Home News Update Ratusan Guru Sekolah Dasar Semarang Belajar Low Vision

Ratusan Guru Sekolah Dasar Semarang Belajar Low Vision

Ratusan guru Sekolah Dasar ikuti pembelajaran deteksi Low Division
Ratusan guru Sekolah Dasar ikuti pembelajaran deteksi Low Division
Ratusan guru di Semarang

Semarang, 16/10 (BeritaJateng.net) – Memperingati hari penglihatan sedunia, para guru sekolah dasar dari berbagai sekolah di Kota Semarang berkesempatan mengikuti Seminar Deteksi Dini dan Penanganan Gangguan Penglihatan Low Vision. Seminar tersebut diselenggarakan oleh Balai Kesehatan Indera Masyarakat Provinsi (BKIM) Jawa Tengah bertempat di Aula Wijaya Kusuma Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

Sesuai dengan tema hari penglihatan sedunia tahun yang jatuh pada tanggal 8 Oktober 2015 yaitu eye care for all, sebanyak 100 guru SD tersebut diberikan pelatihan deteksi dini bagi siswa-siswa SD yang berpotensi mengalami low vision.

Low vision sendiri adalah daya tajam penglihatan yang sangat rendah, namun masih potensial untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. Anak- anak dengan low vision  adalah kelompok yang perlu mendapat perhatian dan perlu dilakukan intervensi agar tidak berlanjut dan tidak menjadi tuna netra.

Kelainan mata low vision pada anak-anak perlu diwaspadai para orang tua. Anak yang mengalami kelainan mata seperti itu akan sangat mengganggu proses pembelajaran dan berakibat pada penurunan prestasi.

Berkaitan dengan low vision maka identifikasi dan penemuan kasus termasuk screening pada anak sekolah merupakan upaya yang harus dilakukan. Bila terlambat ditangani, anak penderita low vision akan kehilangan penglihatannya. Sebaliknya bila segera ditangani, yang berpotensi menjadi penderita bisa selamat. Yang sudah menjadi penderitapun , sisa sisa daya tajam penglihatannya bisa dipertahankan.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr. Yulianto Prabowo, M.Kes,  menyampaikan bahwa peran guru Usaha kesehatan sekolah sangat strategis dalam memberikan pemahaman dan pembelajaran hidup sehat.

Harapan beliau agar peserta dapat melakukan deteksi dini gangguan penglihatan Low Vision kepada para anak didik di sekolah masing masing dan adanya  dukungan serta kerjasama antara guru, orang tua dan dokter mata dalam penanganan Low Vision agar tidak berlanjut dan menjadi tunanetra. Narasumber pada seminar ini adalah dr. Meiyana Handarina, Sp.M (BKIM Provinsi Jawa Tengah) dan Pertuni (Persatuan tuna netra Indonesia) Yogyakarta.

Lebih lanjut dr Meiyana Handarina, Sp.M menjelaskan penyandang gangguan low vision ini biasanya menampakkan beberapa gejala, antara lain membaca atau menulis dalam jarak yang sangat dekat. Gejala lain, mata penderita terlihat berbeda dari normal. Orang tersebut biasanya tidak menatap lurus ke depan, sulit melihat pada malam hari.

Dia juga sering memicingkan mata atau mengerutkan kening setiap melihat cahaya terang atau saat berusaha melihat sesuatu yang terletak agak jauh. Disamping ceramah, para peserta juga mendapat simulasi cara mendeteksi low vision pada anak dengan menggunakan alat peraga yang mudah dipahami dan dapat dipergunakan oleh para guru nantinya kepada anak didiknya di sekolah. (Bj)