Home Kesehatan Ratusan Siswa Ikut Kampanye Generasi Bebas HIV AIDS

Ratusan Siswa Ikut Kampanye Generasi Bebas HIV AIDS

391
0
Ratusan Siswa Ikut Kampanye Generasi Bebas HIV AIDS
      SEMARANG, 23/11 (BeritaJateng.net) –  Ratusan anak Sekolah Dasar (SD) di Kota Semarang mengikuti Kampanye Kilau Generasi Bebas HIV dan Aids yang digelar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Kota Semarang.
       Dalam kampanye tersebut, para siswa SD diberi sosialisasi dan edukasi tentang bahaya, cara penularan, penanggulangan dan cara mencegah penyakit HIV Aids. Tidak hanya anak, kampanye tersebut juga diharapkan memberikan pemahaman kepada orang tua dan para pemangku kepentingan di daerah.
         Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi pada Kementerian PPPA, Dermawan mengatakan, digelarnya kampanye tersebut karena Jawa Tengah merupakan provinsi yang kasus HIV dan Aids sangat tinggi. Bahkan Jawa Tengah menduduki peringkat keempat setelah DKI Jakarta, Jawa Timur dan Papua.
        “Dari data yang kami kumpulkan di Direktorat PLP Kemenkes, Jateng tertinggi ke empat untuk jumlah kasus HIV Aids, jumlahnya ada 19.272 pengidap HIV. Nomor 4 se-Indonesia setelah Papua,” kata Dermawan.
        Ia menuturkan, digandengkan ratusan anak SD tersebut karena mereka merupakan generasi penerus bangsa. Melalui kampanye digelar, nantinya anak-anak diharapkan menjadi pelopor dan pelapor.
         “Mereka kita perankan sebagai agen perubahan, dengan peran 2P yakni pelopor dan pelapor. Makanya kita gandeng anak-anak ini karena mereka sebagai generasi penerus dari bangsa ini,” ujarnya.
        Sebagai agen perubahan, katanya, anak-anak ke depannya akan menginformasikan kepada teman-temannya dan lingkungannya bahwa mulai sekarang harus mempunyai komitmen dalam pencegahan sedini mungkin terhadap penyebaran HIV Aids.
       “HIV Aids itu tidak mungkin berkurang, karena begitu orang kena HIV itu pasti Aids. Makanya bagaimana kita lakukan pencegahan sedini mungkin melalui penjelasan bagaimana penularannya dan penanggulangannya,” jelasnya.
        Di samping itu, lanjutnya, juga melakukan perlindungan terhadap anak yang sudah mengidap penyakit berbahaya itu agar mereka tidak didiskriminasi dan tidak terstigma. Dengan demikian, hak untuk pendidikan dan bermain tetap diperoleh anak yang terkena penyakit HIV Aids.
         Ia mengungkapkan, jumlah anak penderita HIV Aids di Indonesia cukup tinggi. Hingga 2018 ini ada 17.000 anak terkena penyakit tersebut. Belum ditambah jumlah penderita dari usia lainnya. Untuk itu perlu edukasi kepada semua lapisan masyarakat bahwa penularan HIV Aids bisa melalui tiga cara yaitu darah, percampuran cairan dan air susu.
        “Yang menjadi persoalan sekarang muncul anak penderita terdiskriminasi. Contohnya kasus Tulungagung, anak mengidap itu dikeluarkan dari sekolah. Terakhir itu di Samosir ada tiga anak. kalaupun ada jaminan dari Bupati, tapi tetap di lingkungannya dia dikucilkan, sekolah dia diberhentikan,” paparnya. (El)