnya beras atau padi, kita sudah surplus. Target kita hanya 9,6 ya, di tahun 2016 ini sudah 11 lebih. Itu sudah melebihi target kita, kita surplus 2.390 ton. Yang kedelai, ini masih berat. Kebutuhan kedelai kita sekitar 640 ton, kita baru bisa 138 ton. Ini jadi PR, makanya ada program namanya “Enter kritik Farming System” itu menggabungkan si pertanian dengan tanaman kedelai. Khususnya di kawasan Perum Perhutani yang luas,” terangnya.

Masih terkait kebutuhan pangan, Sri Puryono juga menambahkan untuk kebutuhan pangan (khususnya kedelai) tergantung juga dengan jumlah petaninya. Di Jawa Tengah, jumlah petani kini mengalami penurunan.

“Petani ini jadi PR kita juga, sebab setiap tahunnya mengalami penurunan untuk jadi petani. Untuk mengatasi kita harus intensifikasi dan mekanisasi, kalau tidak bisa jadi tidak ada cita-cita anak-anak “aku jadi petani”. Memang berat ini, kalau tidak ada langkah mengatasinya,” tambahnya. (MG1)