Home Lintas Jateng Psikolog: Budaya Kekerasan Di Akademi Harus Dihapuskan

Psikolog: Budaya Kekerasan Di Akademi Harus Dihapuskan

79
0

Semarang, 21/5 (BeritaJateng.net) – Psikolog Rumah Sakit (RS) St Elisabeth Semarang Probowatie Tjondronegoro menegaskan mata rantai kekerasan yang berpotensi terjadi di sekolah berasrama harus diputus.

“Kekerasan cenderung berpotensi terjadi di sekolah berasrama. Di mana pun sekolahnya. Sebab, ada unsur senioritas-junioritas, ada semangat jiwa korsa, dan sebagainya,” katanya di Semarang, Jawa Tengah.

Hal tersebut diungkapkannya menanggapi kembali terjadinya kasus kekerasan yang terjadi di sekolah berasrama yang diduga dilakukan seniornya dan menyebabkan junior yang menjadi korban tewas.

Kali ini, terjadi di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang yang mengakibatkan Brigadir Dua Taruna Mohammad Adam, taruna tingkat II tewas ketika apel pembinaan oleh seniornya, di luar kegiatan resmi sekolah.

Menurut Probowatie, nuansa senioritas-junioritas yang kental di sekolah berasrama harus diawasi karena pada banyak kasus junior yang menjadi korban penganiayaan oleh kakak kelas atau seniornya.

“Pasien saya banyak yang seperti ini. Namun, korban ini tidak bakal mengaku sudah diapain saja oleh seniornya. Apa kamu dipukul? di-bully? Jawabannya, pasti `Siap, tidak!” ungkapnya.

Sebab, kata dia, siswa-siswa sekolah model asrama ini terikat dan sangat mematuhi aturan main yang berlaku di sekolahnya, seperti mereka dihukum karena bersalah, dan sebagainya.

Persoalannya, kata Probowatie, jika kemudian model hukuman disalah-artikan dengan kekerasan maka akan salah dipahami oleh mereka yang berlangsung secara terus menerus lintas generasi.

“Ini diperkuat dengan semangat jiwa korsa. Saya nilai jiwa korsa itu baik. Namun, akan sangat fatal jika disalah-artikan. Sebab, `punishment` cenderung diberikan secara kolektif,” katanya.

Ia mengingatkan kekerasan terjadi jika ada keinginan, kesempatan, dan tempat yang berpotensi besar terjadi di sekolah berasrama jika pihak sekolah lengah dalam melakukan pengawasan.

“Ini sudah jadi mata rantai. Saran saya, tata ulang sistem pendidikan di sekolah berasrama. Jangan berikan kesempatan sifat-sifat kekerasan ini muncul di anak-anak didik,” katanya.

Selain itu, kata dia, pengawasan terhadap aktivitas siswa secara lebih ketat harus diberikan sekolah berasrama, terutama dalam kegiatan-kegiatan di luar kegiatan resmi sekolah.

“Kalau (pengawasan, red.) lengah, pasti akan terjadi lagi. Makanya, jangan sampai. Mata rantai kekerasan ini harus diputus, tidak bisa dilakukan secara parsial,” pungkas Probowatie. (Bj)