Home Headline Rencana Pemindahan SMPN 16 Semarang Molor

Rencana Pemindahan SMPN 16 Semarang Molor

383
Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri.

Semarang, 30/4 (BeritaJateng.net) – Proses relokasi SMP Negeri 16 Semarang sampai saat ini masih belum juga mencapai titik cerah. Padahal untuk lahan pengganti sendiri sudah mengerucut ke dua tempat.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri menyebutkan dua lahan yang dimaksud antaralain sebelah RS Permata Medika Ngaliyan dan kawasan dekat SMA Negeri 8 Semarang.

“Kita masih menunggu jawaban balasan dari Satker pelaksana tol mana yang mau dipilih, sampai sekarang belum ada jawaban,” ujar Gunawan.

Ia juga berharap, pemindahan SMPN 16 Semarang tersebut segera dilaksanakan.

Dikhawatirkan, posisi dari sekolah saat ini yang kurang kondusif dapat mempengaruhi proses belajar mengajar. “Penggantinya memang sudah ada, kita masih menunggu,” tuturnya.

Kekhawatiran tersebut muncul wajar, pasalnya pemindahan SMPN 16 Semarang memang terbilang terlarut-larut.

Luasan lahan yang tidak ideal dan posisi sekolah yang berada persis di samping tol dikhawatirkan akan mengganggu proses belajar mengajar. Untungnya saat proses Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang dilaksanakan beberapa waktu lalu di sekolah tersebut dapat berjalan dengan lancar.

“Kemarin Alhamdulillah lancar tidak ada kendala,” katanya.

Adapun luas lahan keseluruhan milik SMPN 16 Semarang sebelum terpangkas oleh tol yaitu lebih dari 1 hektare. Setelah ada pembangunan tol, hamper separuh lahan termakan.

Sisa lahan itu pun tidak bisa dimanfaatkan kembali untuk pembangunan sekolah lantaran luasan yang memang tidak ideal. Selain luasan, posisi yang berdampingan dengan tol juga tidak ideal untuk digunakan sebagai tempat belajar.

“Tetapi tidak mungkin lahan sisanya kita manfaatkan untuk SMP. Sehingga kita pindahkan,” ujarnya.

Kondisi tersebut tentunya mendapat perhatian dari banyak pihak. Salahsatunya pakar dunia pendidikan, Sudharto.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah tersebut menilai pembangunan tol yang memakan lahan SMPN 16 tidak direncanakan dengan matang. Menurutnya, saat perencanaan pembangunan dan diketahui seperti itu, posisi sekolah harus dipindah terlebih dahulu.

“Anehnya begitu mulai di bangun tolnya, siswa-siswa tidak di apa-apakan. Semestinya sejak awal perencanaan pembangunan tol sudah memikirkan pemindahan sekolah tersebut,” kata Ketua Yayasan Universitas PGRI Semarang (Upgris) tersebut.

Menurutnya, melihat kondisi tersbeut, pastinya banyak pihak yang beranggapan proses kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut kurang maksimal.

“Lingkungan sekolah itu, bukan sekedar interaksi sosial. Namun interaksi edukatif, yaitu sebuah interaksi yang di desain untuk kepentingan peserta didik,” katanya.

Seperti diketahui di Undang-Undang Nomer 20/2003 menyebutkan jika tujuan pembelajaran yaitu menciptakan suasana untuk berkembangnya potensi peserta didik. Sehingga menjadi manusia yang berbudi luhur, bertanggung jawab, dan menguasai ilmu pengetahuan.

“Interaksi edukatif itu hanya bisa berlangsung ketika suasana sekolah memenuhi persyaratan, bukan seperti yang saat ini ada di SMPN 16, kasihan siswanya,” tuturnya.

Ia berharap, pemindahan sekolah tersebut dapat segera dilakukan. “Supaya kegiatan belajar mengajar tidak terganggu dan itu bisa berdampak pada prestasi siswa,” katanya. (El)