Home News Update Ratusan Nelayan Tidak Melaut Akibat Angin

Ratusan Nelayan Tidak Melaut Akibat Angin

Ilustrasi
image
Ilustrasi

Mataram, 11/1 (BeritaJateng.net) – Ratusan nelayan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, tidak melaut akibat angin barat kencang yang mulai melanda daerah itu.

Camat Sekarbela Hariadi di Mataram, Minggu mengatakan sekitar 450 nelayan dan buruh nelayan di wilayahnya sejak beberapa hari ini enggan melaut karena faktor musim angin barat.

“Tibanya musim angin barat menyebabkan sebagian nelayan dan buruh nelayan tidak melaut beberapa hari ini,” ujarnya.

Sementara sebagian nelayan tetap melaut, karena memiliki fasilitas perahu yang lebih besar dan tuntutan ekonomi. Tetapi untuk nelayan yang memiliki perahu kecil belum berani melaut, sehingga nelayan menghabiskan waktunya untuk melakukan aktivitas lainnya.

“Kami pun dari aparat kecamatan terus memberikan imbauan kepada nelayan untuk terus wasapada terhadap angin barat, kendati volumennya belum pada puncaknya,” katanya.

Menurut Hariadi, meski sebagian nelayan sudah tidak melaut namun hingga saat ini belum ada bantuan yang diberikan kepada nelayan.

Biasanya, pemerintah akan memberikan bantuan berupa kebutuhan bahan pokok ketika nelayan sudah tidak bisa melaut selama dua minggu atau pada puncak angin barat yang diprediksi terjadi pada bulan Februari.

“Kalau saat ini, sebagian nelayan memang ada yang melaut dan tidak. Bahkan yang tidak pun bisa saja tiba-tiba melaut ketika melihat cuaca memungkin untuk melaut kendati sudah kita larang. Apalagi nelayan lebih paham kondisi cuaca di laut,” katanya.

Sebagai bentuk antisipsi, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram untuk melakukan imbauan dan masyarakat dapat mewaspadai angin barat dan berhati-hati terutama di garis pantai.

“Nelayan diminta segera menghubungi kepala lingkungan dan lurah apabila air sudah naik ke garis pantai,” katanya.

Hal itu dimaksudkan, agar aparat segera melakukan langkah-langkah antisipasi seperti melakukan evakuasi warga ke lokasi yang lebih aman. Misalnya di masjid, mushala atau dengan membangunkan tenda darurat.

Selain itu, pembuatan tanggul-tanggul darurat baik dengan menggunakan karung, maupun bambu.

“Khusus di Kecamatan Sekarbela terdapat dua titik rawan gelombang pasang yakni di Lingkungan Bagek Kembar dan Bangsal, sehingga petugas kita aktif melakukan kontrol terhadap ketinggian gelombang,” katanya. (Ant/BJ)