Home Headline Radikalisme Ancam Keutuhan NKRI

Radikalisme Ancam Keutuhan NKRI

1168

SEMARANG, 14/12 (Beritajateng.net) – Paham Radikal sebagian besar menyasar pada pemuda. Karena pemuda memiliki idealisme yang sangat tinggi sehingga paham radikal atau yang dikenal dengan radikalisme mudah mempengaruhi diri pemuda.

Imron Hadi, Konsultan Pendamping Desa Provinsi Jawa Tengah mengungkapkan hal tersebut dalam pelatihan pemuda pelopor di Masjid Baitul Atiq Cabean Semarang Barat, kemarin. Kegiatan tersebut mengusung tema Membangun Kepeloporan dan Patriotisme Pemuda Dalam Menangkal Radikalisme.

“Kalau melihat pada para pelaku radikalisme itu rata-rata dari kalangan pemuda. Karena memang dari kalangan pemuda ini lebih identik dengan idealisme. Di sinilah persoalan yang terjadi, saat semangat belajar tinggi kemudian didoktrin dengan mengaitkan segala sesuatunya dengan agama. Ini akan menjadi sel-sel radikalisme agama yang mengancam keutuhan bangsa dan negara.” ungkapnya.

Menurut Imron, sebenarnya radikal sebagai teori berfikir dan istilah ini berubah ketika menjadi radikalis dan radikalisme.

“Radikal itu sebenarnya berfikir sampai ke akar-akarnya. Jadi pemuda memang harus mampu menganalisa sesuatu sampai jelas. Akan tetapi istilah radikalisme itu mengarah pada paham yang identik dengan kekerasan. Hari ini, ada orang islam yang melakukan tindakan dengan kekerasan, maka disebut sebagai radikalis.” terangnya.

Sementara itu Mantan Ketua PKC PMII Jawa Tengah Mahbub Zaki mengatakan, persoalan radikalisme lebih berakar pada persoalan ekonomi dan penguasaan teknologi Serta informasi.

“Saat Presiden Amerika menandatangani deklarasi ibukota Palestina, bangsa kita banyak berharap Saudi yang menyerang Trump, akan tetapi faktanya justru mendukung. Ini motifnya lebih ke arah ekonomi. Bukan persoalan ideologi. Apalagi ideologi keagamaan,” katanya.

Boby, sapaan akrab Mahbub Zaki, menegaskan agar generasi muda Islam Indonesia harus bisa menguasai teknologi dan informasi. Dengan menguasai bidang ini pemuda bisa menguasai dunia.

“Kalau di masa dulu, pemegang modal adalah pemilik kapital terbesar. Akan tetapi saat ini penguasa teknologi dan informasi itulah pemilik modal sesungguhnya. Kita bisa lihat bagaimana Go-Jek, Grab dan sejenisnya berkembang menjadi pengusaha tanpa modal. Untuk itu penguasaan teknologi dan informasi itu penting untuk pertandingan ideologi,” tegasnya.

Pelatihan Pemuda Pelopor diikuti oleh 50 peserta pemuda dari unsur mahasiswa dan pemuda masjid. Kegiatan yang dipaksanakan di Semarang ini merupakan rangkaian kegiatan serupa yang sebelumnya dilaksanakan di Kabupaten Magelang dan Pekalongan.

(NK)