Home Lintas Jateng Ribuan Arca dan Candi Mendapat Sorotan Arkeolog

Ribuan Arca dan Candi Mendapat Sorotan Arkeolog

Arkeolog sekaligus akademisi dosen fakultas ilmu Sejarah dan Arkeologi Universitas Negeri Semarang, Ufi Saraswati
Arkeolog sekaligus akademisi dosen fakultas ilmu Sejarah dan Arkeologi Universitas Negeri Semarang, Ufi Saraswati
Arkeolog sekaligus akademisi dosen fakultas ilmu Sejarah dan Arkeologi Universitas Negeri Semarang, Ufi Saraswati

Semarang, 12/5 (BeritaJateng.net) – Ribuan arca dan candi peninggalan peradaban sejarah candi Budha yang ada di Jawa Tengah mendapat perhatian khusus oleh para arkeolog, khususnya bagi penemuan arca dan tempat bersejarah yang termasuk kategori cagar budaya.

Arkeolog sekaligus akademisi dosen fakultas ilmu Sejarah dan Arkeologi Universitas Negeri Semarang, Ufi Saraswati mengatakan, sejak terbitnya Undang-Undang Cagar Budaya No.11 Tahun 2011, bersama pemerintah Jawa Tengah telah membentuk Tim Penyelamatan Cagar Budaya yang berfungsi meregister beberapa penemuan arca dan tempat layak bersejarah.

“Ada sekitar 700 penemuan di Jateng, dan saat ini sedang kita register kelayakannya menjadi cagar budaya, baik itu arca atau tempat bersejarah,” katanya saat mengisi Workshop bertajuk ‘Hasil Penelitian Koleksi Museum Arca Budha Jawa Tengah’ di Museum Ranggawarsita Semarang, Selasa (12/5).

Dari beberapa koleksi temuan, apa yang tertulis dalam catatan dan buku para arkeolog Belanda yang menjadi referensi acuan penelitian, tak seperti yang tertulis, sebab kebanyakan beberapa kondisi temuan arca sudah tak utuh dan dalam kondisi insitu (tidak dalam tempatnya) yang disebabkan hilangnya beberapa arca akibat dicuri dan akibat peristiwa bencana alam.

Seperti dibeberapa arca yang ditemukan di Klaten candi Sojiwan, Candi Plaosan dan Candi Sewu. Semuanya tak utuh akibat peristiwa bencana alam dan faktor insitu yang sudah tidak pada tempatnya seperti ada beberapa arca Sojiwan dan Plaosan justru disimpan di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCG) Prambanan yang secara topologi merupakan wilayah DIY.

“Kasus pencurian situs dan arca kini sudah tak ada lagi, hanya terjadi saat jaman kolonial penjajahan saja. Sehingga kenapa ada beberapa arca Budha justru tersimpan di museum Leiden Belanda dan di Jerman,” jelasnya.

Dari beberapa temuan arca dan tempat bersejarah, ia saat ini sedang mengusulkan kepada pemerintah daerah dan pusat, untuk dijadikan sebagai cagar budaya. Diantaranya kawasan dataran tinggi Dieng beserta candinya dan semua rumah peninggalan Belanda yang berada di kawasan perkebunan teh PTPN yang ada di Seluruh Jawa Tengah.

“Suatu kawasan bisa masuk sebagai cagar budaya harus memiliki syarat minimal yakni memiliki nilai historis yang kuat dan keuinikan. Dan kedua tempat tersebut layak menjadi cagar budaya karena secara historis sudah bisa dibuktikan dan memiliki keunikan tersendiri,” terangnya.

Ufi mengkritisi jika nantinya disematkan sebagai cagar budaya, hendaknya pemerintah daerah bisa merawat dan menjaganya atau bisa dilimpahkan perawatan kepada sektor swasta semisal gedung pengadilan Belanda di Kotalama yang kini menjadi restoran IBC (Ikan bakar Cianjur) justru terawat baik.

Bahkan pihaknya memberikan penghargaan kepada pengelola gedung karena telah merawat, menjaga dan menjadi indah tanpa menghilangkan keaslian bangunan tersebut.(BJ06)