Home Lintas Jateng Reaktivasi Rel KA Tawang-Tanjung Emas

Reaktivasi Rel KA Tawang-Tanjung Emas

765

 

* Hendi: Konsepnya Bukan Penggusuran Tapi Ganti Untung

Semarang, 25/2 (BeritaJateng.net) – Walikota Semarang Hendrar Prihadi berkomitmen menuntaskan permasalahan terkait rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang akan mengaktifkan kembali jalur rel kereta api dari Stasiun Tawang menuju Pelabuhan Tanjung Emas yang dikhawatirkan akan menggusur tempat tinggal warga.

Hal ini diutarakan Hendi–sapan akrab Hendrar Prihadi usai bertemu Puluhan warga Kebonharjo Kelurahan Tanjung Mas di Balai Kota Semarang, Rabu (24/2).

Rombongan warga didampingi kuasa hukum Budi Sekorianto itu langsung diterima Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di ruang kerjanya. Kurang lebih dua jam, mereka mengutarakan keberatannya terkait proyek pembangunan yang menggunakan dana APBN itu.

”Kami meminta pemkot memfasilitasi warga yang memperjuangkan nasibnya akibat terkena proyek reaktivasi rel kereta api. Terlebih mereka sudah mengelola lahan lebih dari 40 tahun ini, dan sebagian besar bahkan telah memiliki SHM (Sertifikat Hak Milik),” ungkap Budi usai melakukan audiensi.

Ia mengungkapkan, proyek reaktivasi rel lama yang dilakukan PT KAI kini justru berubah menjadi revitalisasi dengan membuat rel baru. Akibatnya, sebagian menerjang rumah warga yang jumlahnya mencapai 140 rumah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 110 rumah di antaranya berstatus hak milik warga. ”Proyek ini tanpa ada sosialisasi kepada masyarakat,” akunya.

Selain itu, mereka juga meminta pemkot mengubah peraturan daerah (perda) Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Semarang No 14 Tahun 2011 yang mengubah kawasan permukiman di Kelurahan Tanjung Mas menjadi kawasan transportasi darat dan pengembangan terminal tipe C.

”Kami mohon pemkot dapat merevisi perda tersebut dan mengembalikan kawasan Kebonharjo menjadi kawasan permukiman,” harapnya seraya menegaskan bahwa masyarakat akan selalu terancam penggusuran jika tidak dilakukan revisi.

Salah satu warga Kebonharjo, Sugiman, mengaku, sebenarnya tidak pernah menolak program reaktivasi rel kereta api tersebut. Bahkan ia mengaku mendukung program tersebut karena menjadi program pemerintah untuk memperlancar pembangunan. ”Asalkan kami diajak bicara. Selain itu, ditunjuk juga tim appraisal independen untuk mengetahui berapa nilai yang kami dapatkan,” ujarnya.

Sugiman berharap proses ganti untung nantinya sesuai dengan keadaan masyarakat yang ada. Jika memang harus pindah, ia minta tidak mengacu pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang jumlahnya sangat murah sekali. ”Dari empat rumah, hanya dihargai Rp 30 juta. Padahal untuk bangun saat ini Rp 1 miliar saja tidak cukup,” akunya.

Menanggapi permintaan warga, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan bahwa reaktivasi jalur kereta Stasiun Tawang ke Pelabuhan Tanjung Emas ini merupakan program nasional yang harus didukung warga. Kendati demikian, ia akan memastikan bahwa proyek tersebut tidak akan menyengsarakan warga yang akan terkena proyek. ”Saya minta warga untuk tidak resah dengan rencana tersebut, karena proses ini masih butuh waktu yang dikomunikasikan dengan warga,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil rapat dengan PT KAI, Hendi membenarkan bahwa yang bersangkutan menginginkan melakukan pembuatan rel baru sebagai jalan pintas (shortcut). Hal itu dengan pertimbangan untuk efisensi nilai konstruksi dan menyingkat perjalanan dari jalur awal sepanjang 2,9 km menjadi hanya 400 meter. Akibatnya, sebagian pembangunan akan melewati permukiman warga.

”Yang jelas, kami minta konsepnya bukan penggusuran akan tetapi ganti untung. Yang sudah memiliki sertifikat harus diganti sesuai peraturan yang ada. Sementara yang belum (punya sertifikat) juga harus diganti bangunannya,” katanya seraya mengaku masih menunggu tim appraisal dari pemerintah pusat. (Bj05)