Home Lintas Jateng Ratusan Meter Tanggul Sungai di Kudus Mengkhawatirkan

Ratusan Meter Tanggul Sungai di Kudus Mengkhawatirkan

image
Ilustrasi

Kudus, 3/12 (Beritajateng.net) – Ratusan meter tanggul sungai yang tersebar di lima sungai di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dalam kondisi mengkhawatirkan dan perlu perbaikan segera agar tidak menimbulkan dampak banjir.

“Panjang tanggul yang kondisinya mengkhawatirkan tersebut bervariasi, karena ada yang panjangnya hanya 5 meter dan 50 meter,” Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Serang Lusi Juwana (BPSDA Seluna) Noviyanto melalui Kepala Seksi Pengendalian dan Daya Guna (Dalguna) Sumaji di Kudus, Rabu.

Awalnya, kata dia, total tanggul yang kondisinya mengkhawatirkan mencapai 35 titik yang tersebar di beberapa sungai.

Akan tetapi, lanjut dia, sebagian di antaranya sudah dilakukan perbaikan oleh Pemerintah Provinsi Jateng serta ada pula yang diperbaiki oleh Pemkab Kudus.

Ia mengatakan, tanggul yang kondisinya mengkhawatirkan tersebut, di antaranya ada yang mengalami longsor, retak dan ambrol yang tersebar di lima sungai.

Kelima sungai tersebut, yakni Sungai Piji, Dawe, Kali Gelis, Logung, dan Wulan.

Kondisi tanggul yang mengkhawatirkan, katanya, tentu dilakukan penanganan darurat.

Untuk antisipasi banjir yang disebabkan karena tanggul rusak atau jebol, lanjut dia, sudah disiapkan karung plastik sebanyak 31.000 karung.

“Kami juga memiliki tiga perahu yang bisa dioperasikan ketika terjadi banjir untuk evakuasi,” ujarnya.

Ia berharap, masyarakat ikut memantau kondisi tanggul di daerahnya masing-masing guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sebelumnya, kata dia, ancaman banjir berasal dari daerah selatan, seperti dari Sungai Lusi, kini ancaman bencana alam tersebut justru datang dari kawasan Pegunungan Muria.

Hal itu, lanjut dia, disebabkan karena kondisi daerah aliran sungai di kawasan pegunungan mulai kritis dan pohon yang sebelumnya ada, kini banyak yang ditebang.

Akibatnya, lanjut dia, ketika turun hujan airnya tidak terserap ke dalam tanah, melainkan langsung turun ke dataran lebih rendah.

“Hal itu bisa berdampak terjadinya banjir meskipun saluran sudah diperbaiki dan dilakukan normalisasi tentunya ketika debit airnya melebihi kapasitas sungai dan bisa mengakibatkan banjir,” ujarnya.(ant/pj)

Advertisements