Home News Update Prosesi Wisuda FEB Undip Diwarnai Aksi Sosial Penggalangan Donasi Korban Asap

Prosesi Wisuda FEB Undip Diwarnai Aksi Sosial Penggalangan Donasi Korban Asap

IMG_20151027_165818

Semarang, 27/10 (BeritaJateng.net) – Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) bekerjasama dengan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro mengadakan aksi penggalangan donasi untuk para korban asap di tengah proses wisuda periode ke-140, di Hotel Patra Jasa Semarang, Selasa (27/10).

Aksi penggalangan donasi dilakukan oleh perwakilan dari para wisudawan kepada para tamu undangan yang hadir. Selanjutnya, dikukuhkan dengan acara simbolisasi penyerahan donasi oleh Dekan FEB Undip kepada PKPU.

Menurut Dekan FEB Undip, Dr. Suharnomo, M.Si menyampaikan di sela-sela sambutannya bahwa aksi penggalangan donasi tersebut merupakan salah satu bentuk ajakan untuk peduli kepada sesama warga Indonesia di tengah hari kegembiraan saat wisuda. Donasi yang berhasil terkumpul sebesar Rp 20.218.900,-

“Mari kita bantu saudara kita yang dilanda bencana asap. Semoga wisudawan yang menyumbang, diberi pekerjaan yang mumpuni,” tutur Suharmono.

Sampai dengan 26 Oktober 2015, PKPU telah melaksanakan aksi, baik di Sumatra dan Kalimantan dengan penerima manfaat 11.979 jiwa meliputi pembagian masker N95, tabung oksigen, alat penjernih udara dan pemeriksaan kesehatan gratis.

Berdasarkan data dari Humas BNPB, bencana asap telah menyebabkan 503.874 jiwa sakit ISPA di 6 provinsi sejak 1 Juli hingga 23 Oktober 2015. Jumlah masing-masing provinsi adalah 80.263 di Riau, 129.229 di Jambi, 101.333 di Sumsel, 43.477 di Kalbar, 52.142 di Kalteng dan 97.430 di Kalsel.

Menurut Kepala Cabang PKPU Semarang, M. Miftahul Surur menyampaikan bahwa sudah lebih dari 43 juta jiwa penduduk terpapar oleh asap dan masih membutuhkan pertolongan dan kepedulian dari warga se-Indonesia.

“Korban karena terpapar asap semakin bertambah, sementara yang kami catat ada 43 juta jiwa dan kemungkinan jumlah penderita yang sebenarnya lebih daripada itu. Karena sebagian masyarakat sakit tidak berobat ke Puskesmas atau rumah sakit. Mereka berobat mandiri sehingga tidak tercatat,” tutur Surur. (BJT01)