Home Lintas Jateng Rela Tinggalkan Status Gurunya Demi Pilih Mengurus Difabel

Rela Tinggalkan Status Gurunya Demi Pilih Mengurus Difabel

165
0
Abdul Ghofur melihat hasil batik anggota difabel
            BLORA, 24/10 (BeritaJateng.net) – Kaum difabel bisa dikatakan kaum minor dalam masyarakat. Keberadaannya terkadang dipandang sebelah mata bahkan terkadang tidak dipandang sama sekali. Hal ini pulalah yang dirasakan Abdul Ghofur (37) seorang penyandang disabilitas di kabupaten Blora Jawa tengah.
           Demi merubah pandangan itu, dirinya rela meninggalkan profesinya sebagai guru dan lebih memilih mengurus kaum difabel yang ada di tanah kelahirannya, yaitu Kabupaten Blora Jawa tengah. Niatnya ikhlas tanpa ada pamrih apapun.
           “Lillahi ta’ala, mbuh piye mesti ono rejekine (lillahi ta’ala, tidak tahu bagaimana, pasti nanti ada rejekinya),” ujar Ghofur penyandang difabel di kedua kakinya ini.
          Saat menjadi tenaga pendidik tahun 2005 sampai 2015, Ghofur dulunya manusia normal, namun karena mengalami kecelakaan kerja, kedua kakinya akhirnya harus diamputasi.
             Kini, Bersama temannya sesama penyandang disabilitas bernama kandar (52) dirinya akhirnya mendirikan komunitas Difabel Blora Mustika (DBM) pada tahun 2011 lalu. Tak hanya merekrut kaum difabel, komunitas ini juga terbuka bagi orang-orang terpinggirkan
seperti penderita polio, kusta dan penyakit kelainan lainnya.
Suasana proses membatik yang dilakukan oleh para difabel Blora.

“Bagi saya, penderita polio, kusta juga seorang difabel dan perlu diperhatikan,” sambungnya. Hingga kini total anggota komunitas difabel Blora mustika (DBM) telah mencapai 700 orang.

             Tidak hanya sebagai ajang berkumpul, Ghofur lebih menginginkan komunitas ini memiliki daya saing dan bermartabat di masyarakat. Namun keinginan ini tidak, mengingat masih minimnya perhatian pemerintah terhadap keberadaan kaum difabel.
            Tidak ingin bergantung dari bantuan pemerintah, pada tahun 2015, bersama anggota komunitasnya, dirinya mencoba mandiri dengan membuat kerajinan berupa keset atau alas kaki. Namun, usaha ini tidak berjalan lancar, belum genap satu tahun kerajinan kesetnya putus di tengah jalan karena pangsa pasar yang jelek. “Dulu pernah coba keset, tapi gagal karena pasarnya jelek,” papar Ghofur.
            Meski gagal, namun tidak mengurangi semangatnya untuk tetap maju. Kesempatan itu akhirnya baru tiba bulan Agustus 2017. Berawal dari bantuan pelatihan membatik oleh badan perencanaan dan pembangunan daerah kabupaten blora komunitas ini akhirnya berkreasi sendiri dengan motif batiknya.
Salah satu penyandang difabel, Kandar mewarnai motif batik.

“Dulu pelatihan dari Bappeda cuma 3 hari, tapi syukur temen-temen difabel bersemangat membatik. Kini hampir setiap hari kami membatik karena ada pesanan. Sudah hampir 200 lebih batik yang kami buat,” ucap Ghofur di sanggar batiknya di desa Kamolan, kabupaten Blora Jawa tengah.

               Gayung pun bersambut, dua bulan berjalan, pesanan batiknya pun mulai banyak. Hampir tiap hari mereka membuat batik di sanggarnya yang terletak di desa kamolan kabupaten blora. Kini hampir 200 batik dengan kreasi motiv sendiri telah dihasilkan dan dijual ke pasaran.
              “Kami akui batik kami kurang bagus, kadang masih ada bocor-bocor. Lha wong pelatihan hanya 3 hari trus langsung buat sendiri. Apalagi yang buat temen-temen difabel, ya maklumlah,” katanya.
             Meski begitu, Ghofur tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan. “Kami akui kami kaum kekurangan, tapi kami tidak ingin menjual kekurangan kami. Kami ingin menjual kelebihan kami,” tambah Ghofur.
            Dari 700 orang, hanya ada sekitar 15 orang yang saat ini mulai menekuni batik. Meski begitu, Ghofur tetap yakin jika usaha ini mampu bertahan, akan banyak difabel yang tertarik membuat batik.
             Atin (35) seorang penyandang polio mengaku senang ikut membatik. Kini dari usaha tersebut setiap minggunya ia bisa mendapat uang sekitar Rp 150 ribu. “Alhamdulillah mas buat tambah-tambah. Kalau seminggu saya biasanya dapat Rp  150 ribu, kalau sebulan hampir Rp 600 ribu. Lumayanlah jika dibandingkan sebelumnya saya hanya sebagai ibu rumah tangga saja di rumah, gak ada pemasukan sama sekali,” ucap Atin di sanggar batik.
Anggota Difabel Blora Mustika membatik

Hal sama juga dirasakan Sarpan (68) penyandang disabilitas di kaki kirinya. Dirinya mengaku senang bisa belajar membatik bersama teman-teman difabel lain. Meski mengaku sedikit kesulitan karena mata sudah mulai rabun, namun tidak mengurangi semangatnya untuk belajar membatik. “Sedikit sulit karena mata sudah tua,” Akunya.

             Mengenai pemasukan setiap bulannya Sarpan hanya mengaku cukup. “Sitiklah mas (sedikitlah mas), lumayan buat kebutuhan keluarga. Daripada nganggur di rumah. Disini juga banyak teman, jadi enak,” terang Sarpan.
            Sarpan sendiri harus kehilangan salah satu kakinya akibat suatu penyakit yang menggerogoti kakinya sejak kecil.
             Tidak hanya membuat batik, komunitas ini kini juga telah memiliki koperasi yang bernama Sri Wahyu Rejeki. Koperasi yang berdiri 2016 lalu ini telah memiliki tabungan sebesar Rp 30 juta dari modal awalnya Rp 4 juta. Koperasi ini diperuntukkan khusus bagi anggota yang ingin meminjam uang buat modal usaha maupun kebutuhan keluarga lainnya.
               “Khusus buat temen-temen biar tambah semangat. Pinjaman maksimal Rp 2 juta diangsur selama sepuluh bulan,” sebut Ghofur.
             Meski usahanya membantu para penyandang difabel Blora sudah mulai berjalan, namun Ghofur masih memiliki satu harapan besar. Dia berharap kaum difabel di kabupaten Blora dapat terfasilitasi dengan adanya perda dari pemerintah kabupaten. Keberadaan perda difabel menjadi harapan besar dirinya untuk bisa diwujudkan suatu hari kelak.
           “Kalau ada perda diifabel saya yakin akan lebih enak, jadi kita kemana-mana sudah ada yang membantu”. Karena kalau ada perda itu, saya yakin semua instansi tidak bisa menolak kami, karena akan kena sangsinya,” pungkasnya.
(MN/El)