Home News Update Ratusan Nelayan Menganggur Setiap Musim Paceklik

Ratusan Nelayan Menganggur Setiap Musim Paceklik

nelayan

Cianjur, 7/2 (BeritaJateng.net)- Setiap musim paceklik atau cuaca esktrem tiba, ratusan nelayan di pantai selatan Cianjur, Jabar, hanya bisa mendaratkan perahu mereka dan menganggur karena tidak memiliki keahlian lain selain melaut, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari mereka terpaksa menghutang.

Rahmat (54) seorang nelayan dari 640 orang nelayan yang tercatat di Pantai Jayanti, Sabtu, menuturkan, selama ini setiap musim paceklik disertai cuaca ekstrem tiba, ratusan nelayan di pantai selatan itu, dipastikan menganggur karena tidak berani melaut akibat ombak tinggi dibagian tengah dan tepi laut yang dapatmengancam keselamatan.

Setiap musim itu datang, tutur dia, hanya beberapa orang nelayan saja yang berani melaut dengan jarak beberapa ratus meter dari bibir pantai dengan hasil tangkapan yang hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

“Kami nelayan di pantai selatan ini, hanya memiliki keahlian melaut. Kalaupun ada keahlian lain hanya buruh tani atau kuli bangunan yang pendapatannya hanya cukup untuk makan. Selama ini kami berharap mendapat pelatihan dari pemerintah apapun bentuknya, kami juga ingin belajar,” katanya.

Karena tidak memiliki keahlian lain selain melaut, tutur dia, banyak nelayan selama musim paceklik terlilit hutang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga yang terus melambung tinggi. Sehingga mereka berharap dari pemerintah adanya kemudahan dan subsidi khusus bagi nelayan khususnya untuk mendapatkan BBM murah dari koperasi yang belum pernah terwujud.

Keberadaan koperasi nelayan itu, ungkap dia, layaknya koperasi untuk petani, dimana pemerintah bisa memfasilitasi kebutuhan nelayan termasuk didalamnya koperasi simpan pinjam, dimana ketika musim paceklik dan cuaca ekstrem, mereka tidak lagi terlilit hutang.

“Wilayah selatan ini sering mendapat kunjungan dari aparat pemerintah baik daerah, propinsi dan pusat. Namun selama itu pula tidak pernah ada solusi bagi kami ketika musim paceklik tiba. Harapan kami Mentri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti dapat memberikan solusi tersebut,” katanya.

Berhenti melaut bukan hanya dialami nelayan ketika musim paceklik atau cuaca eksrem seperti saat ini, ketika harga BBM melambung beberapa waktu lalu, sempat membuat nelayan terpaksa melakukan hal yang sama. Namun penyebab utama di wilayah pantai selatan bukan karena kenaikan harga BBM, tapi kesulitan mendapatkan pasokan BBM untuk mesin perahu.

“Selama ini sebelum harga BBM naik, kami sudah mahal membeli solar atau premium karena sulitnya mendapatkan pasokan. Membeli langsung ke SPBU, kami tidak memiliki surat keterangan usaha dari pemerintah, terpaksa titip-titip ke supir atau kelompok diluar nelayan,” kata Hadi (46) nelayan lainnya.

Dia pun berharap pemerintah dapat membantu nelayan mendapatkan BBM dengan mudah meskipun harus sesuai dengan harga non subsidi karena selama ini sulitnya mendapatkan BBM sama sulitnya dengan musim paceklik dan cuaca ekstrem.”Kalau tidak SPBU khusus, kami berharap ada solusi lain apakah itu koperasi atau lainnya,” kata dia.

Sementara itu, Ketua DPRD Cianjur, Yadi Mulyadi, berencana akan melakukan kordinasi dengan dinas terkait di Pemkab Cianjur, untuk mencari solusi bagi nelayan di pantai selatan Cianjur, terutama ketika menghadapi musim paceklik dan cuaca ekstrem serta kesulitan mendapatkan BBM untuk melaut.

“Memang cukup sulit untuk mencari solusi ketika nelayan tidak bisa melaut karena cuaca ekstrem atau paceklik, namun kami akan berkordinasi dengan sejumlah dinas, untuk memberikan pembinaan dengan melakukan pelatihan keterampilan, menurut saya akan membuahkan hasil positif,” katanya.

Dalam pelatihan tersebut, para nelayan di kawasan itu, dapat diberikan keahlian lain diluar pekerjaan pokok sehari-hari melaut, seperti keterampilan bertukang, bertani, bengkel atau membuka usaha olahan baik ikan atau hasil bumi lainnya.

“Kami banyak mendapat keluhan nelayan selama ini, mereka sebagian besar tidak memiliki keahlian lain selain melaut. Untuk itu, kami akan berkordinasi dengan pemkab untuk memberikan pelatihan bagi nelayan tersebut, sehingga ketika musim paceklik dan cuaca ektrem mereka memiliki penghasilan lain, tidka perlu serabutan,” katanya.

Selain itu, Pemkab Cianjur, berencana akan membangun pelabuhan dan Tempat Pelelangan Ikan di Pantai Jayanti, serta membangun tembok pemecah ombak disejumlah pantai yang selama ini menjadi daerah tujuan wisata bahari di wilayah selatan, guna meningkatkan roda perekonomian di wilayah tersebut.

Dimana ungkap Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Cianjur, Dadan Harmilan, pembangunan tersebut akan didanai pemerintah pusat pada anggaran 2015.”Pemkab Cianjur, selama ini tidak tinggal diam atas keluhan nelayan di selatan. Kami akan terus meningkatkan pelayan terhadap nelayan,” katanya.

Sedangkan terkait keluhan nelayan tersebut, pihaknya akan berkordinasi dengan dinas terkait untuk membuatkan program pembinaan bagi nelayan agar tetap memiliki usaha ketika tidak bisa melaut karena berbagai hal.

“Pembinaan ini akan ditangani dinas terkait, kalaupun ada program dari nelayan silahkan berkordinasi dengan dinas terkait atau melalui anggota dewan,” katanya. (ant/BJ)

1 COMMENT

Comments are closed.