Home Hiburan Puisi Koruki, Untuk Aksi Literasi Kota Wali

Puisi Koruki, Untuk Aksi Literasi Kota Wali

55
0
Bupati Demak M. Natsir menunjukkan buku puisi "Di balik jendela koruki" dihadapan penulisnya Kusfitria Martyasih.

“Ayah, akan aku ciptakan
monster-monster kecil
yang akan membuatmu tertawa
begitu mereka memporak-porandakan mayapada

Aku akan ciptakan juga
benteng neraka
supaya kau terus mendekapku
Agar tak menerobosnya”

Demak, 16/9 (BeritaJateng.net) – itulah penggalan puisi berjudul Ayah, salah satu kumpulan puisi Di balik jendela koruki karya Kusfitria Martyasih (35), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Dukuh Gebyok RT 04 RW 02, Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah.

Buku puisi setebal 76 halaman tersebut, menghiasi stand milik UPTD Karangtengah dalam gelaran pameran Aksi dan Apresiasi Literasi, Gerakan Indonesia Membaca yang berlangsung di lapangan Pancasila, Demak, Sabtu (16/9/2017).

Melalui bukunya itu, Bunda Pipiet sapaan akrab wanita yang juga pelaksana teknis di UPTD Kecamatan Karangtengah itu, ingin berbicara tentang keluarga, perempuan, kritik sosial dan tuhan.

“Puisi itu bahasa hati. Alhamdulillah, pada acara ini, bisa mempersembahkan karya saya untuk sesama. Semoga kumpulan puisi ini makin memperkaya literatur asli anak bangsa. ” kata Kusfitria.

Dalam pesan endorsenya, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mengatakan bahwa, buku di balik jendela koruki memberikan sinyal suasana yg ada dalam diri penyair dan keluarganya. Ada gelora cinta kasih dan budi pekerti di dalamnya, seperti pada puisi Ayah.

Pembaca akan diajak menjelajah suasana kebatinan dari satu keluarga yang punya cerita unik.

Sepertinya sang penyair sedang blak blakan memuncratkan ingatan – ingatan masa lalunya, memvisualkan penghilatan mata hatinya ketika melihat persoalan, keindahan maupun protesnya. Namun ada juga rasa spiritual yang selalu diselipkan dalam inti ceritanya.

“Semoga dengan membaca puisi – puisi Di Balik Jendela Koruki ini ada rasa yang bisa dibagi untuk dicicipi, monggo,” tulis Ganjar.

Selain hasil karya berupa buku kumpulan puisi dan buku pelajaran karya guru, stand UPTD Karangtengah juga memamerkan buku kuno berjudul De Javaansche Geestenwereld. Buku yang sudah sobek di sana sini tersebut milik Supriyo, Kepala SDN Dukun Demak.

Buku berbahasa belanda itu berisi semual hal “Ngelmu Jawa” (Ilmu Jawa), mulai dari ilmu petung (ilmu hitung) hingga ilmu perang.

Buku cetakan tahun 1757 itu mengungkap fakta bahwa sejak zaman dahulu kala orang Belanda sangat menyukai Jawa.

Afida Aspar, Bidang Pendidikan Non Formal, Dinas Pendidikan dan Budaya , Kabupaten Demak, mengapresiasi buku kumpulan puisi Cerita Dibalik Jendela Koruki yang merupakan karya warga Demak. Buku itu sebagai bukti bahwa literasi yang didengungkan pemerintah Kabupaten Demak berhasil.

“Bagus sekali. Buku itu bentuk karya seni. Dan karya seni melatih kepekaan. Adanya buku itu bisa melatih generasi muda untuk menulis. Literasi itu, endingnya bisa menulis bahasa lisan dan tulis,” kata Afida yang juga Ketua Panitia Aksi dan Apresiasi Literasi, Gerakan Indonesia Membaca Kabupaten Demak.

Menurut Afrida, pada perayaan literasi tahun ini, Demak menggelar pameran untuk menampilkan hasil kreasi dan inovasinya yang diperoleh dari membaca buku.

Selain pameran literasi yang diikuti oleh 14 stand UPTD Dikbud, juga stand FKPKBM dan LKP, MKKS SMP, MKKS SMA, MKKS SMK, stand penerbit buku serta mobil perpustakaan keliling.

Kegiatan aksi dan apresiasi literasi ini juga dimeriahkan dengan berbagai macam lomba, diantaranya lomba bercerita gambar, baca puisi, majalah dinding, menulis karya ilmiah dan kreasi buku bacaan TBM.

“Literasi itu penting, untuk menambah wawasan, ketrampilan, berhitung, menulis dan budaya,” ujarnya.

“Kita dorong masyarakat untuk berpartispasi aktif menggelorakan semangat gerakan literasi di Demak, minimal budaya membaca di lingkungan keluarga,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Demak M. Natsir, mengatakan, butuh komitmen bersama agar ikon Demak sebagai kabupaten literasi terlaksana. Upaya nyata yang harus dilakukan dengan menanamkan budaya literasi masyarakat, mengingat kesadaran membaca di masyarakat masih rendah.

“Mari kita awali budaya membaca dari lingkungan keluarga. Beri contoh teladan pada anak – anak kita, sehingga membaca menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Jadikan membaca itu tradisi dan kebutuhan,” tandas bupati. (BJ/EL)