Home News Update RDRM Siap Dampingi Siswa Dikeluarkan dari SMAN 1 Semarang

RDRM Siap Dampingi Siswa Dikeluarkan dari SMAN 1 Semarang

4241
Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu dan Kepala Dinas Pendidikan Bunyamin mengklarifikasi insident 'tawuran' siswa SD di Semarang.

Semarang, 28/2 (BeritaJateng.net) – Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) Kota Semarang siap memberikan pendampingan kepada dua siswa yang dikeluarkan dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Semarang karena dugaan kekerasan terhadap junior.

“Pemerintah Kota Semarang kan memiliki RDRM. Kami sudah `follow up` kepada pengelola RDRM untuk menawarkan pendampingan, baik kepada sekolah maupun anaknya,” kata Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu di Semarang.

Sebagaimana diwartakan, SMAN 1 Semarang mengeluarkan dua siswa, yakni AN dan AF karena dugaan kekerasan yang dilakukan terhadap juniornya saat kegiatan latihan dasar kepemimpinan (LDK) yang ditangani oleh pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Tak hanya mengeluarkan dua siswa itu, salah satu sekolah favorit di Semarang itu juga memberikan sanksi skorsing kepada sembilan siswa yang juga pengurus OSIS SMAN 1 Semarang yang menangani kegiatan LDK pada November 2017 itu.

Ita, sapaan akrab Hevearita yang juga alumni SMAN 1 Semarang mengatakan bahwa RDRM memiliki banyak program, seperti pembinaan “empatik leadership” untuk konselor teman sebaya bagi OSIS, hingga program anti-“bullying”.

Namun, kata dia, program tersebut hanya berjalan di tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP), sebab jenjang SMA sederajat sudah menjadi kewenangan pemerintah provinsi, bukan pemerintah kota lagi.

“Sebenarnya, kami pengen membantu sampai permasalahan selesai, tetapi domain SMA kan ada di bawah Pemprov Jawa Tengah. Program anti-bullying` sudah mulai jalan di SD dan SMP, untuk SMA harus `kulonuwun` dulu ke provinsi,” katanya.

Mengenai dikeluarkannya dua siswa oleh sekolah karena dugaan “bullying” tersebut, Ita mengaku sudah pasti kekerasan tidak boleh dilakukan, tetapi sejauh ini belum mengetahui secara detail bagaimana permasalahan yang sebenarnya.

“Dulu, kami dalam orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek), dan sebagainya enggak ada kekerasan. Tetapi, kami juga tidak tahu bagaimana permasalahan yang sebenarnya terjadi sampai dua siswa itu dikeluarkan oleh sekolah,” katanya.

Hanya saja, diakuinya, masa SMA memang memberikan tuntutan dan beban yang lebih berat bagi pelajar, termasuk beban pelajaran ketimbang jenjang pendidikan sebelumnya, apalagi pada usia puber yang sangat membutuhkan pendampingan.

“Sekarang ini, pengaruhnya banyak sekali dari `game`, media sosial, banyak lagi. Dulu kan enggak ada, zaman saya mau lihat televisi harus nunggu sampai jam 6 (pukul 18.00 WIB). Itupun, hitam-putih. Tayangannya ketoprak dan bahasa Inggris,” katanya.

Yang dihadapi generasi muda saat ini, kata Ita, sangat beragam, termasuk “game online” yang secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan pengaruh negatif, antara lain kecanduan “game”, hingga meniru kekerasan.

“Itulah perlunya dilakukan pengawasan, tidak hanya sekolah. Orang tua juga bertanggung jawab dalam mengawasi anaknya, batasilah main `game`, dan sebagainya. Kesadaran orang tua penting untuk mengawasi putra-putrinya,” katanya. (El)